Ajaran Agama Islam Dimata Orang Jepang

Selasa, 10 Januari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Para mahasiswa-mahasiswi yang menantikan kedatangan seorang peneliti asal Negeri Sakura, Prof. Hisanori Kato memadati Griya GUSDURian. Melalui karyanya yang berjudul Islam di Mata Orang Jepang, ia menulis serangkaian pengalamannya saat bertemu dengan para tokoh Islam di Indonesia ketika melakukan penelitian tentang Islam dan demokratisasi. Tiga organisasi besar Islam yang ditelitinya ialah NU, Muhammadiyah, dan ICMI.

Profesor yang pernah tinggal di Amerika Serikat ini memiliki ketertarikan untuk meneliti Islam karena di Jepang dan dunia Barat pada umumnya banyak terjadi kesalahpamahan mengenai Islam. Ia ingin memperkenalkan Islam yang benar kepada masyarakat Jepang.

Perjumpaan pertama dengan Gus Dur diawali oleh selembar surat yang dilayangkan ke kantor PBNU Jakarta dari Australia ketika ia menempuh studi S3. Tanpa disangka Gus Dur membalas surat tersebut. Ia menuliskan nomor telepon rumah yang bisa dihubungi langsung. “Saya pun meneleponnya, lalu pergi ke Jakarta, dan bertemu Gus Dur.”

Pertemuan di kantor PBNU membuat ia jatuh cinta pada Gus Dur. Gus Dur menjelaskan tentang demokrasi panjang lebar. Ia sangat ramah dan terbuka. “Saya melangsungkan wawancara selama dua jam. Padahal saat itu sedang banyak tamu di kantor PBNU.” Setelah itu, perjumpaan dengan Gus Dur pun terus berlanjut. Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Ia belajar tentang bagaimana muslim yang baik. Gus Dur adalah sosok yang tepat pada janji. Ia juga tidak pernah melakukan diskriminasi kepada orang lain. Ia tidak memandang orang dari statusnya. Ia pemimpin yang sangat sederhana.

Memaafkan adalah nilai penting dalam Islam

Pertemuannya dengan Bisma Siregar, seorang hakim pada masa Soeharto mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai maaf dan memaafkan. Di tengah masyarakat Indonesia yang membenci Soeharto, Bisma lah yang mengatakan kecintaanya kepada Soeharto. Ini menjadi latar belakang yang menarik baginya untuk mewawancarai Bisma.

“Kenapa Anda mencintai Soeharto?” tanya pria yang pernah tinggal di lima negara itu; Jepang, Amerika, Australia, Indonesia, dan Filipina.

“Saya mencintai Soeharto karena di dalam Islam yang paling penting adalah memaafkan orang lain. Soeharto harus dimaafkan. Siapa yang membiarkan Soeharto berlaku seperti itu? Mungkin ulama, mungkin juga rakyat. Bisma meminta Soeharto untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia,” jelas Bisma dalam cerita Prof. Kato. Namun, apalah daya, permintaan Bisma sama sekali tidak bersambut. Sehingga kebencian pada Soeharto tetap bercokol di hati rakyat Indonesia.

Pria yang memakai kaos polo warna biru ini melihat bahwa bentuk cinta Bisma kepada Soeharto bukanlah satu bentuk persetujuan terhadap apa yang dilakukan Soeharto, namun ia mengingatkan kepada kita bahwa memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan sangat penting.

Ia pun teringat dengan salah satu hadis Nabi yang mengatakan ketika ada seorang perempuan yang mencoba membunuh Nabi Muhammad, tapi perempuan itu dimaafkan oleh Nabi Muhammad. Itulah salah satu contoh memaafkan yang diajarkan oleh Junjungan Muhammad SAW.

Tidak ada paksaan dalam Islam

Prof. Kato melihat jika hanya meneliti tokoh-tokoh muslim moderat maka tidak ada keseimbangan. Maka ia memutuskan untuk mewawancarai organisasi muslim garis keras seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir dan Front Pembela Islam (FPI).

Setelah membuat janji dengan sekretaris Abu Bakar Ba’asyir, Ia pergi ke Pondok Pesantren Ngruki, Solo. Ia mendapatkan sambutan langsung dari Ba’asyir di rumahnya. Proses wawancara pun berlangsung lancar sampai hampir 2 jam, yang sebelumnya hanya mendapatkan ijin dari sekretarisnya sekitar 30 menit untuk wawancara.

Dengan membawa koran berita dari Australia mengenai Ba’asyir, Ia bertanya dan mengonfirmasi apa yang dinyatakan oleh media tersebut. “Pak Ba’asyir, saya menemukan pernyataan Anda seperti ini, jika seorang muslim bertemu dengan seorang kafir di jalan, maka kafir tersebut harus dipukul, benarkah begitu?” tanya Prof Kato.

Wajah Ba’asyir memerah dan berkata, “Kamu siapa? Kamu seorang Jepang yang kafir, apakah saya memukul Anda?” Saat itu, saya tidak dipukul. Saya diperlakukan sangat baik olehnya, ia memberi saya segelas teh.

Lalu pertanyaan berlanjut, “Mengapa Bapak begitu baik kepada saya?”

“Tugas saya sebagai seorang muslim adalah menyampaikan tentang Islam dengan baik. Tujuannya adalah agar Anda masuk Islam. Namun, harus digarisbawahi bahwa saya tidak akan memaksa Anda untuk masuk Islam,” begitu penjelasan Ba’asyir.

Memastikan orang lain selamat

Di Jakarta, ia pun menemui salah seorang anggota FPI. Sebelumnya telah terjadi kasus pembongkaran kafe oleh FPI. Prof. Kato penasaran dengan kasus tersebut. Ia ingin mengetahui kenapa mereka melakukan hal tersebut. Wawancara pun berlangsung di kantor FPI, di Jakarta. Di akhir wawancara, seorang FPI itu bertanya, “Bagaimana Pak Kato pulang?”

Saat itu, Jakarta sudah malam. “Saya pulang memakai bus.”

“Oh jangan memakai bus, berbahaya. Di bus banyak copet,” terangnya.

“Tidak apa-apa. Saya akan memakai bus saja,” jawab Prof. Kato.

“Pakailah ini,  Bapak akan aman jika memakai pin ini. Orang-orang tidak akan berani menyakiti Anda,” ia menyerahkan sebuah pin sebagai tanda identitas FPI.

“Saya pun memakainya di kaos saat itu,” jelasnya sambil tersenyum.

Dari kisah di atas, saya pribadi melihat ada sisi lain di dalam orang-orang yang radikal tersebut. Sisi humanisme yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam. Sebagai seorang muslim, kita harus memastikan bahwa orang akan aman dan selamat di dekat kita. Hidup seorang muslim adalah untuk menebar damai kepada semua makhluk di bumi ini.

Prof. Kato memberikan sebuah ilustrasi untuk memahami Islam. Agama Islam diibaratkan dengan sebuah lingkaran yang besar. Di dalam lingkaran tersebut ada sebuah lingkaran yang agak besar, ini dinamai masyarakat muslim yang sangat terbuka pada kebudayaan. Kemudian ada lingkaran kecil yang memiliki spirit pemurnian yang ingin melakukan praktek Islam seperti Nabi, baik dari segi pakaian atau pun makanan. Ini dinamai dengan masyarakat Islam fundamental. Sebenarnya mereka juga tidak sepakat dengan aksi-aksi radikalisme dan terorisme.

Nah di mana lahirnya radikalisme dan terorisme? Prof. Kato mengidentifikasi bahwa mereka lahir di lingkaran masyarakat muslim yang membentuk lingkaran baru. Menjadi radikal dan teroris adalah bentuk pemaknaan Islam sesuai dengan yang mereka inginkan. Selain itu, keterlibatan orang dalam aksi terorisme dan radikalisme juga dipengaruhi oleh kepentingan politik, ekonomi, dan psikologi.

Dalam acara ini, para mahasiswa disuguhi cerita-cerita menarik yang menurut penulis sendiri, pemaparan dari Prof. Kato ini, seperti dapat memberikan perspektif baru untuk melihat organisasi radikal tertentu. (ISNU)

Sumber: Santrigusdur

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: