Ajaran Nilai-nilai Pluralisme di Komplek Makam Sunan Gunung Jati

Senin, 06 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Cirebon – Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah sosok salah satu wali dari Wali Sembilan (Wali Songo) yang sukses menyebarkan Islam di Indonesia. Hampir seluruh jagat di Indonesia mengenal beliau, Komplek pemakamannya pun selalu ramai dikunjungi peziarah.

Akan tetapi tidak banyak yang tahu, jika terdapat tempat khusus untuk para peziarah dari kalangan non muslim, yaitu di makam salah satu isteri Sunan Gunung Jati, Putri Lie Ong Tien atau Putri Tan Hong Tien Nio yang merupakan anak dari Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Miing.

Tempat tersebut juga ramai saat imlek, dimana warga Tionghoa di Cirebon selalu mengangkat putri Lie Ong Tien dalam drama kolosal. Hal itu menunjukkan begitu menyatunya Islam dan dakwah Sunan Gunung Jati tanpa memandang ras suku bangsa juga agama. Masih dikunjunginya kompleks makam yang berada di Desa Astana oleh orang non muslim juga mengajarkan tentang pluralisme beragama yang menjadi keniscayaan di Indonesia.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU H Helmy Faisal Zaini membenarkan warisan dakwah merangkul tanpa memukul, mangajak tanpa mengejek yang diajarkan para wali harus dijaga dan diteruskan oleh generasi saat ini.

Ditambahkan, ternyata dakwah ala Sunan Gunung Jati dan waliyullah yang lainnya dilakukan dengan cara yang damai, menyatu melalui budaya, dengan cara yang ramah bukan dengan marah, mengajak bukan mengejek serta menghargai perbedaan.

“Kami melihat langsung bagaimana, Ummat Budha Tionghoa, Kunghucu boleh berziarah di tempat khusus yang disebut pecinan, sementara ummat muslim di tempat Pesujudan Sunan Gunung Jati dan yang lainnya,” ujar pria yang juga Mantan Menteri PDT RI itu.

Diakuinya, Sunan Gunung Jati setelah meninggalnya pun masih memberkahi pedagang sekitar makam bisa hidup begitupun yang lainnya. “Ini pelajaran buat kita yang masih hidup bagaimana harus memanfaatkan hidup lebih bermanfaat untuk orang lain,” ujarnya, didampingi salah satu Ketua PBNU H Eman Suryaman.   (ISNU)

Sumber: Perisainusantara

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: