Apel Kebangsaan “Lawan Radikalisme dan Tolak Khilafah” oleh GP Ansor Jember

Sabtu, 11 Februari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jember – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak pernah sunyi dari bidikan dan rongrongan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka akan senantiasa berupaya mencerai-beraikan keutuhan Indonesia. Karena itu, Ansor sebagai benteng ulama, tak boleh abai dalam memantau sekaligus merpersiapkan diri dalam menjaga keutuhan NKRI.

Hal itu disampaikan kiai Arifin saat menjadi inspektur dalam “Upacara Apel Kebangsaan” yang digelar PC GP Ansor Jember di alun-alun Jember, Jumat (10/2),

Menurutnya, berdirinya NKRI bukan hal yang gampang, melainkan hasil dari perjuangan berdarah-darah bangsa Indonesia, termasuk para ulama. Oleh karena itu, setiap agenda yang berpotensi menggerus keutuhan NKRI, wajib dilawan. “Ansor sebagai benteng ulama harus berada di garis terdepan untuk mengawal ulama dan NKRI. NKRI adalah hasil perjuangan para ulama sehingga membela keutuhan NKRI itu termasuk jihad fi sabilillah,” tuturnya.

Gus Aab lantas menyinggung adanya gerakan kelompok radikal yang dalam beberapa tahun terakhir begitu keras menyuarakan pentingnya kepemimpinan khilafah di Indonesia.

Dalam pandangan Gus Aab, gerakan tersebut sangat berpotensi mencabik-cabik keutuhan dan kerukunan bangsa Indonesia. Sebab, Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, budaya dan sebagainya. Sehingga jika dipaksakan menjadi negara khilafah, pasti akan timbul perlawanan di internal Indonesia. Dan ujung-ujungnya Indonesia terjebak dalam perang saudara, dan di situlah NKRI tercabik.

“NKRI sudah final. Ini sudah kesepakatan rakyat Indonesia, para tokoh bangsa dan ulama. Tidak boleh dan jangan coba-coba siapa pun mengubah itu (NKRI),” ungkapnya.

Menurut Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Jember itu, gerakan-gerakan mereka untuk mencapai keingiannya cenderung mengacuhkan hal-hal yang bersifat keindonesiaan. Istilahnya, mereka adalah orang  Islam yang tinggal di Indonesia. Sedangkan warga NU adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Sehingga keislaman yang mereka terapkan tak mengindahkan nilai-nilai keindonesiaan.

“Itulah akibat dari sempitnya pemahaman mereka terhadap teks-teks Al-Qur’an. Beda dengan NU. Kita Islam tapi sangat mengakomodasi nilai-nilai dan budaya yang telah mengakar di Indonesia sehingga di manapun warga NU berada, budaya lokal tak akan terusik. Dengan siapa pun bergaul, warga NU aman, karena selalu berpegangan pada trilogi NU, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah,” terangnya.

Apel yang bertema “Lawan Radikalisme, Tolak Khilalfah” tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Jember H Muqit Arif, anggota DPRD Jawa Timur H. Miftahul Ulum, para petinggi Ansor dan NU Jember serta 1000-an anggota Banser. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: