Baayun Mulud, Tradisi Masyarakat Banjar Memperingati Maulid Nabi SAW

Tradisi-Baayun-Mulud-Banjar-Kalsel-640x420

Tradisi Baayun Mulud masyarakat Banjar Kalsel memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW – Foto: Melayu Online

Rabu 23 Desember 2014

BANJARMASIN, ISLAMNUSANTARA.COM – Masyarakat suku Banjar Kalimantan Selatan memiliki tradisi yang unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka menamakannya Baayun Mulud. Di Banjarmasin, Baayun Mulud dipusatkan di halaman Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan salah satu masjid bersejarah di Kota Seribu Sungai sejak era Kerajaan Banjar.

Sebelumnya, Baayun Mulud dilaksanakan di Makam Pangeran Suriansyah. Sejak era kepemimpinan wali kota Muhidin, dipindah ke area Masjid Sultan Suriansyah dengan pertimbangan luas area pelaksanaan. Tak cuma di Banjarmasin, Baayun Mulud juga biasa digelar di sejumlah kota seperti Rantau, Kabupaten Tapin, dan Martapura, Kabupaten Banjar.

Namun sayangnya, jumlah peserta tradisi Baayun Mulud tahun ini berkurang bila dibandingkan sebelumnya dimana jumlahnya yang mencapai 900 orang. Menurut salah satu pengurus Masjid Sultan Suriansyah, tahun ini panitia hanya menyiapkan 250 ayunan.

“Bisa jadi karena kurang promosinya ya. Selain itu baayun maulid sebelumnya dilaksanakan Januari 2015, karena selisih antara penanggalan Islam dan Masehi. Mungkin tahun depan baru ramai lagi,” katanya saat ditemui di sela persiapan Baayun Mulud, Rabu (23/12/2015) pagi.

Baayun Mulud merupakan akulturasi budaya Banjar dari tradisi budaya nenek moyang masyarakat mereka dengan Islam. Mereka membaca selawat untuk kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan Maulid. Tradisi ini digelar tiap tanggal 12 Rabiul Awal penanggalan Islam.

Para hadirin upacara ini diatur tata letaknya, yaitu memadati bagian sisi ayunan. Kaum laki-laki berjajar pada bagian depan ruang utama masjid atau rumah, tepatnya di barisan depan jajaran ayunan. Sedangkan tamu perempuan berada di sisi kiri-kanan dan belakang ayunan.

Sementara itu, semua syarat upacara diletakkan di bawah ayunan. Demikian pula di setiap tiang utama masjid diletakkan piduduk yang ditempatkan pada dua buah piring makan, yakni beras kuning dengan inti kelapa yang diletakkan tepat di tengah-tengahnya.

Setelah semua siap, maka dimulailah acara pembacaan Kitab Maulid Nabi. Naskah syair-syair yang dibacakan tergantung pada keinginan bersama. Prosesi dimulai dengan pembacaan Syair Maulid yang dipimpin oleh seorang Tuan Guru (ulama) dengan diiringi irama tetabuhan rebana. Syair-syair Maulid yang umum dibawakan pada acara Baayun Anak seperti syair Mawlud Barjanzi, Mawlud Syaraf al-Anam, atau Mawlud al-Dayba’i.

Saat syair-syair itu dibacakan, tepatnya ketika akan memasuki kalimat asyraqal, anak yang akan diayun dibawa ke tempat upacara. Setelah batu pipih yang tadi diletakkan di dalam ayunan dikeluarkan, maka barulah anak tersebut dimasukkan ke dalam ayunan. Pada saat yang sama, yakni ketika memasuki kalimat asyraqal, semua hadirin berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad karena saat-saat itulah dipercaya bahwa ruh Nabi Muhammad hadir untuk menebar berkah bagi semua orang yang ada di situ.

Sembari para hadirin berdiri, anak yang berada di dalam ayunan itu mulai diayun-ayunkan secara perlahan-lahan, yakni dengan menarik sehelai selendang yang sebelumnya telah dikaitkan pada pangkal ayunan (Data dari Museum Lambung Mangkurat). Dalam tradisi urang Banjar, dikenal dua macam cara mengayun, yakni mengayun biasa dan mengayun badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan mengayun-ayunka ayunan secara lepas, sedangkan mengayun badundang adalah mengayun dengan cara memegang tali ayunan.

Ketika momen pembacaan kalimat asyraqal berlangsung, ibu si anak yang sedang diayun itu turut khidmat dan ikut melafalkan lantunan kalimat syair sambil mengangkat anaknya ke pangkuan. Pada waktu yang bersamaan, Tuan Guru yang memimpin pembacaan syair berjalan ke arah ibu si anak untuk memberikan tapung tawarkepada si anak.

Tapung tawar adalah tahap prosesi dalam memberi berkat dengan mengusap jidat anak dan memercikannya dengan air khusus yang biasanya disebut dengan air tutungkal. Air ini terdiri dari campuran air, minyak buburih, dan rempah-rempah. Setelah selesai prosesi tapung tawar, para hadirin duduk kembali. Pembacaan doa dilakukan dengan pengulangan sebanyak 7 (tujuh) kali. Setelah tapung tawar, ada sejumlah kalangan tertentu yang melanjutkan upacara ini dengan prosesi naik turun tangga manisan tebuatau acara batumbang,namun ada juga yang langsung ke acara penutup.

Prosesi upacara Baayun Mulud ditutup dengan pembacaan doa yaitu doa Khatam al-Mawlud. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan diakhiri dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang ulama. Setelah semua rangkaian acara dilaksanakan, maka tiba saatnya bagi seluruh hadirin untuk menyantap makanan bersama-sama.

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: