BAHAYA TAKFIRISME! Syaikh Abdul Ghaffar: Jangan Mudah Mengkafirkan

Kamis, 28 Juli 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, PEKALONGAN – Sesi pertama Konferensi Internasional Bela Negara hari kedua di Hotel Santika, Pekalongan, diisi oleh Syaikh Abdul Ghaffar As-Syarif dari Fakultas Syariah dan Dirasat Islamiyah Universitas Kuwait. Beliau menyampaikan makalah tentang Fenomena Takfir (pengkafiran) di dunia kaum muslimin saat ini: (Baca juga: Habaib dan PBNU Sepakat, Perpecahan Umat Bukan Ajaran Nabi dan Islam)

Perlu diketahui, bahwa kufur ada dua jenis. Kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar ialah jenis kekafiran yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka, yakni perilaku kufur yang berlawanan dengan iman. Misalnya; mendustakan Rasulullah, mengingkari perintah Allah sebab kesombongan, meragukan risalah, atau sebab munafik yakni menyatakan keimanan namun hati mendustakan. Sedangkan kufur kecil biasa disebut kufur amali, derajatnya rendah. Pelaku kufur ini mendapatkan ancaman siksa namun tidak menyebabkannya kekal di neraka. (Baca juga: Nadirsyah Hosen Kritik Hadis Khilafah)

Dari dua jenis kekufuran tersebut, kita harus berhati-hati dengan istilah ‘kafir’ (orang yang berperilaku kufur). Seyogyanya kita tidak mengkafirkan seorang muslim karena ucapannya, jika memang masih bisa ditafsirkan dengan penafsiran lain yang lebih baik, atau kekafirannya itu masih bisa diperdebatkan karena ada riwayat lain yang menjadi sandaran meskipun itu lemah. Seorang muslim tidak akan dikeluarkan dari keislamannya serta keimanannya kecuali dia telah mengingkari hal-hal yang memasukkannya ke dalam Islam. (Baca juga: Takfirisme Ancaman Kedaulatan NKRI)

Sementara itu, kita diperintahkan untuk husnudzan kepada sesama muslim dan menafsirkan ucapannya pada penafsiran yang baik. Hukum kekafiran seseorang akan jatuh ketika orang tersebut adalah orang mukallaf yang dalam keadaan sukarela ketika mengeluarkan ucapan atau atau melakukan perbuatan penyebab kekufuran.

Kita harus memahami hadits tentang golongan yang selamat agar kita berusaha cocok dengan sifat-sifat golongan tersebut, bukan untuk menghakimi kelompok lain. Kita juga harus memahami bagaimana tuntunan agama tentang al-Wala wa al-Bara, loyalitas dan berlepas diri. Yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah mengembangkan pemahaman kita terhadap masalah pengkafiran ini, agar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Selain itu juga untuk menebar cinta di antara sesama kaum muslimin. (ISNU)

Sumber: Jatman Event

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: