Belajar Ilmu dari Gus Mus dan Mbah Maimoen

Jum’at, 27 Januari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Rembang – Salah satu pimpinan rombongan Kegiatan Anjangsana Islam Nusantara Pascasarjana STAINU Jakarta KH Abdul Moqsith Ghazali, mendapatkan kesan tersendiri dari kegiatan tersebut. Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU ini mengesankan pertemuannya dengan Gus Mus di Leteh dan KH Maimoen Zubair di Sarang, kedua daerah tersebut berada di Rembang.

“Bersama sejumlah teman NU dari Program Pascasarjana STAINU Jakarta, 25 Januari 2017, saya sowan ke KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang Jawa Tengah,” ujar Kiai Moqsith.

Setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam, Jakarta-Purwakarta-Cirebon-Pekalongan-Kendal, akhirnya sampai juga di Rembang. Tepat jam 12 malam, ketika rumah-rumah di sekitaran kediaman Gus Mus sudah sepi. Orang-orang sudah masuk ke peraduan.Tak ada lalu lalang kendaraan. Sunyi.

Lelah menempuh perjalanan jauh, kami segera bergegas menuju asrama santri Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang, pesantren asuhan beliau. Di situ kami semua istirahat. Suasananya mengingatkan Kiai Moqsith pada saat dulu ketika masih mondok di pesantren.

Baru tidur beberapa jam, adzan subuh sudah berkumandang. Bersama para santri, kami antre menggunakan kamar mandi. Lalu kami shalat subuh.

Habis shalat subuh, kami bergerak menuju maqbarah KH Bisri Mustofa, KH Cholil Bisri, KH Cholil Harun. Kami mengirimkan fatihah dan membaca tahlil untuk beliau-beliau, tak ketinggalan juga membaca fatihah untuk mendiang Nyai Fatma, istri Gus Mus, yang wafat beberapa bulan lalu. Allahummaghfir lahum warhamhum wa ‘afihim wa’fu ‘anhum.

Dari ziarah kubur, kami baru diterima Gus Mus di kediamannya yang “eksotik” itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Tak berselang lama duduk, kami sudah terlibat obrolan dan diskusi intens. Sebagai partner diskusi, Gus Mus memang menyenangkan; rileks dan egaliter. Walau kami tetap tak bisa menyembunyikan keseganan kami terhadap Gus Mus, sosok kiai yang alim dan bersahaja.

Dari Gus Mus, kami menimba kearifan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa dalam kehidupan. Beliau banyak menyampaikan pandangan soal kondisi Indonesia belakangan, mulai dari masalah ke-NU-an dan kepesantrenan hingga soal-soal politik kebangsaan. Seperti umum diketahui, tema-tema berat itu dikemukakan Gus Mus dengan kata-kata sederhana penuh hikmah.

Beliau juga banyak bercerita tentang guru-gurunya, seperti Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai Marzuki Lirboyo, Kiai Ali Maksum Krapyak, Syaikh Abdul Halim Mahmud Mesir. Melalui Gus Mus, kita tersambung ke masa lalu. Melipat waktu, seperti hidup satu generasi dengan guru-guru beliau itu.

Pembicaraan mengalir cukup jauh. Begitu melihat jam tangan, Kiai Moqsith kaget. Ternyata kami menyimak wejangan-wejangan beliau sudah hampir dua jam. Kami harus segera mohon diri.

Sebelum pamitan, kami meminta doa ke Gus Mus dan memohon ijazah amalan untuk keselamatan dunia akhirat. “Sehat selalu Kiai Ahmad Mustofa Bisri. Allah yubarik fikum,” doa Kiai Moqsith. Keluar dari kediaman Gus Mus, kami melanjutkan perjalanan ke KH Maimoen Zubair Sarang, Rembang.

Sowan Mbah Maimoen

Menempuh perjalanan satu jam, kami sampai di Sarang. Setelah menunggu beberapa menit di depan kediaman Mbah Moen, tepat pukul 14.25 WIB, wajah teduh penuh kharisma itu keluar dari rumahnya.

“Ketika bertemu saya tak bisa berkata apa-apa kecuali menciumi tangan beliau yang halus itu. Saya dan beberapa teman tak ada yang berani memulai pembicaraan, hingga kemudian Mbah Moen menanyakan nama-nama kami satu persatu,” jelas Kiai Moqsith.

Kalimat demi kalimat mulai meluncur dari beliau. Kami mencoba merespons sekadarnya. Pembicaraan terus berlangsung. Suasana mulai akrab, terlebih beliau menyelingi pembicaraan dengan humor-humor segar.

Beliau menasihati dan mengajari kami. Bicara banyak hal, menyentuh banyak aspek ilmu pengetahuan. Mulai dari soal keluarga hingga masalah negara. Beliau bicara fiqih, sejarah, tafsir sufi, dan sedikit soal politik. Dalam politik juga, menurut beliau, umat Islam perlu tahu; mana yang fardhu kifayah dan mana yang fardhu’ain.

Walau begitu, tekanan pembicaraan beliau sesungguhnya diarahkan pada soal akidah dan keimanan. “Dalam hidup ini betapa pentingnya kita bersandar pada qadha’ dan qadar Allah,” dawuh beliau.

Tak terasa, di rumah Mbah Moen, kami sudah hampir dua jam. Kami harus segera pamit. Sebelum pamitan, kami mohon doa ke beliau. Perjalanan kemudian berlanjut ke Tuban, ziarah ke kuburan KH Abdullah Faqih di Langitan.

“Semoga Mbah Moen sehat selalu. Athala Allah hayatah,” tutup Kiai Moqsith. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: