Benturan Antar Keyakinan di Indonesia (1) : Wahabisme Ala Indonesia

Sabtu, 11 Juni 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Banyak orang tidak menyadari sesungguhnya ada Wahabisme ala Indonesia. Setidaknya ia telah lahir sejak awal abad ke-20, dan berbenturan dengan Wahabisme yang lahir di Arab Saudi.

Wahabisme Indonesia dinisbatkan kepada KH Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama dengan KH Hasyim Asy’ari.

Boleh jadi karena kelemahan dalam tradisi intelektual di kalangan santri dan pesantren sendiri, mereka tidak tercatat secara tertulis dalam sejarah sebagai perintis ide nasionalisme di awal-awal abad ke-20. Namun, jika menengok naskah deklarasi atau Piagam Nahdlatul Wathon kalangan santri yang bertitel 1916 (Munim DZ, 2014), maka kalangan santri telah mendeklarasikan cinta Tanah Air berhadapan dengan penjajah Belanda untuk menuju kemerdekaan ketika itu. Piagam tersebut tidak lain merupakan reformulasi dan ringkasan dari syair ciptaan KH Wahab Chasbullah jauh sebelumnya yang berjudul “Ya Lal Wathon”, yang artinya “Wahai Bangsa (Indonesia)”.

Beberapa bait dari syair itu perlu dikutip di sini, Ya lal wathon ya lal wathon ya lal wathon/hubbul wathon minal iman/wala takun minal hirman/inhadlu alal wathon (Wahai saudara sebangsa/cinta tanah air adalah bagian dari iman/jangan halangkan nasibmu/bangkitlah hai bangsaku).

Jelaslah bahwa syair itu mendahului deklarasi piagam kebangsaan. Kalangan santri (ketika itu organisasi NU belum berdiri secara resmi) telah memiliki ide tentang nasionalisme Indonesia yang harus diperjuangkan. Ide ini jelas berbeda dengan ide nasionalisme Pan-Arabisme maupun Pan-Islamisme yang berkembang di Timur Tengah (Kahin, 1995), misalnya. Lebih-lebih dengan Wahabisme yang dinisbatkan pada Muhammad Ibn Abdul Wahab (wafat 1206 H/1793 M), pendiri aliran Wahabi di Arab Saudi. Dua tahun sebelumnya, aliran itu menundukkan Hijaz, wilayah Saudi, dan melakukan pembersihan terhadap tradisi Islam yang hidup dan penghancuran terhadap berbagai warisan sejarah Islam dengan alasan pemurnian.

Wahabisme di Arab Saudi bukan saja berbasis pada pemurnian ajaran Islam dengan anti-tradisi dan intelektual, juga menjadi basis gerakan anti-nasionalisme atau kebangsaan modern. Justru berdirinya NU sebagai organisasi secara resmi dipicu oleh gerakan Wahabisme internasional dalam sebuah Kongres Islam internasional tahun 1926 yang diinisiasi oleh Raja Saudi. Kalangan santri tidak diundang dan diikutkan dalam kongres itu karena dianggap bukan bagian dari Islam versi mereka. Hanya kelompok yang dianggap sepaham dengan mereka yang diundang mewakili Islam kawasan Hindia-Belanda.

KH Wahab Chasbullah dengan restu KH Hasyim Asy’ari ketika itu mempelopori protes dengan membentuk Komite Hijaz untuk menemui Raja Saudi, inisiator pertemuan internasional tersebut, dengan tiga tuntutan. Yaitu:

Pertama, tidak menghancurkan makam Nabi Muhammad SAW dan warisan kebudayaan Islam.

Kedua, melindungi amalan agama yang telah menjadi tradisi dan paham klasik yang saat itu menjadi target serangan gerakan Wahabi.

Ketiga, perbaikan pelayanan ibadah haji secara tidak diskriminatif. (ISNU)

Sumber: Harian Kompas, 10 Juni 2016
Penulis: Ahmad Suaedy, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Anggota Ombudsman RI

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: