Benturan Antar Keyakinan di Indonesia (2) : Aswaja dan Nasionalisme

Sabtu, 11 Juni 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Pandangan KH Wahab Chasbullah tentang Islam, nasionalisme, dan dinamika politik internasional itulah yang kemudian jadi basis dan mendasari seluruh dinamika pemikiran dan gerakan NU dalam menghadapi perkembangan dan tantangan sejarah berikutnya. Sebelum lahirnya Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda dan Inggris yang membonceng Sekutu pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, yang mengilhami lahirnya Hari Pahlawan, NU telah mendeklarasikan Hindia-Belanda-yang kemudian jadi wilayah Republik Indonesia-sebagai negara Islam dengan segala tradisi, budaya, dan pluralitasnya pada Muktamar 1935 di Banjarmasin. Sikap ini diulang lagi pada Muktamar 1938 di Menes, Jawa Barat.

Jelaslah bahwa ide nasionalisme dan rekognisi akan eksistensi Indonesia yang bhineka dan plural bagi kalangan NU tak lahir setelah kemerdekaan, tapi jauh sebelumnya. Setidaknya di awal abad ke-20 bersamaan dengan bangkitnya nasionalisme di kelompok-kelompok lain. Dinamika tersebut ternyata bukan hanya mendasari dalam ideologi dan politik, juga dalam teologi.

Sejauh penulis tahu, hanya NU kelompok Islam di seluruh dunia yang mengakomodasi empat mazhab fikih klasik (Maliki, Hanafi, Syafii, dan Hambali) sekaligus, meskipun dalam amalan individu diharuskan untuk memilih salah satu dan menghindari eklektisisme. NU juga mengakomodasi aliran-aliran pemikiran klasik, termasuk di dalamnya tasawuf dan teologi atau tauhid Islam. Basis dari akomodasi ini adalah metodologi Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

Aswaja dalam versi NU adalah sebuah metodologi dan produk intelektual yang memberikan solusi dan mengeluarkan umat Islam dari konflik yang mendalam dan berkepanjangan, dengan melibatkan kekuasaan otoritarian untuk melegitimasi aliran dan paham tertentu dengan cara menindas dan menghabisi paham dan kelompok lain. Abu Hasan Al-Asyari (wafat 324 H/935 M) dan Abu Mansur Al Maturidi (wafat 333 H/944 M) adalah dua intelektual di balik lahirnya metodologi Aswaja tersebut.

Abus Hasan Al Asy’ari yang semula pengikut Mu’tazilah tampil memberikan solusi intelektual dan metodologi baru dengan menghindari legitimasi dari kekuasaan tertentu dan membebaskan dari penindasan. Dan, dalam waktu yang sama, memberikan sanad atau rujukan yang kuat pada Al Quran dan Sunah di bawah kenabian Muhammad SAW. Salah satu ciri Aswaja model ini adalah penghargaan yang tinggi terhadap konteks dan dinamika tradisi di dalam ide maupun praktik Islam serta sumber Islam klasik. Jika bid’ah bagi kalangan puritan seluruhnya dianggap sesat dan diharamkan, maka bagi Aswaja, bidah ada yang dholalah (sesat dan merugikan Islam karena itu haram) dan ada yang hasanah (baik) yang perlu terus dipelihara dan dikembangkan. Dalam hal ini, nasionalisme modern adalah bid’ah hasanah. (ISNU)

Sumber: Harian Kompas, 10 Juni 2016

Penulis: Ahmad Suaedy, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Anggota Ombudsman RI

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: