Benturan Antar Keyakinan di Indonesia (3) : Islam dan Pancasila

Sabtu, 11 Juni 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Dalam argumen penerimaan Pancasila sebagai asas NU, 1984, Rois Am PBNU KH Ahmad Siddiq menyatakan, pengakuan Indonesia sebagai negara kesatuan dan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia oleh NU adalah tanpa syarat dan didasarkan pada teologi yang jadi pegangan NU. Karena itu, ide tentang Islam Nusantara di dalam NU, misalnya, bukan hanya terbatas dinamika ideologi dan nasionalisme yang sering dipandang sekuler, melainkan melibatkan teologi. Dengan kata lain, tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa NU adalah Islam Indonesia atau Islam Nusantara itu sendiri, tanpa mengabaikan penghargaan pada kelompok-kelompok Islam yang lain.

Ketika dilema masih membuncah di kalangan gerakan-gerakan agama, bukan hanya Islam, di Indonesia tentang asas tunggal Pancasila, NU segera memberikan solusi dengan mengubah AD/ART-nya: menempatkan Islam sebagai akidah dan Pancasila sebagai asas (1984), yang kemudian terkenal dengan Khittah NU 1926. Tidak heran jika ketika Pancasila dan eksistensi negara RI diganggu oleh kelompok tertentu, NU akan selalu tergugah tampil membela dengan mendahului pemerintah, dan bahkan dilakukan oleh generasi muda yang lahir sangat belakangan.

Kini pertarungan antar-Wahabisme itu-pertarungan harus dan selayaknya tidak diartikan sebagai kekerasan, apalagi fisik, melainkan diskursus dan gerakan-menapaki konteks internasional. Hasil dari International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL), misalnya, yang diinisiasi oleh PBNU beberapa waktu lalu di Jakarta, menawarkan diskursus Islam yang moderat dan damai dalam lingkup internasional. Event itu telah mengilhami banyak delegasi dari negara-negara lain berkeinginan untuk mendirikan NU versi negara-negara tersebut. Agenda berikutnya, dengan demikian, adalah bagaimana menyatukan mereka yang dalam satu barisan untuk merealisasikan agenda perdamaian dan kemanusiaan. (ISNU)

Sumber: Harian Kompas, 10 Juni 2016

Penulis: Ahmad Suaedy, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Anggota Ombudsman RI

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: