Budaya Islami Khas Nusantara dalam Tradisi Lebaran

Selasa, 04 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Masuknya Islam ke Nusantara dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia yang terkenal multikultural, multietnis, dan suku itu, antara lain karena pendekatan budaya. Akulturasi budaya lokal dan Islam, melahirkan perpaduan mengesankan, sarat dengan nuansa religi, keguyuban, dan harmoni.

Budaya Lebaran/syawalan, merupakan satu dari sekian potret akulturasi mengesankan yang menggambarkan perpaduan apik budaya lokal dan Islam. Rauda Blongkod dalam “Studi Komparatif Tradisi Ketupat” menjelaskan, salah satu budaya yang dapat dikatakan unik adalah budaya Lebaran Indonesia atau yang lebih dikenal dengan budaya ketupat.

Lebaran ketupat mengandung makna agama dan budaya yang penting. Bahkan, pada saat penyebaran agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai mediasi untuk menyebarkan ajaran Islam.

Lebaran ketupat merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Islam. Lebaran ketupat atau yang dikenal dengan istilah lain Syawalan sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah, dari Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya.

Lebaran ketupat hanya bisa dijumpai di masyarakat Indonesia. Tujuan pelaksanaannya sama seperti tujuan berhari Raya Idul Fitri, yaitu saling memaafkan dan bersilaturahim. Istilah saling memaafkan ini di kalangan masyarakat Indonesia lebih terkenal dengan sebutan “halal bihalal”.

Khoirul Anwar dalam Makna Kultural Dan Sosial-Ekonomi Tradisi Syawalan menjelaskan, istilah Syawalan berasal dari kata Syawal, nama salah satu bulan pada kalender Islam atau tahun Hijriyah. Disebut dengan istilah Syawalan karena tradisi tersebut dilaksanakan pada saat Syawal, yaitu pada satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Perayaan Syawalan dijadikan momentum untuk menjalin silaturahim dan kumpul dengan sanak keluarga yang tinggal di jauh. Syawalan masih terkait dengan Idul Fitri yang biasanya disebut Bada Kupat atau Hari Raya Ketupat. Beberapa daerah di Indonesia memiliki penyebutan yang berbeda terkait Lebaran Syawalan ini. Istilah itu biasanya bergantung dari sejarah daerah tersebut. (ISNU)

Sumber: Republika

 

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: