Budayawan Madura Ini Jelaskan Hubungan Tradisi Dengan Agama

Sabtu, 31 Desember 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Sumenep –Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan Pengurus Wilayah Cabang Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (PWC ISNU) Kecamatan Dungkek Sumenep, menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW,  Jumat (30/12) malam. Hadir dalam acara tersebut  Budayawan Celurit Emas Kiai D Zawawi Imron sebagai penceramah. Kiai Zawawi yang hadir sebagai pengisi taushiyah mengulas hubungan ilmu dan keberkahan.

Kiai Zawawie memulainya dengan mengungkap pribahasa Madura “Cong, mon penter bede guruna, keng mon pojhur tadek guruna.” Artinya “Pandai itu ada gurunya, namun keberkahan tidak ada gurunya”.

“Salah satu contoh sarjana hukum yang banyak menulis buku tentang hukum, namun sekarang sedang dipenjara. Mau masuk penjara saja harus sekolah dulu,” candanya.

Keberkahan ilmu, ujarnya, sejauh mana memberi keselamatam pada diri dan lingkungannya.

Kiai Zawawi mengetengahkan, signifikansi dialog tradisi dan agama secara historis merupakan sebuah ibadah. Bahkan, beberapa tokoh Islam, penyebar agama daerah Kecamatan Dungkek, semasa Syaikhona Kholil Bangkalan, juga getol merawat tradisi bernilai agama.

“Sebut saja Kiai Qasdu (KH Moh Anwar), Buyut KH Fathullah Zaini Dusun Tarogen, Desa Bunpenang, Dungkek merupakan ulama yang nenek moyang kita. Beliau sangat besar jasanya dalam meleburkan tradisi ke dalam nilai agama,” terangnya.

Dalam aspek kebudayaan, Kraton Joko Tole ada di Kecamatan Dungkek, yakni ada di Lapa Taman.

“’Tore mon entara ben kaule, kaule tekkak pang tippang cara neka depak’ (Mari kalau mau ke sana, walaupun saya kurang sehat bisa mampu ke sana),” kata Kiai Zawawi.

Dari beberapa persoalan keagamaan dan kebudayaan di atas, menunjukkan bahwa menurutnya, kita lahir dari ragam suku dengan struktur yang jelas; memilki sanad yang bersambung kepada para ulama dan para wali. Karenanya, Islam kita adalah Islam yang jelas statusnya; Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” tukasnya.

Acara muludan yang bertempat dj rumah Ketua PWC ISNU Dungkek Hosnan Nasirini ini dihadiri oleh Ketua GP Ansor Sumenep, ISNU Sumenep, Ketua MUI Dungkek, Ketua MWC NU Dungkek, Ketua Ansor, ISNU, tokoh masyarakat, dan ulama se-Kecamatan Dungkek. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: