Budayawan Unusia: Tradisi yang Berdampak Baik Pasti Sesuai Ajaran Islam

Rabu, 05 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Banyak orang yang menuding negative terhadap Tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Tudingan itu datang dari kelompok yang kerap membawa paham puritan (puritanisme) dengan menolak segala bentuk improvisasi cara beragama masyarakat dengan tuduhan bid’ah dan lain-lain.

Salah satunya adalah tradisi lebaran ketupat yang beberapa hari lalu dirayakan masyarakat Indonesia setelah berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Tradisi yang juga disebut Syawalan dengan ketupat sebagai hidangan utama ini kerap mendapat tuduhan bid’ah selain tradisi-tradisi lain yang berkembang di masyarakat.

“Terhadap kelompok yang membid’ahkan nggak usah digubris, wong mereka memang belum tahu dan nggak mau tahu soal tradisi. Asal tradisi berdampak baik dan punya nilai baik pasti ada dalilnya dan pasti sesuai ajaran Islam,” tegas Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi, Senin (3/7).

Kelompok pembid’ah tersebut juga tidak jarang mengatakan bahwa tradisi yang berkembang di tengah masyarakat juga tidak ada dalilnya dan tidak pernah Nabi melakukannya.

Terkait hal itu, Zastrouw yang juga Dosen Pascasarjana UNU Indonesia (Unusia) Jakarta ini mengatakan, hal demikian disebabkan dua hal yaitu mereka antara belum menemukan dalil atau tidak bisa menemukan dalilnya secara tepat.

“Itu kalau mereka bilang gak ada dalil karena belum nemu saja atau tidak bisa memahami dalil secara tepat,” jelas Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU pada periode 2010-2015 ini.

Tradisi lebaran ketupat, menurut Zastrouw, merupakan bentuk sublimasi (perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi) dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hampir tak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan mengenai tradisi tersebut.

Semua referensi hanya berdasar cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat di era Wali Songo sebagai tokoh utama penyebar agama Islam di Nusantara yang kemudian ditulis.

“Jelas di sini terlihat tradisi ketupat sebagai rangsangan melaksanakan hadits Nabi mengenai puasa sunnah enam hari di bulan Syawal,” ujar Zastrouw.

Zastrouw menerangkan, tradisi ini kemudian dijadikan sarana oleh Wali Songo untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturrahim di hari lebaran. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: