Cak Nun: Benteng Terakhir Bangsa Adalah Toleransi, Jati Diri dan Ketulusan

Kamis, 09 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Persoalan yang mnggelisahkan warga perkotaan berbeda dengan persoalan warga pedesaan. Bila di perkotaan, kaum kelas menengah atas biasanya merasa bahwa yang disebut persoalan adalah apabila roda ekonomi tidak berjalan dengan baik, maka kegelisahan yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat pedesaan.

Masyarakat Desa Guwosari, justru merasa sangat gelisah dengan ‘kemajuan’ ekonomi yang sedang menggeliat akhir-akhir ini dan kemungkinan ke depannya akan semakin gencar dengan adanya pembangunan kampus serta arus dana yang menerobos masuk ke wilayah desa mereka.

Maka pada momentum ulang tahun Guwosari yang ke-71 pada Kamis 2 November 2017, masyarakat Desa Guwosari bersepakat mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk menjadi bagian dari kegembiraan perayaan dan sebagai orang tua yang diminta petuah-petuahnya menghadapi tantangan zaman. Arus modal adalah sesuatu yang mereka anggap tantangan di sini.

Malam itu cuaca cerah di Guwosari. Masyarakat memenuhi pelataran Balai Desa yang tak bisa menampung antusiasme mereka sehingga yang tidak bisa masuk ke halaman, cukup duduk di sepanjang jalan depan Balai Desa. Meskipun jauh dari panggung, mereka tetap bisa menikmati ekspresi kebahagiaan di panggung dari beberapa layar besar yang disiapkan panitia. Tampak kaum lelaki yang hadir sembilan puluh persen sarungan. Juga tampak santri-santri Pondok Pesantren Al-Imdad yang memang letaknya dekat dengan lokasi Sinau Bareng.

Mbah Nun sendiri ketika telah membersamai masyarakat di atas panggung mengutarakan hasil pengamatannya terhadap Desa Guwosari. Sorenya Mbah Nun memang dijamu makan di warung ingkung yang ternama di desa ini dan menjadi cikal bakal bisnis ingkung yang sedang hits.

Dari tentang ingkung, gerombolan anak-anak yang sholawatan, etos remaja masjid, jaran kepang dan banyak hal yang beliau amati, Mbah Nun menyampaikan bahwa sebenarnya hampir tidak ada masalah pada masyarakat pedesaan seperti ini. Selama masih guyub rukun, saling mencintai, silaturrahmi antar sesama dan tidak goyah oleh serbuan pandangan materialistik.

Pandangan materialistik ini yang merupakan sumber banyak persoalan di wilayah perkotaan utamanya kelas menengah atas. Bagi kebanyakan mereka berada di perkotaan, tidak masalah tidak punya harga diri asal bisa makan. Hal ini juga tercermin dalam pandangan pembangunan negara, di mana yang penting ekonomi bergerak dulu, infrastruktur semegah mungkin, investor masuk sebanyak-banyaknya, kalau perlu mengemis sembari semakin tidak memiliki martabat bangsa.

Masyarakat desa, menurut Mbah Nun, adalah benteng terakhir bangsa. Terutama dalam kondisi seperti sekarang ini, di mana mereka yang berada di kahyangan politik nasional sudah tidak bisa diharapkan keberdayaannya.

Namun selain itu juga Mbah Nun mengajak masyarakat untuk tidak lantas menjauhi wilayah adu tandingnya manusia modern. Masyarakat desa yang sudah memiliki modal berupa kebanggaan otentik terhadap jati diri tanah airnya ini, juga perlu tahu bagaimana manajemen modal, mengerti dan bisa menjalankan bisnis. Karena tidak lama lagi, kita akan menghadapi serbuan modal yang tak kalah deras.

Mereka yang memikiki modal-modal besar dari belahan dunia manapun akan bisa membuka bisnis di desa-desa sini. Konsekuensinya memang desa menjadi makmur sejahtera, bergelimang pemasukan setiap hari, tapi tidak benar-benar memiliki tanah, air, dan harga dirinya. Maka masyarakat desa harus tangguh, pancang kuda-kuda, mateg aji.

Rasanya tidak sembarang pembicara baik ustadz, kiai dan sejenisnya bisa atau mau mengutarakan soalan perpolitikan nasional sampai perekonomian global kepada masyarakat desa lengkap dengan jebakan tipu daya talbisnya, di mana wacana-wacana yang dianggap penyelamat selalu juga mengandung unsur penjajahan di dalamnya. Tapi hal ini berlangsung dengan wajar dan normal-normal saja di Sinau Bareng malam itu.

Setema dengan hal ini Mbah Nun meminta KiaiKanjeng membawakan satu nomor dari Koes Plus dan satu nomor Salam Dari Desa karya Leo Kristi.

Kegembiraan tampak di mata masyarakat, juga dari pancaran wajah para tokoh yang membersamai di atas panggung.

Manakala ada kesempatan, Pak Yulius Suharta selaku Camat Pajangan dan Pak Muhammad Suharto selaku Kepala Desa menyatakan kegembiraannya dapat dirawuhi oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng begitu pula Pak AKP Suyanto Kapolsek Pajangan dan Kapt. Purwanto (Danramil 18/Pajangan) Pak Danramil bahkan selalu ikut menyambar mike dan ikut bernyanyi, bersholawat bersama dengan suara yang aduhai tentu tidak memenuhi standar estetika tarik suara tapi tetap indah karena luapan kegembiraan yang mengharukan.

Menyambung soal pola pikir materialistik, Mbah Nun mengambil contoh soal pembubaran HTI baru-baru ini. Kejadian semacam ini juga menurut Mbah Nun dikarenakan baik HTI maupun yang anti HTI menyimpan pola pikir materialistik yang memadat.

“Nek HTI bawa-bawa konsep khilafah menurut tafsirnya, yang salah HTI-nya atau Khilafahnya? Lha koq ini malah Khilafah dimusuhi?”

Dan pembubaran itu juga hanya bisa dipandang sebagai solusi bila pelaku pembubarannya memandang dari sudut pandang kebendaan padat sehingga seolah-olah dengan memberangus HTI maka selesai persoalan.

Yang perlu dibangun adalah Ukhuwah Islamiyah

Dengan sedikit meminta bantuan tafsir formal dari Kiai Muzammil, Mbah Nun juga mengutarakan bahwa yang sungguh-sungguh serius perlu ada dan dikembangkan adalah “ukhuwah Islamiyah” yang mendasar. Sayangnya, tafsir ukhuwah Islamiyah selama bertahun-tahun ini mengalami pendangkalan sehingga ketika ada yang mengajukan ajuan teori pembanding atau penyanding seperti misal almarhum Gus Dur dengan wacana ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah juga sama tidak jangkep-nya.

Ukhuwah Islamiyah selama ini hanya diartikan sebagai ikatan persaudaraan sesama kaum muslim. Padahal dia jauh lebih jangkep dari itu, sehingga bila pada pemaknaan mendasar dipahami, tidak perlu lagi ada ajuan pelengkap seperti ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathoniyah. Tentu ini juga tidak mengurangi rasa hormat kita pada almarhum Gus Dur yang berupaya melakukan ijtihad demi kemaslahatan bersama.

Ukhuwah Islamiyah sebenarnya berarti persaudaraan yang bersifat Islam. Artinya persaudaraan yang saling meng-Islamkan, saling menyelamatkan. Maka dia berlaku untuk sesama kaum muslim, kepada yang di luar komunitas muslim, bahkan pada hewan, tumbuhan, air,  tanah, api, serta seluruh makhluk kita ber-“ukhuwah Islamiyah”

Satu hal yang dianggap sangat sering merusak sistem persaudaraan kita belakangan ini adalah penggunaan socmed dengan kurang dewasa, tanpa kesadaran informasi. Akhirnya hoax di mana-mana.Tapi hoax juga belum akar masalah, oleh Mbah Nun kita diajak kembali berpikir kenapa hoax bisa marak.

Kemungkinan karena manusia saat ini tidak memiliki pegangan yang teguh.

“Kalau pemerintah bilang sesuatu itu hoax, lantas dari mana kita tahu bahwa ‘hoax’ versi pemerintah itu bukan hoax?”, tanya Mbah Nun.

Maka akhirnya orang hanya mengikuti selera saja. Yang percaya pemerintah akan mengamini, sedang yang memang aslinya tidak percaya juga tetap dengan keyakinannya.

Dari sini Mbah Nun mengajak kita untuk bijak dalam menggunakan informasi. Segala sesuatu perlu kita telisik sampai ke akarnya. Begitu pun desa, perlu ada pemuda-pemuda yang bersemangat menggali keluhuran masa lalu dan sejarah lokal desanya. Dengan menggali jati diri kita, kita akan jadi bangsa yang punya aji. Tidak gampang lupa diri dan tidak mudah terombang-ambing gelombang informasi.

Anak-anak bersholawat, harapan masih ada

Zaman memang makin menggelisahkan. Yang tidak melihat kegelisahan itu mungkin karena terlalu naif tapi yang terlalu larut dalam kegelisahan sering luput melihat harapan.

Mbah Nun melihat harapan itu ada pada sosok anak-anak yang bersholawat di masjid saat beliau sedang dijamu iwak ingkung sore tadi.

Oleh Mbah Nun anak-anak sholawatan ini kemudian diajak naik ke panggung untuk bersholawat bersama.

Soal syair dan nadanya, Mbah Nun dan KiaiKanjeng berposisi “tut wuri handayani” ketika anak-anak itu ingin Burdah, jadilah. Pun ketika anak-anak tersebut dengan gembira ingin Sholawat Dhiba’ punnn… Tapi sebentar, mereka ingin menyanyikan Dhiba’ dengan nada apa itu? Nada lagu Syahrini? Walau sedikit geli, tapi tak masalah. Mbah-mbah dan pakdhe-pakdhe mereka KiaiKanjeng dengan sabar mengiringi.

Pola pendidikan manusia modern kebanyakan terpaku pada konsep. Tentang apa yang harus kita katakan pada anak-anak, apa yang tidak bokeh kita katakan. Apa yang harus kita pertunjukkan, apa yang tidak boleh.

Oleh Mbah Nun, pola pendidikan yang sesungguhnya adalah menata hati kita sendiri. Menjaga ketulusan dalam diri, sehingga produk tingkah laku kita saat berhadapan dengan anak-anak, nuansa, aura, kerangka kata-kata, bahkan kediaman, dengan sadar atau tidak sudah merupakan pendidikan bagi si anak tersebut.

Pendidikan yang sesungguhnya adalah ketulusan tanpa henti dari dalam diri kita. Ketulusan yang sama yang ada pada diri masyarakat yang Guwosari yang bertahan hingga pukul 01.00 wib dini hari, sampai ketika acara berakhir bukankah ketulusan itu juga yang mendorong mereka menata diri untuk bergantian bersalaman dengan Mbah Nun yang juga dengan tulus melayani mereka tanpa terlihat sedikit pun kelelahan. (ISNU)

Sumber: Cak Nun

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: