Cak Nun: Seseorang Dihargai Bukan dari Ucapannya, Tapi dari Perbuatannya

Minggu, 09 April 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Kudus – Kekacauan yang dirasakan kini disebabkan Negara belum bisa memenuhi tugasnya sebagai pengayom rakyat, dan tugas Negara adalah menjaga nyawa, martabat, dan harta rakyatnya.  Demikian disampaikan Budayawan Indonesia Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pada acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Lapangan SMP 1 Dawe, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (07/04/17).

“Kalau tiga itu terpenuhi maka bereslah semua urusannya,” tutur Cak Nun .

Suami Novia Kolopaking itu juga menyayangkan tingkah para pejabat negara yang tidak menyadari tugasnya tersebut. Salah satunya disebabkan karena dunia pendidikan nasional belum menyentuh kepada ranah menyadarkan anak.

Emha kemudian meruntut tingkatan pengajaran di sekolah dengan tadris (memelajari), tahfidh (menghafal), taklim (mengucapkan), ta’lim (ngelmoni), ta’rif (mendalami), dan penyempurnaan dari itu semua.

“Pendidikan kita baru sampai tingkatan taklim dan sudah merasa puas, merasa sudah menguasai, padahal masih ada banyak tingkatan yang lebih tinggi,” katanya.

Di samping itu, Cak Nun juga mengingatkan kepada para pemuda supaya tidak mempunyai ambisi menjadi penguasa. Untuk itu, pemuda Indonesia harus selalu memerbaiki kualitas dirinya dengan banyak berbuat kebaikan.

“Seseorang dihargai bukan sebab ucapannya, tetapi perbuatannya. Buat hal baik dan biarkan orang yang menilaimu dan memintamu memimpin mereka,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun mendoakan 10-15 tahun lagi Indonesia akan punya generasi yang hebat. Generasi milenial yang mampu mengelola negara dan bersaing melebihi negara-negara di Eropa dan negara maju lainnya.

Kegiatan Sinau Bareng Cak Nun ini dalam rangka reuni perak 25 tahun alumni Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (ISNU)

Sumber : NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: