Dakwah Islam Nusantara dalam Rupa Film Dokumenter

film-rahmat-islam-nusantara-gp-ansor-640x420

Pemutaran film ‘Rahmat Islam Nusantara’ mengawali kegiatan Silaturrahim Akbar dan Kongres XV Gerakan Pemuda Ansor

Senin, 21 Desember 2015

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Ketika segerombol kecil orang mengklaim diri sebagai pengusung tauhid dengan menampilkan wajah Islam lewat kekejaman dan kebiadaban, maka selayaknya mayoritas umat Islam Indonesia mengangkat suara.

Untuk itu, Nahdhatul Ulama merilis film dokumenter berjudul Rahmat Islam Nusantara dalam rangka menangkal faham radikal.

Organisasi Islam terbesar di dunia itu sedang menggiatkan kampanye untuk “menghidupkan kembali gagasan Islam Nusantara sebagai jawaban atas Islam radikal,” ujar Gus Yahya Staquf, pimpinan Pondok Pesantren Raudlathut Tholibin Rembang.

Kampanye melalui film dokumenter tersebut mencuat di tengah perang opini kalangan muslim di tengah palagan tempur antar-paham tanah air untuk merebut siapa yang paling berhak mewakili Islam Indonesia.

Kalangan pengusung Islam Nusantara mengklaim, bahwa Islam yang berkembang di Indonesia tidak sama dengan Islam di Timur Tengah. “Islam kita berbeda dengan Islam Timur Tengah,” imbuh Gus Yahya.

Yahya beralasan, selama ratusan tahun kaum Muslim di Indonesia hidup berdampingan secara harmoni dengan pemeluk agama yang lain. “Kita harus menangkal ajaran ekstremisme,” ujarnya.

Wajah Islam Indonesia yang toleran dengan meleburkan ajaran Islam dan tradisi lokal tidak muncul dalam kurun waktu yang terpenggal. Islam Nusantara sebagai lanjutan metode dakwah yang dikembangkan Wali Songo. Oleh karena itu, film tersebut menampilkan Wali Songo dalam mendakwahkan Islam yang ramah dengan tradisi yang berkembang di bumi Nusantara.

Sekilas beberapa adegan di film dokumenter yang dibuat atas kerjasama dengan Universitas Vienna, Austria, itu terlihat seperti video kampanye Islamic State, dengan algojo yang menembak mati tahanan satu per satu.

Tapi musik yang melatarinya justru melantunkan tembang jawa bercorak keislaman. “Banyak yang menghafal Al-Quran dan Hadith gemar mengecam orang lain sebagai Kafir, sementara mereka melupakan kekafirannya sendiri terhadap Allah S.W.T.”

“Kita harus mengubah pandangan hidup kita dengan mengkaji ulang konsep kita tentang tuhan, tentang persaudaraan dan kemanusiaan,” tutur KH. Mustofa Bisri dalam film tersebut.

Tidak semua sepakat dengan kampanye yang digalang Nahdhatul Ulama. Bagi kelompok radikal, ketidaksepakatan menampilkan wajah Islam yang ramah, dengan alasan bahwa syariat Islam harus ditegakkan.

“NU menolak syariat Islam dengan dalih budaya Arab, dengan mempropagandakan kearifan lokal, mereka pelan-pelan menghapus Islam,” tulis salah satu kelompok radikal di situs resminya.

Sebaliknya buat Gus Yahya Staquf, justru langgam kehidupan masyarakat nusantara lah yang “menghasilkan ekspresi keagamaan yang lebih mencerminkan substansi dari Islam itu sendiri.”

Seoreng netizen @mantriss di akun Twitternya mengatakan, “Justru maksudnya, Islam terbaik itu praktek Islam di Indonesia. Itu yg berpotensi menjadi rahmat. Rahmat Islam Nusantara…”

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: