Dakwah Islam Nusantara Walisongo Jaga Harmonisasi Cinta Tanah Air & Bangsa

16 Februari 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Walisongo menulis semua ajaran tentang Islam dengan menggunakan tulisan dan bahasa lokal, bukan Arab maupun Pegon. Suluk-suluk yang dibuat oleh para Wali, semuanya menggunakan tulisan lokal. Suluk “Wrucil” nya Sunan Bonang, suluk “Linglung” nya Sunan Kalijaga, kidung “Purwojati” dan sebagainya, semua menggunakan bahasa dan bentuk huruf lokal Jawa.

Belakangan terjadi sesat pikir yang menganggap bahwa semua tulisan yang menggunakan huruf berkarakter lokal seperti Hanacaraka adalah warisan Hindu Majapahit. Akhirnya ajaran-ajaran yang menggunakan huruf-huruf tersebut dan bukan huruf Arab menjadi tertolak. Akibatnya ilmu-ilmu yang diwariskan Walisongo menjadi tidak berkembang. (Baca: Kesuksesan Dakwah Islam ‘Walisongo’ Karena Cinta Tanah Air dan Bangsa)

Makna walisongoSaat Belanda datang ke Nusantara adalah dalam situasi mandegnya ajaran Walisongo tersebut bersamaan dengan makin kentalnya kecenderungan dan pendekatan fiqih, maka penjajahan akhirnya dengan mudah terjadi, karena para ulama mulai lebih menonjolkan dalil-dalil dan tidak berpijak ke tradisi yang sudah ada. Pada fase ini pesantren-pesantren sudah mulai tidak bisa membaca tulisan Hanacaraka lagi. Inilah gelombang ke-2 Islam di Nusantara, setelah Gelombang pertama yang dibawa oleh Walisongo.

Walhasil, para misionaris dan orientalis yang datang di Nusantara justru yang akhirnya memunguti mutiara karya-karya tulisan Walisongo tersebut dan mempelajarinya, sementara kita sendiri meninggalkannya. Misalnya suatu hari Kyai Agus Sunyoto, ketua Lesbumi, mendapatkan naskah kidung Purwojati dari Kyai Jadul Maula yang terdiri 46 pupuh, dan berisi pengetahuan-pengetahuan serta informasi yang sangat langka. Ternyata Kyai Jadul mendapatkan kidung tersebut justru adalah dari almarhum Romo Kuntoro, yang beragama Katolik. Saat ini naskah-naskah Walisongo banyak disimpan di Vatikan dan Leiden Belanda dan umat Islam sendiri menganggap semua naskah Jawa tersebut adalah tulisan kafir dan tidak perlu dipelajari. Padahal banyak sekali naskah-naskah tersebut yang mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan. (Baca: Dakwah Walisongo Ajak Masyarakat Masuk Islam Secara Sukarela Bukan Paksaan)

Jadi jika diklasifikasikan berdasarkan waktu dan karakteristiknya, gelombang Islam di Nusantara dapat kita bagi menjadi tiga. Gelombang pertama, adalah era Walisongo. Gelombang Kedua, adalah era pasca Walisongo yang ditandai dengan mulai hilangnya ilmu-ilmu warisannya karena huruf Jawa ditolak sebagai sumber pengetahuan Islam. Gelombang Ketiga, adalah keadaan seperti saat ini, dimana berbagai pengerasan dan reduksi-pendangkalan terjadi serta dengan sederhana mengidentikkan Islam dengan simbol-simbol budaya Arab. Islam cenderung dilihat dari citra kulit, bukan substansi. (Baca: Lima Karakter Gemilang Dakwah Walisongo)

Jika tidak berhati-hati maka berbagai warisan adiluhung Walisongo akan dapat makin lenyap digerus oleh arus globalisasi dan kecenderungan-kecenderungan mutakhir yang bergerak sangat cepat dan massif.

Belajar dari sejarah bahwa sebuah negara dan kebudayaan bisa saja hilang atau punah. Contohnya negeri Campa. Kebudayaan Campa saat ini hanya tinggal suku kecil di Vietnam dan Kamboja. Padahal negeri Campa pernah besar dengan kebudayaannya.

Demikian juga bangsa Kurdi di Kurdistan. Salah seorang pemimpinnya yang sangat terkenal dan dicatat dunia serta dibanggakan oleh umat Islam adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Tapi suku Kurdi sendiri kini lenyap dan hanya menyisakan suku Kurdi yang kecil di Irak, Suriah dan Turki. Identitasnya telah hilang.

Yang paling tragis adalah suku Kazar, yang berada di Kaukasus, Georgia. Bangsa ini dulu mempunyai kerajaan yang besar tapi akhirnya hilang sama sekali. Dan yang mengerikan adalah bahasa Kazar itu sendiri juga hilang. Keturunan bangsa Kazar sudah tidak tahu bagaimana bahasa Kazar. Hal ini dikarenakan terjadinya “petaka budaya”, dimana orang Kazar yang memeluk Islam lebih memilih untuk berbicara hanya dalam bahasa Arab, sementara yang Kristen menggunakan bahasa Yunani, sedang yang memeluk agama Yahudi menggunakan bahasa Ibrani, tak ada yang menggunakan bahasa Kazar. Maka perlahan habislah bahasa Kazar bahkan hingga tak dikenali lagi oleh keturunannya, dan akhirnya melenyap dari peradaban dunia.

Hal serupa yang terjadi pada bangsa-bangsa tersebut tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada beragam suku dan kebudayaan di Nusantara jika kita sendiri tidak menjaganya. Identitas budaya kita dapat hilang kapan saja dan kita terancam menjadi entitas anonim yang rentan digilas arus global.

Sementara Walisongo telah berjasa memberikan identitas bagi Islam di Nusantara dan memberi inspirasi untuk itu. Belanda menjajah kita selama 350 tahun. Saat proklamasi 17 agustus 45 umat Islam di Indonesia berjumlah 95% dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara di utara kita ada Filipina. Dulu di negeri itu berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Mindanao, Isulu dan Zamboanga. Kotanya yang terbesar bernama Amanillah (sekarang dikenal sebagai Manila). Setelah dijajah Spanyol selama 150 tahun umat Islamnya hanya tinggal 5% saja. (Baca: Islam Nusantara Wujud Dinamisasi Budaya dan Peradaban Indonesia)

Karakter keberagamaan umat Islam di Indonesia lebih kuat dan berdaya tahan, dimana hal itu tak lepas dari kuatnya mental warisan Walisongo yang bukan melulu mengajarkan syariah, melainkan berbagai aspek ilmu pengetahuan dan integrasi budaya lokal yang kuat.

Karenanya penting untuk menggali kembali sejarah kebudayaan dan warisan pemikiran Walisongo tersebut sebagai usaha menemukan spirit dan energi besar yang mereka wariskan untuk memperkuat kita, baik sebagai entitas umat beragama maupun bangsa, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. (ISNU)

Sumber: Akun Facebook Lesbumi PBNU

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: