Dialog Guru dan Murid: Jangan Serampangan Sesatkan Orang Lain

08 Februari 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Aku bertanya kepada guruku: Wahai guru, kadang terbesit di hatiku, alangkah kasihan orang-orang yang dengan mudah menuduh kafir, musyrik, bid’ah, dan sesat kepada saudara mereka sesama muslim. Mereka dengan mata tak berkedip menggorok leher sesama muslim. Orang tua, ibu-ibu, dan anak-anak ikut menjadi korban. Kadang mereka berasal dari keluarga baik-baik, lalu berubah menjadi aneh dan keluar dari tradisi keluarga mereka.

Guruku menjawab: Ahyad, hidup ini diatur oleh Allah dengan aturan keadilan. Janganlah kamu meratapi mereka. Karena jalan hidup seperti demikian, adalah pilihan mereka sendiri. Sejak semula hati mereka dipenuhi keserakahan, kesombongan, kedengkian, dendam, dan kemarahan. Jika semula mereka terlihat sebagai orang baik, itu dikarenakan mereka belum menemukan kekuatan, kesempatan, uang, alasan, wadah, dan teman untuk melampiaskan keserakahan, kesombongan, kedengkian, dendam, dan kemarahan mereka. Lebih cepat mereka pergi dari kelompok kita dan keluar dari tradisi agung yang selama ini kita jalani lebih baik, karena bersama kita pun lebih banyak keburukannya dibanding kebaikan.

Aku melanjutkan pertanyaanku kepada beliau: Wahai guru seringkali aku merasa sangat marah dan geram ketika dicaci dan dicela oleh mereka. Mereka mencela aku sebagai penyembah kuburan padahal aku mendatangi kekasihku para wali Allah. Mereka menganggap aku terlalu mengkultuskan Baginda Nabi padahal aku hanya sekedar ingin menunjukkan cinta kepada Rosul Allah. Mereka menyebut aku sebagai penyesat umat padahal aku berusaha mengajak umat untuk mahabbat kepada Allah.

Sambil tersenyum guruku tercinta menjawab: Tenanglah Ya Waladi, Sesungguhnya mereka lebih marah dan lebih geram dibandingkan kamu. Jiwa mereka lebih menderita dibandingkan kecewa hatimu. Telah lebih seribu tahun mereka memusuhi dan menyerang, melukai dan membunuh, membakar dan merobohkan bangunan, serta melarang peredaran kitab-kitab yang memuat akhlak dan karomah para wali Allah, tetapi tidak ada hasil yang memadai dari usaha mereka. Sampai saat ini di sebagian besar wilayah kaum muslimin berdiri dengan tegak kubur-kubur yang indah dan megah dari para wali Allah. Para peziarah datang berbondong-bondong dari seluruh pelosok negeri. Bermunculan ribuan generasi muda muslimin di seluruh dunia yang dengan semangat menyanyikan Al Madah untuk Baginda Nabi. kitab-kitab yang memuat akhlak dan karomah para wali Allah dicetak kembali dengan kertas dan sampul yang lebih mahal dan indah.

Ya Waladil Mubarok ( demikian guruku mendoakan aku ) kerjakanlah semua yang kamu mampu kerjakan. Jangan bersedih dengan yang kamu tidak mampu, karena itu bukan kewajibanmu. Hanya orang bodoh yang melakukan sesuatu yang diluar kemampuan dan yang bukan kewajibannya. Jangan mendekati mereka karena mereka benci kepadamu. Jangan berbicara dengan mereka karena mereka tidak akan mendengarkanmu.

Jangan sekali-kali kamu mengharapkan kebaikan dari mereka karena itu hanya merendahkan dirimu. Semua yang terjadi tidak keluar dari yang Allah taqdirkan. Ada hikmah besar yang Allah maksudkan dari semua yang Ia tentukan. Banyaklah berdoa kepada Allah, agar Allah selalu memudahkan urusanmu dan senantiasa melindungimu dari kejahatan mereka. Serahkan hasil akhir dari doa dan usahamu kepada Allah dan terimalah dengan Ridlo. Karena kita yakin selama kita bermaksud baik maka Allah pun bermaksud baik dengan semua yang Dia taqdirkan untuk kita. (ISNU)

Sumber: Sarkub

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: