Dr. Muafak: Perpecahan Umat Akibat Dangkalnya Pemahaman Islam

Kamis, 20 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Padang – Dosen Pembimbing Makalah Quran, Universitas Malik Abdul Aziz di Jeddah, Dr Muafak bin Abdullah mengatakan bahwa, memahami Islam dengan sebenar-benarnya menjadi jalan bersatunya umat Islam di seluruh dunia. Hal ini disampaikan Dr. Muafak saat Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Eropa serta Afrika di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Dr. Muafak sebagai ulama ahli aqidah dan dakwah memaparkan sejarah Islam di depan ratusan ulama dan dai dari berbagai negara. Dia menjelaskan awal mula Islam dan perkembangannya sampai saat ini. Dia juga menjelaskan aspek-aspek penting yang harus dipegang teguh umat Islam.

Sebab, menurut dia, barang siapa memahami Islam dan mempraktikkan dengan sebenar-benarnya, maka akan terjalin persatuan umat. “Sebenarnya belum bersatunya umat Islam di zaman ini bukan karena perbedaan yang ada di antara para ulama. Akan tetapi, karena umat yang dangkal pengetahuan Islamnya,” kata Dr. Muafak kepada Republika.co.id usai menjadi pembicara pada pertemuan ulama dan dai di Hotel Grand Inna Padang, Rabu (19/7).

Ia berpesan, dai-dai diharapkan menjadikan Alquran dan sunah sebagai rujukan berdakwah. Sebab, untuk mempersatukan umat Islam perlu memberikan pemahaman yang benar kepada umat. Sehingga dapat terjalin persatun sesama umat Islam.

Ia mengungkapkan, melalui pertemuan ulama dan dai dapat mempersatukan semangat para ulama untuk mengagungkan agama Islam. Sebab, Islam sangat sempurna. Melalui acara ini juga diharapkan umat Islam dapat menjauhi segala sesuatu yang dapat mengakibatkan perpecahan.

Dr. Muafak juga menyampaikan, perbedaan pendapat adalah rahmat dari Allah SWT. “Umat diharapkan mengedepankan aspek tauhid, umat Islam menyembah Allah Yang Maha Esa, maka perbedaan lain seperti masalah fikih tidak terlalu menjadi masalah asalkan umat ini bersatu dalam akidah,” ujarnya.

Persatuan umat yang diinginkan, dikatakan dia, umat Islam yang sama-sama menyambah Allah SWT dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Juga persatuan umat yang mengakui sesama Muslim adalah saudara. Maka sesama Muslim tidak boleh ada rasa benci satu sama lain. “Maka akan terjalin kesatuan umat Islam di seluruh dunia,” ujarnya. (ISNU)

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: