Guru Besar UIN Maliki: Shalat Khusuk Dapat Menyatukan Umat Islam

Senin, 06 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Blitar — Umat Islam di Indonesia bisa bersatu dan kuat, jika para pemeluk agama ini mampu melaksanakan shalat secara khusuk.

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Prof Dr Imam Suprayogo, pada peluncuran kegiatan Kajian Shubuh di Masjid Agung Miftahul Jannah Kabupaten Blitar, Jawa Timur di Ngambak, Wlingi, Ahad.

“Jika umat mampu melaksanakan shalat secara khusuk sejak Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib hingga Isya, maka secara otomatis Islam bersatu dan kuat,” kata Prof Imam.

Ia menyampaikan hal itu mengulang jawaban yang pernah disampaikan kepada Menteri Agama, ketika mantan Rektor UIN Maliki selama 16 tahun itu ditanya, bagaimana cara memersatukan umat Islam di Indonesia yang memiliki banyak paham atau aliran yang berbeda-beda?

Pada acara yang dihadiri Bupati Blitar Drs H Rijanto MM itu, Prof Imam menjelaskan pentingnya umat Islam untuk bisa melaksanakan shalat secara khusuk, yakni saat hati dan pikiran sepenuhnya tertuju hanya kepada Allah SWT, tidak terganggu oleh hal lain yang sering muncul, termasuk syaitan.

Prof Suprayogo mengibaratkan bayangan manusia yang ada di dalam cermin sebagai syaitan yang bisa melakukan berbagaai bentuk kejahatan. Pagahal untuk bisa melaksanakan shalat secara khusuk, hati dan pikiran atau ruh manusia itu tertuju ke Kiblat atau Baitullah.

“Bayangkan kita menghadap dan seolah-olah berada di Baitullah hingga seperti bisa berkomunikasi dengan Allah SWT, maka di situlah shalat kita khusuk. Jika Umat mampu mencapai hal itu, maka tidak ada hal yang perlu dirisaukan, seperti yang pernah ditanyakan oleh Pak Menteri Agama kepada saya,” ucapnya.

Guru besar UIN Maliki yang juga lama bertugas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan kini dipercaya mengelola Yayasan Unhasy (Universitas Hasyim Asy’ari) Tebuireng Jombang tersebut juga sempat menguraikan indahnya Al Quran dimulai dari surat Al Faatikah dengan inti rahman rahim, Al Baqarah soal shalat tiang agama, Ali Imran contoh keluarga Imran, An Nissa (wanita), Al Maidah (hidangan) dan seterusnya.

Panitia kegiatan itu, KH Salam Mustofa melaporkan, Kajian Subuh tersebut berlangsung dua pekan sekali, dilaksanakan bakda shalat jam 05.30 selama sekitar satu jam.  Pada Ahad, 19 November menghadirkan pembicara KH Abu Sofyan Sirojudin dari Tulungagung, 3 Desember pembicara KH Marzuki Mustamar dan 17 Desember KH Zainurroziqin, keduanya dari Malang.

Pada kesempatan itu, Bupati Blitar Rijanto menyerahkan sumbangan Rp100 juta dari persaudaraan haji yang belum lama kembali ke Tanah Air. (ISNU)

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: