Gus Dur dan Tahun Baru

gus-dur-abdurrahman-wahid-biru-voice-biruvoice-com-640x420Oleh: Sururi Arumbani

ISLAMNUSANTARA.COM – Semakin lama, kesan pada tahun baru hanya berkisar pada hal-hal seperti terompet, kembang api, pesta dan sejenisnya. Tahun baru yang semestinya bisa dijadikan momentum untuk refleksi diri. Tapi, rupanya ini mulai jarang dijadikan ritual tahun baru. Sebagian dari saudara kita malah sibuk mengutuk, melarang-larang, bahkan menggunakan dalil agama. Toh, pesta dan hura-hura itu tetap jalan, bahkan makin menggila. Tidak adakah makna lain soal tahun baru masehi ini selain pesta gembira dan kemarahan? Bagi saudara kita, umat Kristiani bisa memanfaatkannya memberi makna dalam kerangka Natal. Nilai-nilai agama menjadi relevan dalam hal ini.

Entah mengapa Gusti Allah mewafatkan Gus Dur itu tanggal 30 Desember? Hanya DIA saja yang bisa menjawabnya. Tapi soal hikmah, kan bisa dimaknai oleh siapa saja. Bisa berbeda dari satu dan lainnya. Gus Dur wafat setelah Natal, dan menjelang tahun baru masehi. Bagi saya, ini bisa menjadi momentum untuk menggali keteladanan Gus Dur sebagai bekal menyongsong tahun baru nanti.Tak perlu berbekal kesedihan atas kepergiannya, tetapi carilah spirit hidup Gus Dur yang bisa jadikan bekal hidup kita juga.

Tentu banyak yang bisa digali. Bagi Saya, mengingat Gus Dur itu mengingat Indonesia. Mengenang perjuangan beliau, saya akan tersambung dengan banyak hal tentang Indonesia, para pahlawannya, tentang Pancasila, tentang keragaman, tentang persatuan, tentang rakyat dan sebagainya. Gus Dur bukan tipe pesimistis, yang gampang menyerah atas keadaan. Gus Dur bukan tipe pendengki, meski dilengserkan dari kursi presiden. Gus Dur bukan manusia serakah, meski banyak jabatan disandangnya. Gus Dur itu ya tetap Gus, meski sebenarnya juga kyai. Jangan lupa ia juga penghibur yang sejati. Melalui guyonnya, kita diajar menertawakan diri sendiri dan mengoreksi diri.

Sudah banyak tulisan, baik dalam buku atau di media-media lain tentang Gus Dur, jika diceritakan akan makan waktu lama. Anda bisa sibuk menggalinya sepanjang yang anda bisa. Dengan demikian, hari-hari menjelang tahun baru, kita tidak disibukkan dengan terompet dan pesta saja. Anda bisa belajar untuk menertawakan diri sendiri dalam rangka refleksi, seperti Gus Dur lewat guyonannya. Anda bisa berharap keluarga lebih baik di masa mendatang, sebagaimana Gus Dur begitu menyayangi keluarganya. Anda juga bisa mepersipakan diri dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi sekitar anda, masyarakat dan negara, sebagaimana Gus Dur telah melakukannya. Terserah anda lah, bagaimana baiknya. Jangan sampai anda repot-repot hanya untuk melihat kembang api, hanya untuk mendengar bisingnya knalpot dan terompet, atau menunggu panggung konser musik, atau menyiapkan bahan buat pesta menyambut tahun baru. Namun setelah itu, kehidupan anda, kehidupan bangsa kita benar-benar repot.

Jangan repot-repot, gitu aja kok repot !

 

Sururi Arumbani, Chief Editor TV9 Nusantara

Sumber: arrahmah.co,id

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: