“Gus Dur Sering Berkomunikasi dengan Ahli Kubur Ketika Ziarah”

diskusi-pemikiran-gus-dur-di-griya-gus-dur-640x420

Diskusi bedah buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” karya KH. Husain Muhammad

Senin, 25 Januari 2016

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Upaya meneruskan nilai dan pemikiran presiden keempat RI,KH  Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tidak pernah berakhir. Salah satu bentuknya meresmikan Griya Gus Dur di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur, Minggu 24 Januari 2016.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula diskusi bedah buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” karya KH. Husain Muhammad. Dari diskusi itu terungkap bahwa apa yang dilakukan Gus Dur muncul dari pandangan sufistiknya.

“Gus Dur itu mirip dengan Muhyidin Ibnu Arabi, sering berkomunikasi dengan ahli kubur ketika ziarah” tutur Husain yang disambut tawa para hadirin.

Lebih Lanjut Husin mengatakan ada sisi kesamaan antara Gus Dur dengan Jalaludin Rumi. “Pemikiran Gus Dur merangkum agama-agama, sama seperti Rumi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ,Ulil Abshar Abdalla yang menjadi pembicara mewakili Gus Mus berharap agar Griya Gus Dur mampu menjadi rumah pergerakan yang menampung semua golongan.

“Saya berharap Griya Gus Dur bisa menjadi rumah pergerakan bagi semua golongan & mampu menjadi pengayom bagi kelompok minoritas yang tertindas seperti Syiah dan Ahmadiyah” ujarnya.

Diskusi sendiri dihadiri puluhan orang tersebut berlangsung penuh canda tawa. Gus Mus yang semula dikabarkan tidak hadir untuk mengisi diskusi itu, belakangan hadir.

Pada peresmian Griya Gus Dur juga dilakukan peluncuran Gusdur.net dan Lumbung Amal Gusdurian. Pada kesempatan itu diberikan pula penghargaan Gus Dur Award kepada tiga orang tokoh masyarakat.

Penghargaan Gus Dur Award untuk kategori tokoh agama diberikan kepada KH. Mustofa Bisri atau yang biasa akrab disapa Gus Mus karena dinilai berhasil menyebarkan gagasan Islam Nusantara yg santun dan humanis. “Gusdur mengajarkan saya tentang kemanusiaan” ucapnya.

Sutanto Mendut, budayawan kelahiran Magelang tahun 1954 mendapatkan Penghargaan Gus Dur Award untuk kategori tokoh sosial budaya.

Dia adalah pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung yang sering menggelar perhelatan seni-budaya berskala internasional di atas puncak gunung. Yang dia lakukan adalal memberdayakan masyarakat di lima gunung yaitu Merapi, Merbabu , Andong, Sumbing , dan Menoreh

Ahok mendapatkan Gus Dur Award untuk kategori tokoh politik dan pemerintahan karena keberanian & ketegasannya dalam melawan korupsi. Ahok juga dianggap tegas terhadap kelompok intoleran. Sikap anti korupsi dan ketegasannya terhadap kelompok intoleran tersebut sejalan dengan sikap Gus Dur.

Peresmian Griya Gus Dur dilaksanakan oleh keluarga almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terdiri dari empat putri Gus Dur, Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid, akan menjadi tempat berkumpul bagi generasi pelanjut perjuangan Gus Dur, seperti The Wahid Institute atau Wahid Foundation, Yayasan Bani KH Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, dan Positive Movement.

Acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh seperti Romo Mudji, tokoh lintas iman Romo Frans Magnis Suseno, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Bindar Panjaitan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin,  mantan Sekretaris Negara era Gus Dur, Bondan Gunawan, dan budayawan Jaya Suprana.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: