Gus Ishom: Agama dan Nasionalisme Pilar Penting Bagi Eksistensi NKRI

Rabu, 25 April 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Kebumen – Kiai muda Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Ishomudin atau akrab disapa Gus Ishom menegaskan bahwa agama dan nasionalisme merupakan dua faktor utama yang mempertemukan Indonesia sebagai suatu  bangsa. Keduanya adalah pilar penting bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika keduanya sudah berjalan harmonis maka kemajuan bangsa dapat diraih. Sebaliknya, jika keduanya dipisahkan, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara aspek relijiusitas dan kebangsaan setiap warga negara.

Hal tersebut disampaikan Gus Ishom dalam Sidang Senat Terbuka di Institut Agama Islam Nadhlatul Ulama (IAINU), Kebumen, Jawa Tengah. Kiai muda yang juga Rais Syuriyah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) tersebut memaparkan, kesadaran sejarah perlu dihidupkan lagi. Dulu, kolonial Belanda dengan segenap tenaga membuat hubungan agama dan nasionalisme tidak dapat bersatu, karena jika bersatu akan menghasilkan kekuatan besar yang dapat memporak-porandakan kekuatan kolonial Belanda.

“Kita harus bisa belajar dari sejarah, dahulu kolonial Belanda sangat takut jika agama dan nasionalisme bersatu, karena jika bersatu, maka kekuasaan kolonial Belanda mudah untuk dikalahkan,” papar Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI tersebut.

Gus Ishom menambahkan, ada pihak asing yang dapat memanfaatkan ketidakstabilan negara Indonesia jika kedua entitas tersebut dipisahkan. Maka jika terjadi konflik antar anak bangsa, maka ketika itulah pihak ketiga dapat mengeruk sumber daya alam dimiliki bangsa Indonesia yang dikenal sangat kaya. Dalam posisi seperti, menguatkan nasionalisme sekaligus relijiusitas merupakan suatu keniscayaan.

Oleh karena itu menurut Gus Ishom, konsep agama dan nasionalisme yang termaktub dalam esensi Pancasila sudah sejatinya tidak perlu lagi dipertentangkan. Mempertentangkan antara keduanya hanya akan menghambat laju kemajuan bangsa Indonesia. Bahkan dapat menciptakan konflik yang berkepanjangan yang berujung pada kemunduran bangsa Indonesia.

“Pihak asing sangat senang jika agama dan nasionalisme masih menjadi perdebatan, karena masih ada kemungkinan konflik, sehingga asing bisa memanfaatkan konflik dengan mengeruk sumber daya alam yang ada” pungkasnya. (ISNU)

Sumber: Islamramah

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: