Gus Mus: Laskar Santri Berjuang dengan Ikhlas Demi Tanah Air Tercinta

JAKARTA, Islamnusantara.com – Sebelum adanya ‘lasykar-lasykar’ seperti lasykar jihad, lasykar cinta, lasykar pelangi, dan lasykar-lasykar yang lain; bahkan sebelum terbentuknya TNI, di negeri kita sudah dikenal banyak lasykar yang jelas berjuang dengan ikhlas untuk tanah air. Sebut saja misalnya, Lasykar Hizbullah pimpinan Kiai Zainal Arifin; Sabilillah di bawah pimpinan K.H. Masykur; Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo; Barisan Banteng pimpinan dr. Muwardi; Lasykar Rakyat; dan masih banyak lagi yang lain.

Demikian tulis KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus dalam akun Facebook resmi pribadinya, “Ahmad Mustofa Bisri”, Kamis (22/10).

Gus Mus menerangkan, lasykar-lasykar dan barisan-barisan itu, termasuk juga TKR (Tentara Kemanan Rakyat, red), di zaman revolusi, berbondong-bondong sowan kepada Kiai Subkhi Parakan Temanggung yang dijuluki Kiai Bambu Runcing dan Jenderal Bambu Runcing. Setiap hari ribuan orang dari berbagai ‘kesatuan’/lasykar minta doa dan berkah beliau sbelum berangkat ke medan perjuangan.

“Di antara yang sowan, tercatat: KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur, KH. Zainul Arifin, KH. Saifuddin Zuhri, dan Panglima Besar Jenderal Soedirman sebelum bergerak ke Ambarawa,” jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jawa Tengah ini.

Kiai Subkhi sendiri, lanjutnya, selaku Rais Syuriyah Cabang NU Temanggung, pada tanggal 25 Oktober 1945, setelah mendapat instruksi dari PBNU untuk jihad fisabilillah, berjuang mengusir penjajah Belanda, bersama Pengurus NU Cabang dan Barisan Muslimin Parakan-Temanggung, mengadakan mujahadah selama 10 hari. Setelah itu diadakan latihan kemiliteran oleh Lasykar Hizbullah.

Dalam revolusi fisik yang berkecamuk antara 1945-1950, tambah Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini, Kiai Subkhi bersama KHM. Siradj Payaman, KHM. Dalhar Watucongol, dan KH. Mandur Temanggung, serta tentara rakyat, berhasil mengusir NICA dan Sekutu dari Magelang; kemudian setelah bergabung dengan pasukan Jendral Soedirman, mengusir mereka pula dari Ambarawa.

“Rahmat Allah untuk Kiai Subkhi, Jendral Soedirman, para kiai dan santri pejuang kemerdekaan yang telah mendahului kita. Al-Fãtihah. Selamat Hari Santri,” tutup Gus Mus.

Saat berita ini ditulis, keterangan sejarah Gus Mus di beranda Facebooknya ini telah di-sukai oleh 2419 orang, 128 komentar, dan 648 kali dibagikan. (ISNU/Nu.or.id)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: