Gus Mus: Ramadhan Ya Ramadhan

Rabu, 08 Juni 2016,

REMBANG, ISLAMNUSANTARA.COM – Tulisan Gus Mus tentang makna Ramadhan serta toleransi beragama dan keragaman beragama.

Oleh: A. Mustofa Bisri

“MUSTOFA, Ramadhan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.” (A. Mustofa Bisri Dalam Nasehat Ramadhan buat A. Mustofa Bisri)

Gegap gempita menyambut kedatangan Ramadhan dan hiruk pikuk kaum muslimin menjalani Ramadhan, disatu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, dilain pihak, bias sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.

Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengkoordinasikan pihak-pihak yang di ajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadhan. Bahkan, tahun ini masyarakat umumpun dilibatkan dalam kegiatan rukyah.

Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadhan yang terpampang di seantero jalan. Lihatkan kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadhan.

Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan mushola serta meriahnya acara buka bersama dimana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian yang dengan serius berusaha menghormati Ramadhan. Luar biasa.

Pendek kata pada Ramadhan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subhanallah! Kata Ilham dan ustad-ustad dalam takjub.

Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadhan. Hanya pada Ramadhan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini.

Seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadhan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadhan hanya pada Ramadhan. Kita berpuasa, menahan diri hanya kepada Ramadhan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadhan.

Itu pun -kehidupan Ramadhan yang seperti itu- masih menyisakan sekian tanda Tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridhaan Tuhan mereka. Tanda Tanya itu antara lain, dimanakah posisi Allah SWT dalam diri kita di tengah kesibukan kita yang khas itu?

Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samara menyusupi keinginan kita mendapatkan ridha Allah SWT?

Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi dalam diri kita, sering berhimpitan dengan kehendak mendapatkan ridha Allah SWT. Kita berdzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan ridha-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya.

Kita berdzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah SWT Yang Maha Dekat, tetapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli. Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berdzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang mengingatkannya.

Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, “MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!” Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu.

Biasanya orang yang membenarkan dzikir dan sebagainya dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu?

Apakah Rasulullah SAW yang melarang berdzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam dzikir dengan suara keras itu tidak mengerti syi’ar?

Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikkan hak mereka yang lain -sekecil apapun- untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras?

Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan ridha Allah SWT, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.

Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadhan, lalu ingin memaksa para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadhan. Disana ada musafir-musafir yang di perkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadhan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas.

Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadhan! Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Amin. (ISNU)

Sumber: GusMus.Net

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: