Habib Jindan: Tebarkan Salam dan Halal Bihalal

Sabtu, 08 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Dalam acara Halal Bihalal Idul Fitri 1438H/2017M yang digelar oleh Keluarga Besar Kementerian Agama  di Auditorium HM Rasjidi, Kemenag Thamrin, Jakarta, Pengasuh Pondok Pesantren al-Fachriyah, Larangan Tangerang Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim menyampaikan pensan penting mengenai “Tebarkan Salam dan Halal Bihalal”.

Umat Islam harus terus menerus menebarkan salam. Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan jalan menuju surga. Pertama, jika umat Islam mau masuk surga, maka dia harus beriman kepada Allah SWT. Kedua, seseorang tidak dianggap beriman jika dia tidak saling mencintai antarsesama.

“Ini memang sulit dan rumit. Karenanya, Rasulullah Muhammad SAW memberi amalan yakni, agar kita saling mencintai dan saling menebarkan salam.

Assalamu’alaikum mempunyai dua arti. Arti pertama adalah salam itu sendiri. Arti kedua adalah jaminan keselamatan atas orang lain. Jaminan keselamatan dari gangguan pikiran kita, Jaminan keselamatan dari gangguan tangan kita, Jaminan keselamatan dari gangguan hati kita.

Pertanyaannya adalah, apakah jaminan keselamatan itu sudah kita lakukan, atau hanya di mulut saja. Mari sebarkan salam.

Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT adalah untuk menyempunakan akhlak yang mulia. Baginda Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT, misi utamanya adalah menyempurnakan akhlak. Innamaa buitstu liutammima makarimal akhlak. Sesunggunnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan/keshalihan akhlak. Di sini jelas, sebagai umatnya, sudah seharusnya kita meniru semaksimal mungkin perilaku beliau.

Rasulullah Muhammad SAW adalah pribadi yang luar biasa. Tampan, lembut, tutur kata sopan. Beliau cinta damai dan mudah memaafkan kesalahan sesama. Karenanya di acara Halal bi Halal ini, mari kita saling menerima, saling memaafkan, saling menghalalkan kesalahan saudara kita.

Rasulullah Muhammad SAW juga mengajarkan kepada para sahabat dan kaum Muslim ajaran kedamaian dan keselamatan.

Rasulullah Muhammad SAW mengajak kita semua untuk hidup damai, menjalankan amanah dan menjamin keselamatan sesama. Ketika ada kesalahan pun, baginda Rasulullah mengajarkan untuk memaafkan dan menghalalkan.

Halalbihalal

Hekekat halal bihalal adalah saling menerima, saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan sesamanya, agar setelah puasa sebulan penuh, umat muslim kembali suci, kembali bersih dan lebih baik dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Suatu hari, saat berjalan-jalan bersama sang istri ‘Aisyah,  Rasulullah  bertemu dengan orang Yahudi. Orang Yahudi menyapa Rasulullah  dengan perkataan tidak mengenakkan: Assamu’alaikum. Sebuah sapaan mirip salam, namun berarti kematian/kecelakaan bagimu.

Rasulullah  Muhammad SAW kemudian membalas “wa’alaikum saam (juga atas kalian). Di mana saat itu, ‘Aisyah marah-marah. Baginda Rasul SAW melarang Aisyah untuk marah-marah: ‘Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat.

Berlemah lembutlah atas semua yang telah terjadi, karena itu akan menghias dan memperindah perbuatan tersebut dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi, akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang? Baginda Rasul memenangkan Aisyah.

Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits juga berpesan kepada kita semua untuk menjauhi ucapan keji, karena Allah tidak menyukai ucapan keji dan yang membuat-buat ucapan keji.

Junjungan kita mengajarkan kepada kita, selain memaafkan, juga berperilaku baik sebesar apapun dzalimnya seseorang terhadap kita. Karenanya, sebagai Umat Muhammad SAW, sudah selayaknya kita meneladani Nabi SAW yang mengajarkan untuk damai, amanah dan saling memaafkan.

Rasulullah sangat mencintai tanah kelahiran beliau Makkah. Rasul pernah bilang, Demi Allah, Saya sangat mencintai Makkah. Kalau bukan kaumku yang memaksaku keluar, aku tidak akan keluar. Baginda Rasul meninggalkan rumah, aset dan tanah air yang dicintainya. Dan, saat berperang melawan kafir Makkah, Rasul SAW tidak meluapkan emosi dan membabi buta membalas dendam.

Saat di Madinah pun,  saat bertemu dengan banyak golongan, ada Muhajirin, Ansor, Yahudi, penyembah berhala dan lainnya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kelembutan, karena sesungguhnya, misi Rasulullah adalah mempersatukan umat dan mengajarkan kerja sama. Beliau diturunkan sebagai rahmat bagi seru sekalian alam. Untuk menebarkan kasih sayang kepada alam dan isinya. (ISNU)

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: