Habib Luthfi bin Yahya: Nabi Muhammad Sangat Nasionalis dan Ajarkan Nasionalisme

01 April 2016,

PEKALONGAN, ISLAMNUSANTARA.COM – Rais Amm, Jam’iyyah ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman), Habib Luthfi bin Ali bin Yahya memberikan Tausiyah dalam Silaturahim Mursyid Thariqah se-Indonesia bersama TNI-Polri, di Pekalongan, Jawa tengah, Sabtu (24/1).

Dalam silaturahim yang mengambil tema “Kebersamaan TNI, Polri dan Ulama, Untuk Memperkuat Nilai-Nilai Sejarah UUD ’45 dan Pancasila, Dalam Membentengi NKRI dari Pengaruh Kelompok Radikal dan ISIS, Serta Upaya Menuju Negara Poros Maritim” tersebut, Habib Luthfi menyatakan bahwa apabila Ulama dan TNI-Polri bersatu, Indonesia akan menjadi negara yang kuat.

“Apabila Ulama, TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecah belah. Persatuan kita sangat penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini” terang Habib.

Habib melihat, membangun Bangsa Indonesia, tidaklah mudah. “Membangun negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat Nabiyullah Muhammad Saw diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada, setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses.

Habib menceritakan, Rasulullah Saw sangat nasionalis dan selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada para sahabatnya. “Rasul Saw sangat mencintai Bumi Arab. Beliau sering menyatakan diri; Saya adalah Bangsa Arab. Nah, untuk itu, kita Bangsa Indonesia, harus bangga dan lantang menyatakan; Saya Orang Indonesia, apa pun suku kita, baik Jawa, Sunda, Arab, India, China atau mana pun, jika kita terlahir di negeri ini, teriakkan dengan lantang; Saya Orang Indonesia,” ajak Habib.

Habib melihat, dalam era global ini, silaturahim antar anak bangsa sangat dianjurkan, karena mampu lebih mengakrabkan dan mempersatukan. “Ulama, TNI dan Polri adalah orang tua kita semua. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak, maka akan mengurangi kewibawaan ulama, TNI dan Polri sendiri.”

Habib prihatin dengan kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menimpa Indonesia.

“ Saat ini, Indonesia dengan mudah diobok-obok. Wibawa kita sebagai bangsa besar dipertaruhkan. Meski demikian, sekali lagi, selagi Ulama, TNI-Polri bersatu, kewibawaan Indonesia akan kembali lagi. Tidak perlu diperdebatkan, apa lagi kita membahas hal-hal lain” terang Habib.

Habib melihat, tugas setiap warga negara adalah mengisi kemerdekaan ini untuk hidup yang lebih baik, namun hingga kini, banyak dari anak bangsa, masih mempeributkan hal-hal sepele.

“Kita harus berubah, ketika negara lain sudah maju, kita masih memperdebatkan tahlil, maulidan, penentuan tanggal satu ramadhan, syawal dan lain sebagainya. Bagaimana kita bisa maju? Negara luar, ada yang mempunyai nuklir, membuat pesawat tempur, bom, kapal perang, pesawat reguler dan lain sebagainya. Apa yang telah dilakukan negeri ini? Kedua, di bidang kedokteran, alat-alat bedah dan lain sebagainya, negara luar yang memproduksi. Apa negara kita tidak mampu mendirikan universitas tingkat internasional yang mampu mengangkat dunia Islam? Lihat juga pertanian kita yang amburadul. Padalah kita mempunyai tanah yang sangar luas dan subur,” urai Habib.

Habib melihat, banyak hal di negeri ini yang bisa dimanfaatkan untuk menegaskan kebesaran NKRI.

“Negeri ini mempunyai posisi yang sangat strategis. Kita mempunyai jangkauan ke seluruh penjuru dunia. Andai letak itu kita manfaatkan dengan baik dan benar, sisi lain, kita kuat, kita akan menjadi negara yang besar, berwibawa dan makmur. Negara tetangga pun akan berfikir panjang untuk macam-macam terhadap kita” tambah Habib.

Habib juga mengajak rakyat Indonesia untuk meniru air laut.

“Air laut mempunyai jati diri dan nasionalisme yang luar biasa. Meski selalu mendapatkan air tawar dari daratan dan hutan, meski mendapatkan bermacam-macam limbah, namun air laut tetap berasa asin. Apa pun yang mengotori laut, tidak mampu menghilangkan rasa asin air laut. Meski demikian, penghuni laut, tidak pernah mengintervensi ikan air tawar. Mereka mampu memposisikan diri dengan sangat luar biasa” tegas Habib. (ISNU)

One Response

  1. Roberto Febri Santosa24 Mei 2016 at 10:07 pmReply

    Terimakasih buat NU dan habib Lutfi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: