Habib Umar bin Hafidz: Fitnah Adalah Akar Perpecahan Umat

Selasa, 24 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Pamekasan – Habib Umar bin Hafidz yang merupakan Ulama asal Hadramaut Yaman mengingatkan kepada seluruh umat Islam di Indonesia akan ancaman fitnah akhir-akhir ini yang mulai menyebar luas di jejaring soal, dan ancamannya terhadap kerukunan umat Islam.

“Fitnah merupakan akar perpecahan umat dan sebagai umat Islam, kita harus mewaspadai bahaya fitnah ini,” ujarnya, saat menyampai ceramah di Pondok Pesantren Banyuanyar Al-Hamidy, Pamekasan, Jawa Timur, Senin. (Baca juga: Habib Umar bin Hafidz: Tidak Pernah Ada Cacian yang Keluar dari Lidah Rosulullah)

Dalam kesempatan itu, “Habib Umar” sapaan karib Umar bin Hafid itu juga berpesan agar umat Islam di Indonesia tidak mudah terpecah belah serta waspada dengan ancaman jenis ancaman yang berpotensi memecah belah persatuan umat Islam.

“Mari kita jaga persaudaraan sesama Islam,” ucap dia.

Menurut dia, Indonesia sebenarnya merupakan negara kuat, dan memiliki toleransi tinggi. Kerukunan umat beragama tercipta dengan baik, dan kondisi tersebut perlu dijaga. (Baca juga: Salah Satu Ciri Wali Allah yang Ada Dalam Diri Gus Dur Menurut Habib Umar)

Habib Umar dalam kesempatan itu, menujelaskan, bahwa Nabi Muhammad adalah umat pilihan mampu menjaga kerukunan antarumat beragama dan umat yang berbeda agama.

“Kita ikuti semua ilmu dan kebiasaan Rasulullah serta sahabat,” ujarnya.

Sebelum mengakhiri ceramah bertema “Masalah Kekinian, Tantangan dan Pemecahannya” itu, ulama asal Hadramaut Yaman ini, memimpin doa dan memohon kepada Allah SWT agar umat Islam tetap bersatu padu dalam memperjuangkan ajaran nilai-nilai Islam.

Ia juga mendoakan umat Islam dan Bangsa Indonesia terbebas dari berbagai bentuk fitnah dan berbagai jenis bencana alam yang berpotensi membayakan masyarakat Indonesia.

Sarasehan bertema “Masalah Kekinian, Tantangan dan Pemecahannya” dengan pembicara tunggal Umar bin Hafidz itu mulai pukul Pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Selanjutnya Habib Umar bersama rombongan kembali menuju Helipad di Lapangan Kompi 516 Branjangan Pamekasan, dan ia melanjutkan “rihlah” dakwah ke negara Malaysia.

Selain pengamanan dari Polri dan TNI, acara itu juga mendapatkan pengamanan ketat dari para santri dengan mengenakan pakaian khas Madura, yakni baju dan celana pesak yang merupakan pakaian tradisional rakyat Madura. (ISNU)

Sumber: Antarajatim

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: