Halal Bihalal Karya Islam Nusantara Untuk Mempererat Persatuan

Kamis. 21 Juli 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, JAKARTA – Hari raya Idul Fitri telah berlalu namun semangat Halal bihalal Ala Islam Nusantara yang fungsinya untuk mempererat persatuan dan tali silaturahmi dan biasanya umat Islam di Indonesia masih tetap melakukan hal ini hingga bulan Syawal berakhir. Menurut tokoh sepuh NU, Gus Mus adalah produk asli dari Islam Nusantara. (Baca juga: Gus Mus: Kalau Dengar Nama Islam Nusantara Ojo Kaget)

Seperti tulisan yang termuat di salah satu akun facbeook milik Lesbumi dengan judul “HALAL BI HALAL DAN SEMANGAT PERSATUAN”, sudah jamak dilakukan di berbagai tempat acara halal bi halal yang menjadi ajang bermaafan antar individu yang ada di suatu lingkungan entitas sosial yang beragam di Indonesia, termasuk berbagai instansi baik pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, komunitas berbasis profesi dan lain-lain. Ajang silaturahim ini dipandang sebagai budaya yang sangat positif, yang bukan saja bermakna seremonial belaka, namun dianggap dapat berdampak baik bagi mencairnya berbagai ketegangan psikologis yang terekam dalam satu tahun perjalanan sebuah interaksi sosial. Sedikit berbeda dengan momentum saling bermaafan yang biasa dilakukan dalam keluarga dan sanak saudara selepas digelarnya sholat Ied, Halal bi Halal biasanya bersifat cenderung lebih formal, misalnya digelar di sebuah gedung dengan peserta yang cenderung homogen secara sosial seperti anggota organisasi tertentu, instansi pemerintah, sekolah dan lain sebagainya dengan rangkaian acara yang lebih terarah. Namun demikian spirit dari halal bi halal tetap sama yakni menjaga terjalinnya tali silaturahim antar sesama.

Istilah “halal bi halal” yang secara luas dikenal dan dipergunakan oleh masyarakat Indonesia tersebut pada mulanya tak lain adalah buah gagasan Almaghfurllah KH. Wahab Chasbullah. (Baca juga: Habaib dan PBNU Sepakat, Perpecahan Umat Bukan Ajaran Nabi dan Islam)

Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Romadlon, Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kyai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang”, kata Kyai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal”, jelas Kyai Wahab.

Dari saran kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri ketika itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas. Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintahan, sementara Kyai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadi dari saat itulah Halal bi Halal dikenal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat tiba Hari Raya Idul Fitri dan terus berlangsung hingga sekarang.

Sebenarnya kegiatan serupa halal bihalal sendiri sudah punya preseden jauh sebelum itu, yakni sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa berkuasa. Setelah Idul Fitri, beliau biasa menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. Akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sama. (Baca juga: Video Ceramah Habib Lutfi bin Yahya: Cintai Kanjeng Nabi dan Keluarga Perkuat Persatuan)

Cetusan istilah oleh KH. Wahab Chasbullah “halal bi halal” ini secara sederhana didasari analisa Pertama, thalabu halâl bi tharîqin halâl, yakni mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis Kedua, halâl “yujza’u” bi halâl yang berarti pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: