Haul Dibilang Bid’ah, Gus Mus: Kalau Perlu Kita Mengadakan Mauludan Setiap Malam

Sabtu, 19 November 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Yogyakarta – KH Ahmad Mustofa Bisri memberikan tausiyah di hadapan ribuan santri Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam, Krapyak, Yogyakarta, Selasa (15/11), dalam rangka Haul Ny. Hj Salimah dan KH Dalhar Munawwir. Bagi Gus Mus, sapaan akrabnya, peran perempuan bukan sekadar soal emansipasi, tapi momentum menjadikan ibu nyai sebagai figur teladan.

Berikut ini transkrip ceramah Gus Mus yang diunggah Hilmy Muhammad melalui akun resminya di facebook.

Kalau ada yang bilang “haul itu bid’ah” sudah biarkan saja. Dibilang bid’ah juga nggak apa-apa. Bahkan kalau perlu, kita mengadakan “muludan” setiap malam, atau minimal sepekan sekali. Gimana tidak penting? Lha wong ada muludan, ada haul saja kelakuannya masih seperti itu, tidak sesuai dengan Kanjeng Nabi, apalagi kalau tidak ada muludan?

Kalau sedang dalam acara pengajian seperti ini semua orang memang kelihatannya khusyu’ dan anteng-anteng. Tapi coba kalau pas di jalan. Apalagi pas demo. Lupa dengan Kanjeng Nabi yang halusnya luar biasa. Bahkan ada yang mengaku ulama, tapi kelakuannya tidak seperti Kanjeng Nabi. Kenapa? Barangkali karena mereka tidak mendapat rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Sebab Kanjeng Nabi sendiri bisa halus dan lemah lembut seperti itu karena beliau mendapat rahmat Allah Ta’ala. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ

Artinya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Adanya haul seperti ini juga agar kita ingat dengan kematian. Semua orang kan merasa atau beranggapan akan hidup terus. Peringatan haul seperti ini supaya menjadikan orang berpikir, besok kalau saya mati, dihauli, atau tidak ya?

Yang lebih istimewa, malam ini yang di-hauli adalah bu nyai. Bahkan kalau perlu Anda memperingati Rabi’ah al-Adawiyah, seorang wali perempuan luar biasa yang sangat pantas bila diperingati haulnya. Beliau perempuan yang digandrungi oleh banyak lelaki, bahkan oleh para ulama jaman itu. Tapi beliau menolak mereka, dan beralasan, “Saya sudah punya pacar kok. Pacarku adalah Yang Paling Kuasa dan Paling Hebat sendiri.”

Ya, beliau gandrung kepada Gusti Allah. Hebatnya lagi, saat curhat kepada Allah, beliau matur, “Ya Allah, saat di akherat kelak, bila Engkau tidak berkenan memasukkanku ke surga, mohon -karena Engkau Maha Kuasa-, jadikan aku makhluk yg besar sekali, yang badanku dapat memenuhi neraka, yang karena itu menyebabkan orang tidak dapat masuk neraka”

Kalau sekarang? Orang merasa hanya dirinya yang akan masuk surga, sementara orang lain masuk neraka. Atau menganggap dirinya pantas masuk surga, dan tidak peduli orang lain masuk neraka.

Atau bisa juga memperingati haul Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aisyah. Istri-istri pendamping Nabi yang luar biasa. Coba Anda lihat kehidupan kiai-kiai itu. Barangkali mereka punya anak-anak  yang hebat, bukan karena diri mereka, tapi karena istri-istri mereka. Kalau kiai, yang diurusi sudah banyak: ngurusi santri, ngurusi masyarakat, yang akibatnya sering tidak ngopeni anak sendiri. Siapa yang ngurusi anaknya? Ya, bu nyai.

Anda jangan meremehkan peran bu nyai sebagai pendamping kiai. Mereka mempersiapkan segala kepentingan kiai, mulai dari menyiapkan minuman kopinya, kitabnya. Belum lagi kalau ada urusan-urusan kemasyarakatan, ibu nyailah yang akan menyiapkan konsumsinya, suguhannya. Belum lagi kalau kiainya capek, mesti yang mijeti, ya bu nyai. Kalau kiai sedang mangkel dan mengeluh: “Orang kok susah dinasehati. Diberitahu kok malah ngeyel, bantah…”, ibu nyai-lah yang berperan besar ngerih-rih (Jawa: membangkitkan semangat) kiai agar tidak “putus asa”, dengan bilang, “Sing sabar, bah…”

Kira-kira seperti itulah gambaran Sayyidah Khadijah RA, yang menjadikan Kanjeng Nabi girang, saking senengnya punya istri beliau. Bagaimana tidak? Saya sendiri pernah naik Jabal Nur (gunung tempat Gua Hiro’), yang waktu itu belum ditata sedemikian rupa seperti sekarang ini, alias masih terjal dan asli. Kanjeng Nabi sesudah bertemu Malaikat Jibril guna mendapat wahyu Al-Qur’an yang pertama-, turun dari gunung itu dengan bergegas, setengah berlari. Sampai di rumah, dalam keadaan takut, gemetar dan campur aduk, beliau minta diselimuti oleh Siti Khadijah. Dan apa yang dilakukan oleh Siti Khodijah? Beliau mendampingi dan ngerem-rem (Jawa: memberi wejangan kesejukan) kepada Kanjeng Nabi agar dapat tenang, dengan berkata, “Tidak mungkin Allah berlaku buruk terhadapmu, sebab panjenengan itu orang baik. Allah tidak akan membiarkanmu.”

Luar biasa Siti Khadijah. Barangkali karena faktor seperti itulah yang menjadikan Siti Aisyah tidak kuat menahan cemburu, padahal Siti Khadijah sudah wafat bertahun-tahun lamanya. Hal ini karena Kanjeng Nabi masih saja ingat dengan Siti Khadijah. Sedikit-sedikit ngomongi Khadijah. Hingga kemudian Nabi menjelaskan bahwa Siti Khadijah adalah wanita yang benar-benar istimewa, di samping karena beliau adalah “orang yang pertama kali percaya kepadaku, saat tidak ada sama sekali orang yang percaya kepadaku.”

Inilah pelajaran penting bagi Anda semua, wahai santri-santri putri. Andalah nanti yang akan menjadi kiai putri, atau kalau tidak bisa, ya harus siap menjadi istri pendamping kiai. Dan semua itu butuh persiapan-persiapan. Apa itu? Ya, ngaji sing tenanan. Mumpung Anda di sini, di pondok, ngaji dan belajarlah dengan sungguh-sungguh. Hingga pada saatnya nanti Anda sudah siap menjalankan peran Anda sebaik-baiknya. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: