Hj Sinta Nuriah: Pendidikan Moral, Toleransi dan Kerukunan Dimulai dari Keluarga

Rabu, 07 Juni 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Temanggung – Istri Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid kembali mengadakan acara buka bersama (bukber) dengan warga Temangggung. Kali ini, bukber bersama tokoh dan umat lintas agama itu digelar di Masjid Roudlotul Jannah Dusun Kuncen Desa Bandran Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung, Senin (5/6) sore.

Sambil menunggu acara buka Bersama, jamaah dihibur dengan pementasan grup rebana Wahyu Ilahi Polres Temanggung, yang dimainkan seluruhnya oleh polwan-polwan cantik. Kemudian dilanjutkan taushiyah kebangsaan oleh Ny Hj Sinta Nuriyah Gusdur.

Hj Sinta menyampaikan pentingnya menjaga Bhineka Tunggal Ika. Menurutnya, dalam Bhineka Tunggal Ika itu terdapat kemajemukan dalam masyarakat Indonesia baik itu perbedaan agama, adat, suku, bahasa, maupun budaya. Karena itu, meski berbeda tetapi pada hakikatnya semua adalah bersaudara yang tidak boleh saling melontarkan hinaan, hujatan, fitnah, dan permusuhan.

“Semua elemen bangsa yang berbeda itu, wajib saling menghormati, menghargai, mengasihi, tolong-menolong, dan bersama-sama berkomitmen untuk menjaga kerukunan, demi tegaknya NKRI,” ucap Hj Sinta.

Dalam kesempatan ini, ia juga mengaku cukup prihatin dengan kondisi maupun dinamika bangsa yang terjadi belakangan ini mulai kekerasan, intoleransi, hingga radikalisme yang bahkan telah merangsek ke anak-anak. Atas dasar itu, ia meminta agar pelajaran yang menyangkut kebangsaan, toleransi, dan kerukunan dikembalikan ke sekolah-sekolah dan ranah keluarga.

“Sudah saatnya pelajaran moral, toleransi dan kerukunan dikembalikan ke sekolah dan keluarga, agar anak-anak kembali belajar tentang nilai-nilai tersebut,” ujar Sinta.

Kenapa keluarga?  Menurut Sinta, keluarga mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter dan moral anak. Nilai-nilai moral juga perlu digaungkan kembali melalui berbagai perkumpulan di lingkungan sekitar seperti PKK.

Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwa mengatakan, agar tidak mudah disusupi paham radikal dan intoleran, anak-anak perlu diberi ruang untuk berkumpul dan aktif dalam berbagai kegiatan positif seperti main sepak bola, pramuka, dan kegiatan positif  lainnya.

“Jika hanya disuruh belajar dan mengikuti berbagai les saja memang anak-anak pintar dalam pelajaran. Tetapi, mereka akan mudah diajak untuk terlibat dalam kegiatan yang membahayakan dan disisipi paham radikal. Mereka juga mudah digerakan untuk melakukan kekerasan,” katanya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk menangkal paham-paham radikal serta terorisme. Harapanya, keutuhan Pancasila dan NKRI terus terjaga. “Awas, hati-hati dengan doktrin-doktrin sesat yang terus berkembang termasuk lewat media sosial (medsos),” pungkasnya. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: