Ikatan Sarjana NU Harus Bentengi Kampus dari Ancaman Gerakan Radikal

Senin, 16 April 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Semarang – Para sarjana anggota Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang berkarir di perguruan-perguruan tinggi, harus terpanggil untuk membentengi kampus-kampus dan lingkungan sekitarnya dari rongrongan serta ancaman gerakan radikalisme dan terorisme.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) Cholid Saerozi mengatakan, kekuatan-kekuatan radikal yang berpotensi mengarah ke gerakan teror disinyalir akhir-akhir ini tumbuh subur di lingkungan lembaga-lembaga penting milik pemerintah, di antaranya di kalangan perguruan tinggi negeri (PTN) umum.

“Ini ancaman, gerakannya sudah di depan mata kita, sehingga ISNU harus bisa hadir di kampus-kampus, terutama di kampus PTN besar untuk mencegah dan membentengi kampus dari gerakan radikal dan teror,” ujarnya di sela mengikuti Konferensi Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Tengah ( Konferwil ISNU Jateng), di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim (FK Unwahas) Semarang, Sabtu (14/4).

Menurutnya, gerakan radikalisme dan benih teror berhasil masuk ke lingkungan kampus dengan menyelinap menjadi “penumpang gelap”, sejumlah agenda perguruan tinggi terutama negeri yang sedang menggelar penerimaan mahasiswa baru.

Selain itu, lanjutnya, juga ditunjang dengan keberhasilan menyusupkan personnya di lingkungan staf pengajar atau dosen yang dengan berbagai cara berupaya berhasil memegang posisi vital dan penentu kebijakan.

Kepentinganpun bertemu di sini, para dosen yang menjadi ideologi  radikal dalam melancarkan aksinya memanfaatkan berbagai fasilitas yang memudahkan mahasiswa dalam menjalani studi di PTN, beasiswa bidik misi misalnya. Oleh para ideologi radikal yang memegang posisi penting, program beasiswa bidik misi digelontorkan kepada para mahasiswa yang menjadi agen gerakan-gerakannya.

“Ini tragis sekali, PTN yang dibiayai negara seakan menjadi pemasok bahan bakar gerakan radikal untuk melawan negera. Kasus ini terjadi di salah satu PTN di kawasan Indonesia bagian tengah yang pimpinannya menjadi simpatisan dan penggerak HTI,” tuturnya.

Gerakan bawah tanah ini, dia menambahkan akhirnya dicium pemerintah dan segera dilakukan pembersihan, sehingga kampus PTN ini tidak lagi menjadi pemasok SDM penentang ideologi negara.

Kasus seperti ini bisa saja terjadi, karena mungkin kemampuan pemerintah dalam hal kontrol sedang mengendor.

Dengan demikian, tutur Cholid, ISNU perlu pro aktif, mengembangkan sayapnya di kampus-kampus besar dan negeri untuk menghadang gerakan radikalisme dan terorisme yang terus menerus mengintai para mahasiswa untuk direkrut dan dilibatkan dalam gerakan radikal teror. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: