Imam Besar Chechnya: Terorisme dan Ekstrimisme Berasal dari Kebodohan

Jum’at, 29 Juli 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, PEKALONGAN – Konferensi Internasional Bela Negara yang digelar Rabu-Jumat (27-29 Juli) menjadi momen berbagi pengalaman para masyaikh yang dialami di negara asal masing-masing. Salah satunya adalah sebagaimana yang dikisahkan oleh Syaikh Adam Syahidov, Imam Besar Masjid Aragon, Chechnya.

Beliau menceritakan kondisi negaranya yang saat ini mencapai stabilitas yang sangat kontras dengan keadaan beberapa puluh tahun lalu. Rakyat Chechnya pernah hidup dalam cekaman selama bertahun-tahun sebab ekstrimisme, teror, dan peperangan. (Baca juga: GP Ansor Tolak Gerakan Takfirisme yang Bahayakan Kesatuan Bangsa)

Namun kini, Chechnya menjadi negara makmur, rakyatnya hidup dalam taraf religiusitas yang bagus. Jamaah shalat Shubuh di masjid agungnya sebagaimana jamaah shalat Jum’at banyaknya, yang dilangsungkan bersama presiden bersama segenap jajaran pemerintahan.

Belum lagi jika membicarakan tingkat kesejahteraan secara ekonomi dan sosial. Perkembangan ini tak lain merupakan prestasi, patut diapresiasi dan diikuti oleh negeri-negeri kaum muslimin yang saat ini masih berkecamuk oleh perang.

Syaikh Ahmad Naoki Maeno dari Jepang menanyakan bagaimana cara pemerintah Chechnya memberantas para teroris yang lama bercokol di sana. Sedangkan Syaikh Shaleh Jamalullail dari Afrika Tengah bertanya-tanya, adakah forum yang mempertemukan antara ulama-ulama berpandangan moderat dengan mereka yang ekstrim?

Syaikh Adam Syahidov bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada juga rombongan ulama dari China berkunjung ke Chechnya. Mereka menanyakan hal serupa, karena di kalangan muslimin China mulai muncul kelompok-kelompok yang gemar mengkafir-kafirkan sesama muslim, padahal hal ini bisa menjadi bibit fanatisme dan ekstrimisme, sangat berpotensi menumbuhkan bibit terorisme. (Baca juga: Gus Mus: Ngajak Masuk Islam Kok Mekso)

Dalam menanggulangi paham terorisme, Chechnya sangat berterima kasih kepada tokoh-tokoh ulamanya. Salah satu tokoh kunci ialah Syaikh Ahmad Kadyrov. Beliau memahami betul bahwa peperangan yang terjadi pada saat itu sangatlah politis. Sama sekali bukan jihad. Maka beliaupun gencar mengajak para ulama lain untuk memberikan pencerahan kepada lebih dari 10.000 pemuda disana tentang jihad.

Syaikh Ahmad Kadyrov menyampaikan dalil-dalil agama yang jelas disertai dengan penalaran logis. Sehingga para pemuda pun yang awalnya menggebu-gebu berjihad perang tanpa arah bisa tersadarkan, melakukan hal-hal konstruktif yang lebih bermanfaat bagi bangsanya. Beliau juga memerangi para ekstrimis yang aslinya memang tidak begitu paham agama dengan cara merangkul mereka, memberikan pemahaman yang tepat tentang jihad.

Kisah tentang kiprah Syaikh Ahmad Kadyrov dan para ulama lain di Chechnya ini sudah dibukukan oleh seorang doktor dari Al-Azhar, Mesir. Saat ini, paham terror dan ekstrim tak lagi menarik bagi mayoritas warga Chechnya. Mereka sudah tentram dengan keberagamaan yang sejuk dengan spiritualitas, kecintaan kepada nabi, serta kedekatan dengan para ulama. Dari sekitar seribu masjid di Chechnya, tiada satupun masjid memiliki imam dan takmir melainkan berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy’ari-Maturidi.

Almarhum Syaikh Ahmad Kadyrov, kemudian dilanjutkan oleh para ulama dan penerusnya hari ini, menyadari betul bahwa pemikiran tak bisa dikalahkan kecuali dengan pemikiran pula. Terorisme dan ekstrimisme berasal dari kebodohan, sedangkan gelapnya kebodohan hanya akan sirna dengan cahaya ilmu. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan segala potensi; energi, media, waktu, dan semua pihak untuk menebarkan pemahaman ini secara masif. (ISNU)

Sumber: Jatman Event

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: