Indahnya Bulan Puasa di Kerajaan Sunda Pajajaran

Islamnusantara.com – DI zaman Pajajaran (1482-1579 Masehi) pemerintah sangat terbuka bagi masuknya agama lain di luar agama Sunda yang sudah mereka anut sejak lama dan jauh sebelum kehadiran agama-agama yang datang dari luar Sunda. Pemerintah dan rakyat Pajajaran, tidak menolak tatkala Hindu dan Budha masuk ke Jawa Barat, dan apalagi ketika Islam masuk, sebab istri Sri Baduga Maharaja dan ketiga orang anaknya sendiri beragama Islam. Seperti yang tertera dalam sejarah, disebutkan bahwa Nyi Subanglarang, istri Sang Prabu, dulunya adalah murid terkasih Syeh Quro pendiri Pesantren Quro di daerah Karawang. Ketiga putra-putrinya yaitu Walangsungsang, Rara Santang dan Raja Sangara, juga tak dilarang ikut agama ibunya. Maka tak mustahil pula, kebijakan Sri Baduga Maharaja dalam memperlihatkan rasa toleransi beragama, juga telah memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama apapun.

Kaula henteu nyarék somah pindah agama

Nu dicarék mah pundah-pindah agama

Sabab éta sarakah ngaranna

Ucapan Sri Baduga Maharaja seperti ini, konon merupakan isyarat soal kebebasan beragama, namun Sang Prabu juga mengisyaratkan bahwa agama janganlah menjadi mainan sebab itu adalah sebuah keyakinan yang harus dipegang teguh sampai mati.

Walau pun masih dipeluk oleh sebagian kecil penduduk Pajajaran, namun masyarakat yang sudah memeluk Islam, tidak merasa dirinya sebagai masyarakat minoritas, sebab hak-haknya sebagai warga-negara selalu dilindungi negara. Salah satu perlindungan kepada pemeluk Islam kala itu, di antaranya adalah rasa hormat Raja terhadap berbagai kewajiban yang tengah dilakukan para pemeluk agama lain selain ajaran Sunda. Orang Pajajaran yang sudah memeluk Hindu, tidak dilarang melakukan ritual Hindu, termasuk membangun sarana peribadatannya. Begitu pun juga terhadap masyarakat minoritas Islam. Mereka bebas-bebas saja melakukan ritual agamanya, termasuk juga membuat sarana peribadatan.

Bulan Ramadhan di zaman Pajajaran, sudah merupakan sebuah bulan yang lumrah dan banyak diketahui oleh masyarakat Pajajaran non-Islam. Mengapa tidak begitu, sebab tradisi puasa, yaitu tidak makan dan minum di siang hari, juga sudah sejak lama dianut jadi bagian kegiatan agama mana pun. Orang Hindu Pajajaran biasa melakukannya, orang Agama Sunda Pajajaran biasa melakukannya, dan apalagi orang Islam Pajajaran. Puasa sudah tidak dilihat hal aneh di Pajajaran di saat bulan Ramadhan tiba.

Karena kehidupan beragama kala itu begitu beragam dan dihormati baik oleh Raja,maupun oleh Negara dan seluruh rakyat, maka rasa saling hormat menghormati sesama pemeluk berlainan agama, bisa berlangsung dengan normal, tidak dibuat-buat. Tak ada perilaku saling ejek di kalangan masyarakat berlainan agama. Bahkan sebaliknya, masyarakat berlainan agama kala itu, bisa saling bantu. Semisal bila umat Islam Pajajaran tengah mengadakan kenduri untuk ritual keagamaan, maka masyarakat lainnya ikut membantu. Situasi saling membantu berbagai keperluan di antar-agama, mungkin masih tersisa hingga kini di Masyarakat Adat Cigugur, Kuningan. Di Cigugur, beragam agama ada di sana, bahkan di satu rumah. Orangtua memeluk agama Sunda, anak-anak bebas memilih, ada yang Kristen ada yang Islam dan mereka saling bantu bila berlangsung acara ritual agama masing-masing. Prikehidupan seperti ini juga terdapat di Kecamatan Pisangan, wilayah utara Karawang. Semua agama ada di sana, namun hidup mereka rukun dan damai. Mayoritas penduduk di sana adalah Cina beragama Konghucu, namun bila ada kenduri natalan, mereka bantu orang Kristen, bila ada mauludan, mereka bantu kendurian dan peringatan mauludan, begitu pun sebaliknya. Ketika di Karawang Kota sempat terjadi hiruk-pikuk pertikaian etnik, maka wilayah utara Karawang menjadi wilayah paling aman. Mungkin mereka terpengaruh oleh adat-istiadat orang Pajajaran, sebab baik di Cigugur maupun di utara Karawang, situs dan sisa ajaran Pajajaran masih melekat.

PajajaranBulan puasa Ramadhan di zaman Pajajaran adalah bulan penuh kesucian. Suasana selalu sepi, jauh dari hiruk-pikuk, sebab masyarakat Islam Pajajaran setiap hari selama satu bulan penuh, kerjanya hanya ngisat jiwa, ngisat raga, waktu juga dihabiskan untuk tolab ilmi, mencari berbagai ilmu untuk kelak digunakan dan direalisasikan selepas ramadhan. Bulan puasa di zaman Pajajaran, waktu hanya dihabiskan melatih raga dan batin agar hidup selanjutnya lebih sempurna. Yang namanya berbuka, bukan melakukan keserakahan makan dan minum semua makanan hingga perut buncit, melainkan hanya sekadar usus tidak mengkerut saja. Begitu pun tatkala Ramadhan berakhir dan menyambut Bulan Syawal, mereka tidak berpesta-pora berlebihan.

Di waktu berpuasa, orang Pajajaran sama dengan kita yaitu berpatokan pada waktu subuh dan magrib. Hanya saja karena jam belum didapat, maka, di antara mereka ada yang menggunakan patokan waktu dengan sebuah alat yang diisi pasir. Pasir itu diisi di saat matahari mau muncul dan akan habis terbuang di saat matahari tenggelam. Namun kebanyakan hanya dihitung secara naluri saja, yaitu dengan melihat “kingkilaban” di saat subuh dan melihat matahari tenggelam di saat senja. Bila cahaya matahari tidak bisa dilihat, maka mereka melihat keluarnya kelelawar sebagai tanda subuh akan berakhir, atau melihat ribuan kelelawar itu pulang ke sarang sebagai tanda magrib sudah tiba.

Saling bersalaman di hari raya Idul Fitri memang sudah dilakukan, namun yang ikut menyalami juga masyarakat Pajajaran pemeluk agama lain.

Begitu damainya toleransi beragama di zaman Pajajaran, kalau saja tidak diakhiri dengan urusan-urusan berbau politik. Di zaman Pajajaran, belasan tahun lamanya terjadi peperangan dengan Cirebon dan disebutkan sebagai pemaksaan Cirebon (dan belakangan juga Kesultanan Banten), agar Pajajaran seluruhnya berganti agama menjadi Islam. Namun Sri Baduga Maharaja sendiri kala itu tidak menyebutnya sebagai perang agama, melainkan perang melawan keserakahan. Sri Baduga Maharaja sempat memerintah para patihnya untuk membereskan Cirebon karena Cirebon memisahkan diri dari Pajajaran. Penyerbuan Pajajaran atas Cirebon (namun di zaman Sri Baduga Maharaja tak sempat terjadi), bukan karena agama, melainkan karena Cirebon bertindak separatis, menolak membayar pajak dan memisahkan diri dari negara karena membuat negara sendiri. (ISNA/Aan Merdeka Permana)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: