Indahnya Wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin

Sabtu, 05 Agustus 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Islam adalah agama yang mengedepankan kedamaian. Hal itu secara multilateral, disepakati oleh umat Islam di seluruh dunia. Islam yang secara implementatif dihadirkan dengan keramahan dan kesantunan bagi pemeluknya untuk hidup bertoleransi, tenggang rasa, tolong menolong, berlaku adil, sopan santun, saling menentramkan, menghargai antar sesama muslim maupun lintas agama. Maka, sikap inilah yang seharusnya dirawat agar tetap stabil dalam menjalani harmonisasi kehidupan yang dinamis.

Wujud dari keindahan Islam itu dapat memancarkan kesejukan pada setiap orang dengan memberikan pemahaman yang baik antar sesama manusia. Memanusiakan orang lain dengan membimbing orang yang dalam kesesatan dengan menunjukkan jalan kebenaran yang nir-kekerasan.

Namun sebaliknya, mencoreng keindahan Islam justru menghadirkan Islam yang selalu identik dengan pemikiran stagnan (tekstual an-sich). Bahkan Islam diganti esensinya dengan Islam marah, mudah menyesatkan, dan mengintimidasi seseorang yang salah jalan (sesat).

Di samping itu, realitas kekerasan dan tindakan anarkistis yang belum berujung, justru dapat dikatakan bertolak belakang dengan Islam yang damai dan menjungjung nilai-nilai universalitas kemanusiaan. Sepertinya ajaran Islam masih belum terwujud sebagai agama kasih-sayang secara universal, dikarenakan masih terkontaminasi distorsi pemaknaan amar makruf nahi munkar bernuansa persuasif,  dijelmakan dalam wujud lain; tangan-tangan besi, pentungan, bahkan senjata tajam.

Mereka yang mengaku sebagai pemandu Islam yang kaffah, tidak mendalami nilai-nilai kemanusiaan secara cerdas serta bijaksana. Yang ada hanya tindakan sewenang-wenang memonopoli peran arapat kepolisian dan negara, dengan merusak hakekat “tahaddusts bin nikmah” melalui tindakan radikalisme dan terorisme berbaju agama.

Islam seolah-olah sebagai topeng semata, syiar dan tindakan kelompok ormas garis keras saya kira sebatas bualan belaka. Alih-alih menyanjung persatuan dan kesatuan iman dan takwa kepada Sang Khaliq, padahal tidaklah demikian, sebagaimana ayat suci al-Qur’an yang berbunyi; tahsabuhum jami’an waqulubuhum syatta (surat Al-Hasyr ayat 17).

Islam yang ditegaskan sebagai agama kebenaran hakiki, direduksi dengan pemahaman artifisial maupun penafsiran parsial berwajah sangar. Mudah memasung pikiran serta kebebasan seseorang sehingga tidak segan-segan oknum berjubah melabelkannya dengan gelar sesat, kafir, dan murtad. Demikian juga, orang Non-Muslim yang masih meneguhkan agamanya (selain Islam) atau Atheis halal darahnya untuk dibunuh. Seolah pintu petunjuk serta hidayah Allah tidak ditambatkan ke dalam hati mereka (pelaku tindakan anarkis), bahwa suatu saat ia akan menyadari betapa Islam Agama cinta dan kasih sayang.

Lihatlah pada masa Nabi Ibrahim ketika melakukan perjalanan spiritualitas dengan pencarian kebenaran Tuhan, yang hingga berakhir pada Agama pilihanya, Agama Allah yaitu Islam.  Sebagaimana di dalam surat Al-Anbiya’ ayat  50-70, Al An’am ayat 74-79. Seperti ayat menyebutkan bahwa la ikraha fiddin lebih cocok tiada paksaan maupun tindakan koersi bagi mereka yang masih belum mendapatkan hidayah atau petunjuk Allah SWT.

Kiranya banyak fakta kalangan artis maupun lainnya – yang secara impulsif sadar atas pilihan keyakinan hakiki menjadi muallaf, memantapkan segala jiwa dan raga bahwa Islamlah agama perlabuhan terakhir hingga akhir hayatnya.

Dapatlah diketahui, bahwa hidayah sejatinya hadir seiring ridha Allah SWT., di mana pun berada. Maka dari itu, indahnya Islam akan merasuk ke dalam jiwa tiap-tiap insan jika dilalui dengan kelapangan hati serta kejujuran total dari seorang Muslim atau orang Islam. Ia bukan dicaplok oleh para legitimator semu; menegaskan dirinya sebagai tentara Tuhan yang sah men-take-over ke Maha Mandirian Tuhan.

Wajah Islam yang dihadirkan dengan sentuhan kedamaian dan keselamatan tiada lain sebagai tujuan Islam yang sebenarnya, maka tidak bisa dipelintir melalui syiar kebencian (ya’muruna bil munkari, wayanhauna ‘anil ma’ruf) serta aksi barbarisme, vandalisme, maupun tindakan anarksime. Jika secara fundamental tidak bisa merubah suasana yang menurut mereka adalah jalan kemaksiatan dan kesesatan, ujung-ujungnya disodorkanlah senjata paling jitu yaitu kekerasan, koersi, maupun intimidasi.

Dengan cara itulah menurut kelompok yang paling shahih sejati adalah cara jitu untuk membasmi kebatilan serta kemungkaran. Hal itu akan menegaskan ego personal dan kelompok garis keras – yang mau menang sendiri (selain kelompoknya salah), sampai terlupa bahwa perbedaan entah parsial maupun utuh dapat didiskusikan maupun diperdebatkan lagi, hingga saling menemukan titik juntrung permasalahannya.

Masihkah kita dikatakan sebagai orang Islam yang mengaku Muslim sejati yang mencintai keindahan jika mudah tersulut emosi berbuah anarki? Masih kita dikatakan Muslim yang menghargai keberagaman agama serta kebebasan berpikir (penafsiran) jika pada akhirnya murah melabelkan orang lain sesat, kafir, dan murtad?

Tulisan yang sederhana ini sebagai miniatur gagasan mengenai indahnya wajah Islam yang semestinya menebar kesejukan serta keindahan di lintas keyakinan agama. Selain menanggapi sekelumit persoalan yang dapat direfleksikan di tengah kemelut persoalan besar umat Islam yang mudah marah dan terpecah belah. Sekali lagi Islam itu Rahmatan Lil Alamin. (ISNU)

Ditulis oleh Fathor Razi, alumnus Magistes Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: