Indonesia Darurat Proxy War

29 Februari 2016,

BOGOR, ISLAMNUSANTARA.COM –  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menilai tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sudah dalam tahap darurat perang Proxy (Proxy War). Untuk itu perlu gerakan masif membangkitkan nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong-royong untuk menangkalnya.

NKRI Harga Mati“Perang Proxy sudah melanda semua lini kehidupan bernegara, berbangsa, bahkan sudah hadir di tengah kehidupan keluarga,” tegas Panglima TNI di Sentul, Bogor, Minggu (28/2).

Pancasila dan gotong-royong men­jadi satu-satunya senjata am­puh menangkal perang Proxy. Li­ma sila terkandung dalam Pancasila sudah mengakomodasi dan melindungi tatanan hidup berbangsa dan bernegara, termasuk dalam kehidupan di tengah keluarga.

“Jadi untuk mengatasi proxy war bangsa Indonesia sudah me­miliki semuanya, yakni dengan Pan­casila dan semangat gotong ro­yong,” tegasnya.

Dia mencontohkan ancaman perang proxy, seperti demo anarkhis buruh perusahaan, tawuran pelajar, tawuran mahasiswa berujung pembakaran fasilitas kampus, narkoba, penyebaran paham radikal, dan adu domba personel TNI dengan Polri.

Termasuk memecah belah par­tai politik dengan memanfaat­kan media massa merupakan serangan Proxy. Parpol dipecah belah sehingga tak lagi fokus untuk menjalan fungsinya dalam tatanan kehidupan demokrasi.

Menurut Gatot, semuanya itu di desain dan dikendalikan dari luar oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan dengan memanfaatkan orang dalam. Jika ini ti­dak disadari, bangsa Indonesia sedang menuju kehancuran.

Sebelumnya, TNI bersama belasan asosiasi dan organisasi media televisi meneken Pakta Pertahanan Proxy War Media di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta. Pakta Pertahanan Media untuk memerangi ancaman perang Proxy media.

Dari TNI, Pakta pertahanan di­teken Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI May­jen TNI Tatang Sulaiman. Sedangkan dari TV Berita Mitra Warga (BMW) diteken CEO BMW Media Group Arvin Miracelova.

Sebanyak 11 asosiasi dan organisasi media ikut serta meneken adalah Produksi Film Indonesia (PFI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Penerbit Indonesia (IPI), Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI).

Indonesian Cable Television As­sociation (ICTA), Komisi Cor­po­ra­ti­on Social Responsibility Nasional (KCSRN), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Asosiasi Bai­tul Maal wa Tamwil, Buqu Glo­bal, NIN Media, dan Dewan Masjid.

Selain penekenan pakta pertahanan, TV BMW notabene berafiliasi TNI, juga meneken nota ke­se­pahaman (MoU) dengan PFI, PGRI, IPI, APPTI, ICTA, KCSRN, PBNU, dan Asosiasi Baitul Maal wa Tamwil.

TNI dan TV BMW bersama organisasi yang ikut dalam penekenan pakta partahanan akan melakukan program inkubasi pembinaan konten televisi. Diantaranya, program tayangan ‘Pondok Cerdas Warga’.

Program ini berorientasi pem­ber­dayaan yang berwawasan nasionalis religius. “Tayangan ini sarana masyarakat untuk belajar kon­ten positif dan mengajak masyarakat membangun potensi lokal yang edukatif,” ujar Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI, Kolonel (Czi) Berlin Germany.

Menurut Panglima TNI, ancaman perang Proxy sekarang ini se­makin nyata. Infiltrasi dilakukan agresor tak lagi mengguna­kan kekuatan senjata maupun militer, melainkan dengan cara humanis sehingga tidak melanggar HAM.

Perang Proxy, lanjut Gatot, berperang di segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Musuh tak terlihat karena menggunakan pihak ketiga, diantaranya media.

Menghadapi semua itu, menurut dia, perlu ada media penyeimbang namun dengan biaya murah dan dapat menjangkau semua­nya. Ini dilakukan TNI dengan menjalin kerjasama dengan masyarakat dan media. (ISNU)

Sumber: SuaraKarya

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: