Inilah 4 Tanda Munculnya Radikalisme Menurut Anggota DPR RI

Sabtu, 11 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Yogyakarta – Sekolah berbasis Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejauh ini terbebas dari jaringan ISIS atau Al Qaida. Namun, mereka diminta tidak terlena dengan munculnya radikalisme di sekolahnya. Sekolah Islam perlu mewaspadai empat tanda munculnya radikalisme.

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta mengatakan ada empat tanda yang menjurus pada munculnya radikalisme. Tanda-tanda munculnya radikalisme itu adalah intoleran, fanatisme, eksklusif dan sikap yang revolusioner.

“Empat tanda itu yang harus dihindari. Guru juga jangan mengajarkan yang demikian,” kata Sukamta dalam seminar pendidikan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) “Menggagas upaya efektif dalam menanggulangi penyebaran paham radikalisme dan budaya kekerasan pada pelajar” di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta, Kamis (9/11).

Sukamta menjelaskan, sikap intoleran merupakan sikap yang tidak mau menghargai pendapat orang lain. Untuk meninimalisir intoleransi perlu menumbuhkan dan menghidupkan iklim budaya diskusi di kalangan anak-anak. “Intoleran terhadap pendapat orang lain, kalau dibiarkan akan terus tumbuh. Suatu saat muncul sikap radikal,” kata dia.

Sekretaris Fraksi PKS DPR ini mengungkapkan, fanastisme perlu dihindari. Sikap fanatisme merupakan anggapan pendapatnya yang paling benar. “Jangan biarkan mengajarkan dan mendidik anak-anak dengan fanatisme. Itu suatu saat akan menjadi sikap anak-anak didik,” tegasnya.

Sukamta menjelaskan, anak-anak yang cenderungan ekslusif dan suka menyendiri punya kerawanan menjadi radikal. Ekslusif karena tidak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang heterogen. “Eklusif karena tidak terbiasa bergaul dengan orang lain yang berbeda pendapat dan sikap. Suatu saat ini akan membahayakan,” ungkapnya.

Politikus PKS ini mengungkapkan, anak yang bersikap revolusiuoner biasanya dilatabelakangi karena suka memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Kekerasan seolah menjadi ideologi bagi seorang revolusioner. “Itu terjadi karena karena fanatisme kelompok, sekolah, seragam,” ujarnya.

Menurut dia, sekolah berbasis Islam tetap harus mengajarkan anak didiknya secara ilmiah dan rasional mengingat dunia ini beragam. “Dulu ada sekolah Islam yang sempat trend, seperti tidak mau upacara atau menghormat bendera. Itu salah satu tanda benih radikalisme lahir,” tegasnya. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: