Inilah Beberapa Jalan Amal yang Ditempuh Para Sufi

Senin, 06 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Amal ibadah seorang hamba terutama para sufi sebagai salah satu pengejawantahan dalam usahanya mendekatkan diri pada Allah dan sebagai bentuk manifestasi rasa syukurnya kepada Allah,  jalan dan caranya tidaklah satu macam. Mereka memilih jalur amal yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Syekh Zainudin bin Ali dalam kitab Hidayah Al-Adzkiyaa setidaknya memberikan empat contoh dari bentuk amal-amal kebaikan tersebut sebagai pilihan tariqoh yang sesuai makom dan posisi masing masing orangnya. Hal itu sebagaimana keterangan dalam nadham yang tertulis di bawah ini:

لكل واحدهم طريق من طر ق # يختاره فيكون من ذا واصلا

كجلوسه بين الانام مربيا # و ككثرة الاوراد كا لصوم الصلا

و كخدمة لناس والحمل الحطب # لتصدق بمحصل متمولا

“Tiap-tiap dari kelompok manusia (para sufi) itu memiliki jalan ibadah dari beberapa macam amal ibadah yang dipilihnya yang dapat menghantarkannya Wusul kehadhratillah”.

“Seperti duduk mengajar sesama manusia, memperbanyak wirid-wirid misalnya puasa dan shalat”.

“Dan seperti berkhidmah demi kepentingan umum, dan mencari kayu bakar yang kemudiah hasil dari penjualan kayu bakar tersebut disedekahkan”.

Atas nadham dalam kitab Hidayah Al Adzkiyaa di atas Syekh Nawawi Albantani memberikan beberapa anotasi (catatan) dalam syarahnya Salalim al-Fudhola bahwa masing-masing hamba yang berjalan menempuh tariqoh supaya dpt wusul kepada Allah itu mempunyai banyak pilihan amal. Di antaranya:

Pertama, terdapat para penempuh jalan sufi yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Dengan pengajaran ini bertujuan supaya umat yang masih awam mau beribadah kepada Allah serta memiliki akhlak yang mulia.

Kedua, ada sebagian orang yang menjalani toriqoh dengan cara memperbanyak wirid, seperti mengerjakan shalat-shalat sunah dan puasa-puasa sunah, membaca al-qur’an, bertasbih, dan lain sebagainya. Toriqoh macam ini menurut Syeh Nawawi merupakan toriqohnya kaum sholihin  yang telah memiliki maqom tajrid. Yaitu suatu makom yang melulu digunakan untuk beribadah dan menghiraukan faktor asbab seperti bekerja misalnya.

Ketiga, sebagian lain terdapat pula orang-orang shufi yang menjalani toriqoh dengan cara mengabdi melayani para ulama fikih dan kaum sufi. Toriqoh semacam ini menurut pendapat Syeh Nawawi lebih utama daripada amalan sunah, karena selain beribadah juga ada unsur menolong kepada kaum muslimin.

Argumen ini dikuatkan oleh salah satu pernyataan Sayyid Abdul Qodir Aljailani:

“Aku bisa Wusul kepada Allah bukan karena shalat di malam hari dan bukan karena puasa di siang hari, tapi lantaran sifat dermawan, rendah hati, dan kelapangan hati”.

Keempat, lanjut Imam Nawai, ada juga segolongan sufi yang setiap harinya mencari kayu bakar di hutan dan kemudian kayu tersebut dijual di pasar. Uang hasil penjualan kayu tersebut lalu disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Ibadah semacam ini adalah suatu amal yang sangat berguna bagi sesama manusia dan akan menghasilkan berkah karena orang tersebut akan didoakan oleh orang-orang yang disedekahi.  (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: