Inilah Dua Ajaran Rasulullah SAW Tangkal Terorisme Menurut Habib Lutfi

-habib-lutfi-konferensi-ulama-thariqah-640x420Sabtu, 16 Januari 2016

PEKALONGAN, ISLAMNUSANTARA.COM – Para ulama di Indonesia khususnya NU melihat ke-Islaman dan ke-Indonesiaan bukan sesuatu yang bertentangan, melainkan terjadi irisan diantara keduanya.

Mengingat pentingya sosialisasi relasi agama dan negara bagi masyarakat, Jum’at (15/1/2016) diadakan Konferensi Ulama Thariqah dengan tema “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya dalam Islam”.

Sembilan ulama yang terdiri dari Mursyid Thariqah, Ulama dan akademisi dari 9 negara membahas tema itu. Dan hasilnya akan disampaikan pada Silaturahmi Mursyid Thariqah pada Sabtu (16/1/2016).

Pada acara itu, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya mengatakan, umat Islam seharusnya menyandarkan diri pada dua ajaran Rasulullah SAW, yakni tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran)

Dia menjelaskan,  sudah waktunya dua prinsip itu mencerahkan Muslim Indonesia agar pilar kehidupan berbangsa semakin kokoh.

“Jika pilar ini kokoh maka gerakan radikal yang memicu konflik serta membakar sumbu peperangan atas nama akidah tidak lagi mempan,” katanya.

Menurut Ketua Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdhiyah itu, salah satu alasan digelarnya konferensi ulama thariqah dengan tema “Bela Negara” adalah untuk membendung paham radikal agar tidak berkembang.

“Bela negara yang dimaksud bukanlah bela negara yang sempit yaitu membela keamanan dengan angkat senjata, sama sekali bukan,” katanya di Pekalongan, Jumat (15/1/2016).

Bela Negara yang dimaksud, kata Habib Lutfhi, adalah dalam arti komprehensif yaitu menyangkut seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia. “Beberapa aspek itu antara lain aspek akidah, pendidikan, dan aspek ekonomi. Aspek aqidah ini sangat pokok sebagai sistem ideologi keagamaan,” katanya.

Menurut dia, dunia Islam membutuhkan aqidah yang moderat dan toleran terhadap segala perbedaan yaitu agama, bahasa, ras, suku, dan jenis kelamin.

“Banyak terjadi konflik dan peperangan antara umat atas nama aqidah sehingga hal ini mudah menyalahkan dan memusuhi kelompok lain. Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah tidak hanya menyangkut politik tetapi juga menyeret masalah agama dan aqidah,” katanya.

Ulama-ulama yang telah hadir diantaranya adalah Shaikh Aun al-Qaddumi (Yordania), Syaikh Umar Hadrah (Sudan), Syaikh Muhammad Sulaiman (Sudan), Shaikh Fadhil al-Jilani (Turki), Shaikh Aziz Abidin (USA), Syaikh Adnan al-Afyuni (Mufti Syria), Syaikh Omar Dieb (cucu Shaikh Rajab Dieb an-Naqsybandi), Shaikh Syadi Mustafa Arbasy (Syria), Shaikh Mahmud (Syria), Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya (Yaman), KH. Saifuddin Amsir (Jakarta), KH. Ali Mas’adi (Wakil Rais ‘Am JATMAN), KH. Masbuchin Faqieh (Gresik), KH. Mu’thi Nurhadi dan KH. Thobary Syadzily (Banten).

Syaikh Aun al-Qaddumi dari Yordania menuturkan, “Indonesia adalah negara dengan tingkat kerukunan hidup beragama yang sangat tinggi”.

Konferensi Thariqah Internasional ini diselenggarakan sebagai refleksi betapa pentingnya kedudukan ulama disamping pembimbing ummat juga sebagai garda terdepan membela negara (wathan) menuju perdamaian dunia.

Kegiatan ini diadakan sebagai bagian dari rangkaian “Peringatan Maulid Akbar Kanzus Shalawat 2016” puncaknya pada Minggu (17/1/2016)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: