Inilah Karomah Mbah Hamid Chasbullah Tambak Beras

Kamis, 18 Agustus 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, JAKARTA – Mbah Yai Chamid adalah putra mbah Chasbulloh Said Tambak Beras yang wafat tahun 1956 M. Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang belajar dari Makkah, hidup beliau hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk ngajar para santri atau ngaji di kampung kampung sekitar Tambakberas saja. Jadi, bisa dikata, mbah Hamid yang mbengkoni pondok dengan dibantu mbah Yai Fattah, sedang mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja mbah Wahab ngajar santri.

Di antara kelebihan mbah Hamid:

Pertama, istiqomah mengajar dan ngimami di masjid pondok. Keistiqomahan inilah yang melahirkan kelebihan kelebihan mbah Hamid yang lain. Bukti lain dari istiqomahnya mbah Yai Hamid dapat ditelusuri dari cerita Mbah Suroso (lahir tahun 1930, beliau santri, sekaligus tukang nyapu masjid dan pondok). Mbah Suroso bertutur kepada saya pada tgl 15 Agustus 2016 di bancik masjid setelah jamaah dzuhur, bahwa Yai Hamid berpesan kepada mbah Suroso (yang saat itu minta ijazah doa) agar dimanapun berada, asal tidak di tempat kotor (seperti wc dll) supaya membaca sholawat, kalau capek baca sholawat bisa ganti baca surat ikhlas. Disini bisa dipahami, amalan rutin mbah Hamid salah satunya ya membaca sholawat dan surat ikhlas.

Kedua, memindah dan menghentikan hujan. Masih menurut mbah Suroso, kalau terjadi mendung di musim hujan, biasanya mbah Hamid akan keluar rumah ngawasi tukang yang sedang membuat bata merah (mbah Hamid berdagang bata merah, dan ini dilanjuntukan oleh putranya, Kyai Sholeh). Ketika mbah Hamid keluar rumah, maka biasanya mendung tidak jadi menurunkan hujan.

Ternyata orang orang kampung Tambak Beras menjadi makmum Yai Hamid dalam membuat bata. Artinya, sekalipun musim hujan, tapi kalau mbah Hamid masih membuat bata merah, maka masyarakat akan ikut buat bata karena tidak kawatir hujan. Kata mbah Suroso, tradisi bisa “mengendalikan” hujan ini dilanjuntukan oleh Yai Sholeh, dan masyarakat juga masih menjadi makmum terkait membuat bata merah ini.

Masih berhubungan dengan penghentian hujan, gus Rozak pernah diberitahu KH. Ahyar, suatu saat Yai Ahyar ikut acara pengajian rojabiyah di desa Ngledok, terjadilah hujan deras. Lalu mbah Hamid naik ke panggung dan bicara, “Derek-derek, niki ngaos terus, nopo bubar???” (saudara semua, pengajiannya terus atau berhenti). Jawab jamaah, “Ngaos Mbaaah.” (terus ngaji Mbah). Akhirnya mbah Yai Hamid berdoa dan belum selesai do’anya, hujan sudah reda sampai pengajian selesai.(cerita dari gus Rozak dan tim Bani Hamid yang sowan ke KH. Ahyar pada 15-8-2016).

Ketiga, KH. Wachid Hasyim dan takwil mimpi. Suatu saat, KH. Wachid Hasyim pergi ke Tambakberas untuk sowan ke mbah Wahab Chasbulloh. Setelah bertemu mbah Wahab, Yai Wachid minta ditakwilkan mimpinya yang berupa kejebur atau kecemplung sumur.

Tahu Yai Wachid minta takwil mimpi, maka mbah Wahab menyuruh Yai Wachid untuk menemui adik mbah Wahab, yakni mbah Hamid. Ketika Yai Wachid bertemu mbah Hamid dan bercerita tentang mimpinya, maka mbah Hamid hanya menangis.

Setelah Yai Wachid pulang, mbah Wahab bertanya, “Lapo mbok tangisi? (kenapa kamu menangisi Yai Wachid). Jawab mbah Hamid, “Gus Wachid niku cepet drajatnya, tapi geh cepat pejahnya.” (Yai Wachid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya). Terbukti KH. Wachid Hasyim masih muda sudah jadi menteri agama, dan masih muda pula wafatnya. (riwayat dari KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada 16-8-2016).

Keempat, tidak bisa difoto. Beberapa santri memberi kesaksian tentang hal itu, termasuk KH Zubeir Paciran (mondok tahun 1950 an). Yai Zubair bercerita kepada gus Kuk dan saya (tim pemburu sejarah Bahrul Ulum saat 1 abad Madrasah) bahwa ada santri dari Probolinggo pernah memfoto mbah Hamid, tapi hasilnya kabur. Demikian juga KH. Ahyar (rois syuriyah NU Gudo, mondok seangkatan dengan Yai Afandi Indramayu) pernah bilang bahwa Mbah Hamid setiap difoto mboten pernah dados.

Selain cerita dari Yai Zubair dan Yai Ahyar, mbah Suroso mengatakan, suatu saat, gus Dollah (KH. Abdullah, santri yang nantinya jadi menantu Yai Hamid) mendatangi mbah Hamid yang mau ke kamar mandi untuk wudhu, terus gus Dollah bilang, “Yai, kulo mangke badhe moto Jenengan.” (KYai, nanti saya mau memfoto Jenengan). Mbah Hamid menjawab, “Tak wudlu disik.” (saya ambil wudhu dulu). Selang sebulan, gus Dollah bilang ke mbah Suroso dan santri santri lain bahwa hasil fotonya kabur atau kobong. Demikianlah, mbah Hamid tidak bisa difoto, jadi hingga sekarang, hanya ada dua foto mbah Hamid, tapi sama sama kabur atau tidak jelas. Untuk itu, dzuriyah mbah Hamid berikhtiyar untuk membuat sketsa foto mbah Hamid kemudian ditunjukkan ke santri santri beliau yang masih hidup untuk ditashih.

Kelima, Gus Ali Zamroni pernah berkunjung ke PBNU untuk menemui gus Dur. Gus Dur bercerita bahwa suatu ketika salah satu kYai fulan di Tambakberas mau mengadakan drum band dalam rangka menyemarakkan suatu kegiatan. Akan tetapi mbah Hamid tidak berkenan dengan alasan tertentu, hanya saja Kyai fulan tersebut ngotot, akhirnya mbah Hamid sholat dua rokaat, habis itu tiba tiba hujan deras. Akhirnya group drum band bubar.

Keenam, fatwa halalnya hormat bendera merah putih. Suatu saat jelang kemerdekaan, dilaksanakan bahsul masail. Terjadi perdebatan tentang boleh tidaknya hormat bendera merah putih. Debat mengalami jalan buntu, akhirnya mbah Hamid yang dikenal alim urusan fiqh diundang untuk menjawabnya. Dengan ringan dan cepat, mbah Hamid membolehkan hormat bendera dengan dasar nadhom syiir:

أمر على الديارِ ديارُ ليلى..أقبل ذا الجدار وذا الجدار

وما حب الديار شغفن قلبي..ولكن حب من سكن الديار

Jadi orang mencium rumah bukan karna cinta rumahnya, akan tetapi cinta pada penghuninya. Begitu juga hormat bendera, bukan kita hormat apalagi nyembah kepada bendera, akan tetapi hormat kepada yang telah memberikan kemerdekaan (ALLOH SWT). Hasil bahsul masail ini dibawa mbah Wahab ke Jakarta untuk disampaikan ke bung Karno dan para pendiri bangsa (cerita dari gus Imron Singosari dan gus Rozaq).

Mbah Hamid wafat pada 8 ramadhan. Setelah sahur, beliau terhuyung terus berbaring dan minta diambilkan Quran. Setelah quran di tangan mbah Hamid, beliau menutupi wajahnya dengan quran, dan innalillahi wainna ilayhi rajiun (seperti dituturkan kang Wan, 86 thn, pada 28 Juli 2016). Untuk mbah Hamid, alfatihah. (ISNU)

Sumber: AR. Al Amin

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: