Inilah Kekeliruan Gagasan Khilafah Menurut Sofi Mubarak

Rabu, 12 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Bandung —Komunitas Citizen Journalism Interdependen menggelar dialog kebangsaan dengan tema “Menolak Khilafah, Menguhkan Pancasila dan Keutuhan NKRI” di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (8/7/2017). Acara yang menghadirkan pembicara Muhammad Sofi Mubarok (Kandidat Doktor UIN Jakarta) dan Muradi (Pengamat Politik UNPAD) mendapat sambutan hangat oleh masyarakat.

Sofi Mubarak, penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah mencoba memaparkan materi “Kekeliruan Gagasan Khilafah”, yang dalam konteks keindonesiaan tertuju, salah satunya Hizbut Tahrir Indonesia. “Tak memperdulikan konsep persatuan dan kesatuan umat jika dikonfrontir dengan motif menegakkan agama. Yang penting ialah tegaknya Islam sebagai ideologi dan konstitusi negara serta kejayaan umat Islam”, pungkasnya.

Kesalahan dalam memetakan permasalahan agama dan membawa agama membawa seseorang ke arah yang lebih eksklusif dan berpotensi melahirkan generasi radikal dan militan. Sofi melanjutkan paparannya, “Berpotensi menciptakan kader-kader militan, radikal sekaligus militan. Tema jihad dan peperangan menjadi topik paling dominan dalam sistem kaderisasi. Hal ini muncul karena cara pandang yang tak holistik dan utuh terhadap dalil-dalil syariat”.

Di samping itu, Muradi yang juga Pengamat Politik UNPAD sempat berujar bahwa “Orang yang ingin mengganti negara adalah brengsek”. Ungkapan brengsek ini adalah bentuk tidak adanya penghargaan kepada para pendiri bangsa kepada para generasi Muslim yang hidupnya yang bertujuang ingin menegakkan Khilafah. “Khilafahnya versi Taqiyuddin Al-Nabhani lagi!”, sahut salah satu peserta di luar gedung.

Kesimpulannya menurut Sofi Mubarak akan adanya klaim bahwa Khilafah adalah solusi hanyalah simplistis saja. “Bahwa Khilafah dapat menjawab segala problematika umat merupakan pemikiran simplistis. Meminjam istilah Kiyai Afif, para pendukungnya tak melalui proses mengedentifikasi problematika dengan tahapan prosedural yang tepat, sehingga keliru menghasilkan kesimpulan/produk pemikiran,” tuturnya. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: