Inilah Para Figur Ulama yang Sering Dinistakan dan Disesatkan

Sabtu, 25 Februari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta –  Bertahun-tahun saya menyimpannya rapi dalam memori saya. Saya memilih diam (terlebih dahulu) ketika sekitar saya mencela Gus Dur maupun mencurigai Quraish Shihab. Saya tidak ingin bersilat lidah dengan orang-orang yang hatinya sudah condong. Saya menghormati pilihan mereka yang memilih ulama lain sebagai sumber ilmu. It’s okay. Berbeda jika sekiranya kita semua masih berangkat dari kemauan untuk mengosongkan dari prasangka dan hati yang jernih, saya tak enggan bertukar pikiran. Semoga kini niat saya untuk menuliskannya dijauhkan dari emosi yang tiba-tiba meledak lagi beberapa hari kemarin.

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Membicarakan Quraish Shihab bagi saya tidak lepas dari pembicaraan mengenai Gus Dur. Dua sosok unik yang sekaligus bagi sebagian orang jadi polemik.

Berawal dari video ceramah beliau di metro tv yang tiba-tiba mendapat komentar sesat di FB. Saya mencari tahu hal mana yang menjadikan seseorang dengan mudahnya menuduh sesat seorang ulama. Yang disoroti dalam video tsb adalah pernyataan Prof. Quraish mengenai jaminan surga bagi Nabi Muhammad. Berhubung ‘kasus’ ini telah ‘selesai’ bahkan mendapat klarifikasi langsung dari beliau, rasa-rasanya bukan kapasitas saya dan tidak perlu lagi dibahas dalam catatan ini. Yang jelas, bukan kali pertama ini kira-kira, pernyataan beliau kurang dipahami secara utuh. Padahal jika ditelaah, penjelasan beliau dapat diterima. Orang kebanyakan cenderung lekas ikut-ikut menghakimi hanya dari pernyataan sepotong-potongnya. Padahal jika disimak baik-baik lanjutannya, secara keseluruhan saya kira tidak ada yang bertentangan. Quraish Shihab dalam banyak penjelasan di berbagai kesempatan selalu mengajak pendengar untuk berpikir dan memahami konteks lebih luas. Seakan menghindari pemahaman yang setengah-setengah dan terkotak-kotakkan.

Tidak dipungkiri memang, penjelasan Quraish Shihab kadang memang tidak to the point, tidak langsung menembak sasaran. Tapi saya rasa itu justru menunjukkan keluwesan. Mengulurkan benang-benang yg pada dasarnya saling terkait. Bahasanya pun tidak selalu sederhana. Namun, hal ini seyogianya dapat dipahami mengingat latar belakangnya sebagai ahli tafsir. Masalahnya, kesimpulan yang ditarik oleh masing2 orang terlebih apabila tergesa-gesa inilah yang sesungguhnya menelurkan perbedaan pemahaman dan sikap.

Apa korelasinya dengan Gus Dur?

Sudak jamak diketahui, Gus Dur merupakan sosok yang banyak mengundang kontroversi baik dalam figurnya sebagai ulama/tokoh bangsa maupun karir politiknya selama menjabat sebagai presiden RI. Khususnya dalam konteks topik ini, berikut ada hal yang menurut saya boleh lah disejajarkan. Saya belum pernah mendengar sendiri redaksi kalimat Gus Dur yang mengatakan qur’an itu porno. Tapi hampir satu dekade yang lalu, itu pernah santer dibicarakan. Masih segar di ingatan saya, kalau tidak salah saya masih SMP/SMA, bapak pernah dhawuh tentang itu. “Banyak orang salah paham dengan Gus Dur. Kata orang-orang, Gus Dur itu terlalu sembrono dengan mengatakan quran itu porno? Welah. Padahal maksud Gus Dur mengatakannya adalah merujuk pada ayat mengenai ibu menyusui, dst. Gus Dur ingin berkata bahwa betapa tingginya keagungan dan kompleksitas qur’an sehingga hal ‘sepele’ seperti itu saja diatur langsung oleh Allah. Ada tuntunannya secara mendetail.”

Nah lho, bukankah itu menunjukkan penggunaaan bahasa yang menarik, kedalaman ilmu dipadu dengan selera humor yang tinggi? Lagipula, belakangan ini baru saya cek, sebenarnya redaksi kalimat utuhnya tidak seperti itu. Yang jelas, sejak itu seakan ditanamkan dalam diri saya supaya tidak mudah melabeli orang, husnudzan, khususnya terhadap ulama.

Bagaimana mungkin kita menuduh seseorang dengan label yang belum tentu benar? Apalagi hanya bermodal satu dua kalimatnya saja yang tidak disertai pengetahuan kita mengenai asbabun nuzulnya dan penafsiran yang lebih mendalam? Ini bisa jadi kesalahan fatal. Bagaimana mungkin kita terjebak pada penghakiman terhadap ulama dan ulil amri sementara mengabaikan lebih banyaknya jasa-jasa mereka? Dan sayangnya, kecurigaan itu melahirkan sikap antipati berlebih sehingga menghalangi sikap belajar kita terhadap mereka yang notabene adalah para guru besar islam. Ibaratnya, gara-gara (yang dianggap) nila setitik rusak sudah susu sebelanga.

Saya pribadi sedih mendengar ada teman-teman yang membatalkan diri untuk membaca buku hanya karena ditulis oleh seorang Quraish Shihab. Ya Allah, senista itukah beliau? Setidaknya tidak akan ada aqidah yang akan bergeser dengan mengkhatamkan buku beliau yang berisi nasehat seperti Pengantin Alquran. Saya menangkapnya justru menunjukkan kedalaman ilmu, penguasaan yang baik, serta keanggunan berbahasa. Deretan kalimatnya kentara ditulis dengan kerendahan hati, bak sastra dengan kelembutan yang menghaluskan budi.

Lebih ‘sebel’ lagi kalau ingat peristiwa kemarin. Kelompok yang biasanya sering berseberangan dengan Gus Dur, ketika pilpres malah menyitir pernyataan Gus Dur sebagai legitimasi guna melancarkan kampanyenya. Sungguh, sudah kita gadaikan kemana prinsip keadilan kita?

Betapa tidak adilnya kita. Betapa dzalimnya kita dalam menempatkan sikap.

Bahkan, seorang kritikus di twitter berujar kurang lebih seperti ini, “berani-beraninya anak kemarin sore menuduh sesat seorang ulama besar lulusan Kairo dan ahli tafsir?”

Ah ya, kita ini tak lebih dari muslim karbitan. Baru diperam kemarin sore beberapa hari yang lalu, dipaksa matang tapi bisa jadi lekas busuk beberapa hari lagi. Berbeda dengan mereka yang telah ditempa sedemikian rupa layaknya besi hingga kini jadi pedang. Lantas, masih pantaskah kita memperolok dan mengabaikan adab terhadap para ulama?

Karena beliau seorang ahli tafsir, menurut saya ada perlunya kita juga membuat tafsiran terhadap kalimatnya. Bukan menelan mentah-mentah di kala suka atau memuntahkan dengan sengaja ketika tidak sependapat.

Saya memelihara keyakinan ini supaya melahirkan sikap berbaik sangka khususnya kepada ulama sekaligus pemimpin atau orang-orang yang telah berjasa begitu besar kepada bangsa dan agama.

Kalau boleh dimisalkan, saya pribadi tidak sepakat dengan ideologi HTI. Tapi sebisa mungkin saya tidak menghalangi diri saya untuk mencari ilmu dari buku karya orang yang diduga HTI. Saya tidak setuju Gus Dur berdekatan dengan Inul waktu itu. Tapi saya menghargai caranya berusaha merangkul seluruh kalangan masyarakat Indonesia tanpa pandang bulu.

Kalaupun banyak beredar anggapan Quraish Shihah itu agen syiah, liberal, sesat dsb, saya masih memilih untuk menyimak dan membaca karyanya yang sekiranya tidak bermain di ranah akidah. Mengambil yang baik dan meninggalkan apa yang mungkin kita anggap tidak baik. Toh itu masih gosip fasik yang tak sepantasnya kita percaya begitu saja. Jika setitik nila itu ibarat tahi cicak, boleh lah kita ambil dan sisihkan, lantas sekolam besar susunya yang tidak berubah dzat, warna, rasa, bisa kita cicipi nikmat dan manfaatnya. Begitu kira-kira.

Ya Allah, pertama kali saya menulis ini 14 Juli lalu dengan terisak. Bergetar hati menyimak nasehat ulama, seraya nelangsa melihat kita masih saja berpecah belah akibat perbedaan pemahaman.

Ya ghofur ya rohim, ya ‘alim.. Kami mohon hidayahMu kepada kami. Semoga kami dapat melihat segala sesuatu dengan hati yang jernih, dengan akal yang sehat dan dasar ilmu yang kuat. Aamiin. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: