Inilah Sejarah Singkat Keturunan Rasulullah SAW di Indonesia

Selasa, 23 Mei 2017

ISLAMNUSANTARA.COM  – Nabi Muhammad SAW dikaruniai keturunan 7 anak, 3 laki-laki dan 4 prempuan, yaitu Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zaenab, Ruqoiyah, ummu kultsum, dan Fathimah Azzahra. Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk Keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka” (HR.Imam Ahmad)

Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Saayidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini lahir para anak cucuk Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, Sayyid, dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan, yaitu sering disebut dengan al-hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.

The Keturunan Sayyidina Hussein Sayyidina Hussein, meninggal di Karbala, dia memiliki enam anak laki-laki dan 3 perempuan, yang ali akbar, Ali, ali ashghar awsat, Abdullah, Muhammad, Zainab, jakfar, sakinah dan fatima. Putra Sayyidina Secara keseluruhan meninggal dengan pengecualian dari al awsat atau umumnya dikenal sebagai imam ‘Ali Zainal Abidin, mempunyai anak bernama Muhammad Al-Baqir, yang mempunyai anak bernama ja’ far Ash-Shadiq yang menjadi guru daripada Imam Hanafi, yang kemudian Imam Hanafi ini punya siswa Imam Maliki, Imam Mazhab Maliki memiliki murid Imam Syafi ‘i dan Imam Syafi’ i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal.

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H, Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi. Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-nagieb memiliki putra isa arumi dan memiliki putra ahmad al muhajir.

Ahmad bin Isa al-muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

– pindah ke Hadramaut karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang turun-menurun berlanjut untuk memimpin umat Islam, sehingga rasa ketidakpuasan di antara manusia. Hasil dari kepemimpinan diktator, banyak muslim berhijrah, menjauhi pusat pemerintah kalender dan kemudian menetap di Hadramaut, Yaman.

Warga Khususnya Hadramaut Yaman akan menjadi penduduk asli dari qabilah qahthan, pertama bukan bodoh dan menjadi ilmu yang dikenal dan berjalan di atas kebenaran. Al-Imam Al-Muhajir dan berhasil untuk anak-anak-nya yang telah Hadramaut masyarakat memahami khawarijme dengan moral dan pemahaman yang baik.

Para sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India. Diantara yang hijrah ke India adalah syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor dr. Hamka, karena aku telah begitu banyak keagungan keturunannya Hasan dan Husain yang datang ke Indonesia, ini adalah tanah air kita. Sejak dari Semenanjung Malaya terakhir pulau di Indonesia dan Filipina. Apakah harus mengakui, banyak layanan dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Asia Tenggara ini. Menyebarkan Islam dan pembangun dalam kerajaan ISLAM BANTEN DAN CIREBON ADALAH SYARIF HIDAYATULLAH YANG LAHIR DI ACEH. Syarif kebungsuan tercatat sebagai menyebarkan Islam di mindanau dan sulu. Setelah semua laki-laki keturunan iskandar muda mahkota alam, pernah kaum sayyid keluarga jamalullail menjadi raja di aceh. Pontianak tanah setelah diperintah oleh Sayyid Al-Gadri. Siak oleh keluarga dari Sayyid bin Shahab. Perlis (Malaysia) dan dirajai didominasi oleh kaum Sayyid Jamalullail. Kekuasaan Yang Besar III Malaysia, Sayyid Pangeran adalah raja dari perlis. Gubernur Kuching nomor tiga, Tuhanku haji bujang berasal dari keluarga al-Aydrus.

Sayyid yang posisi di negara ini adalah pewaris yang menyebabkan mereka memiliki anak-anak di negara di mana mereka berada. Kebanyakan mereka menjadi ulama dan ada juga sebuah perdagangan. Mereka datang dari Hadramaut keturunan Imam Isa Al-Muhajir dan al-Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang ke sini dari keluarga yang berbeda. Kita tahu bahwa banyak dari mereka dari keluarga as-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, bin Sheikh Abubakar, Al-Habsyi, bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, bin Smith, jamalullail, assiry, Al-Aidid . Al Jufri, bin Syahab, Al-Qadri, albar, Al-Mussawa, gathmir, bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zhahir, basyaiban, ba ‘ Abud, bin Yahya dan lain-lain.

Orang-Orang Saudi khususnya Hadramaut mulai datang di massa untuk Asia Tenggara dalam 18 tahun terakhir, sedangkan orang di pantai malabar pergi lebih awal. Pemberhentian pertama adalah di aceh. Dari sana, mereka tidak akan pergi ke kota pontianak. Mulai banyak orang arab yang menetap di jawa setelah tahun 1820 ad, dan qabilah-qabilah mereka baru saja tiba di timur monarchies, di jangkauan dalam 1870 iklan. Singapura dengan pendudukan Inggris di tahun 1819 ad dan kemajuan besar di bidang membuat perdagangan kota aceh menggantikan posisi sebagai yang pertama berhenti dan Center Point Imigrasi Bangsa Arab. Sejak perkembangan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, tapi aku sudah tidak penting lagi..

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur. qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab, Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: