Inilah Tanda Diterima atau Ditolaknya Puasa Seorang Muslim

Minggu, 18 Juni 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jember – Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember Kiai MN Harisudin menyampaikan ceramah tentang penerimaan ibadah puasa. Sejumlah pertanyaan mengawali ceramahnya, menrut beliau, sebagian Muslim punya kegelisahan. Apakah puasanya yang bertahun-tahun lamanya diterima oleh Allah SWT? Bagaimana juga cara ia tahu kalau puasa Ramadhan mereka diterima oleh Allah SWT?

Demikian pembukaan ceramah Kiai MN Harisudin di hadapan sekitar 150 jamaah masjid Nurul Falah Perumahan Pondok Gede, Jember, Ahad (18/6). Ceramah yang berlangsung gayeng ini dimulai setelah sholat shubuh hingga waktu isyraq.

Menurut Kiai MN Harisudin, penerimaan puasa seseorang bisa diketahui dari peningkatan kebaikan seorang Muslim yang bersangkutan.

“Kalau setelah Ramadhan ini tambah baik, maka itu indikasi puasanya diterima. Misalnya, dia tambah rajin bersedekah, tambah rajin ke masjid, tambah sayang kepada keluarga, dan seterusnya. Ini indikasi kalau puasanya diterima Allah SWT,” kata Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur.

Mafhum mukhalafahnya, kalau orangnya tidak bertambah baik, maka tentu demikian ini menjadi indikasi amal ibada puasa masih belum diterima oleh Allah SWT sehingga perlu ditingkatkan dan ditingkatkan lagi.

Ia mengutip kata-kata mutiara Ibnu Athaillah As-Iskandari dalam Kitab Al-Hikam, “Man wajada tsamrata amalihi ajilan fahuwa dalilun ala qabulihi ‘ajilan.” Artinya, “Barangsiapa mendapatkan buah amalnya di dunia, maka itu menjadi petunjuk diterima amalnya di akhirat.”

“Jadi kalau orang setelah puasa, setelah ibadah haji, atau umrah, tambah baik, maka itu tandanya puasa nya diterima oleh Allah SWT,” kata Kiai MN Harisudin.

Untuk menuju amal yang terima ini, lanjut salah seorang pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember ini, seseorang harus meningkatkan kualitas amalnya.

Selain dipandu dengan ilmu, amalnya juga harus dibersihkan dari sifat riya (pamer), ujub, merasa paling saleh. Sebaliknya, amalnya dilakukan semata-mata karena Allah SWT. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: