INNALILLAH.. KH Abdurrahman Utsman, Menantu Mbah Hasyim Asy’ari Meninggal Dunia

17 Februari 2016,

JOMBANG, ISLAMNUSANTARA.COM – Seorang ulama dan pedekar kembali dipanggil Allah menuju ke haribaan-Nya. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. KH Abdurrahman Utsman, salah satu tokoh pendiri perguruan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa dan mantan Ketua PCNU Kabupaten Jombang meninggal dunia di RSUD Jombang, Jawa Timur, Rabu (17/2), pukul 02.30 WIB.

Pemakaman 3Menurut informasi, beliau sempat tujuh hari dirawat di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya untuk melanjutkan kemoterapi yang ke-2 setelah sebelumnya divonis menderita tumor empedu. Jenazah kiai kelahiran 15 Juli 1949 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur ini sebelumnya disemayamkan di rumah duka Jalan Garuda Nomor 1 Tambakberas, dan telah dimakamkam di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar sekitar pukul 11.00 WIB tadi.

Pemakaman 1“InsyaAllah jam 11 akan dimakamkan di Pesantren (Manba’ul Ma’arif) Denanyar,” kata slaah satu putra beliau, H. Aizuddin Abdurrahman atau yang sering dipanggil Gus Aiz, mantan ketua umum PP. PSNU Pagar Nusa yang kini menjadi salah satu ketua PBNU, seperti keterangan yang diperoleh wartawan kami  yang berada di rumah duka tadi pagi sebelum pemakamkanan.

Abdurrahman Utsman merupakan suami Nyai Hj. Khodijah binti Hasyim putri pasangan Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asyari dan Nyai Hj. Masruroh, . Dalam pernikahan tersebut dikaruniai empat orang anak, salah satunya adalah Gus Aizuddin Abdurrahman.

Selain itu beliau juga memiliki tiga anak tiri dari pernikahan Bu Khod yang sebelumnya dengan KH. Ahmad Hadzik, yaitu Gus Ishomuddin (Alm), Gus Fahmi Amrullah, dan Gus Zakki. Sepeninggal Bu Khod, panggilan Nyai Hj. Khodijah, beliau menikah lagi dengan Hj. Luluk Muashomah, cucu KH. Bisri Syansuri Denanyar.

Pak Dur, sapaan familier beliau, merupakan lurah Pondok Pesantren Tebuireng ketika akhir tahun 1985 sampai awal tahun 1986. Ketika itu, para pendekar NU dari beberapa perguruan silat sepakat menggelar pertemuan di Tebuireng, Jombang. KH. Syamsuri Badawi saat itu dianggap sebagai sesepuh. KH Yusuf Hasyim mengutus Pak Dur untuk memfasilitasi rencana pertemuan tersebut. Saat itu para pendekar Tebuireng yang tergabung dalam perguruan silat Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat (NH Perkasya) yang digawangi oleh KH. Lamro Azhari juga turut menjadi unsur berpengaruh dalam pertemuan itu.Pemakaman 2

Pertemuan perdana dilaksanakan di Pondok Pesantren al-Masruriyah yang beliau asuh saat itu bersama sang Istri. Pertemuan kemudian dilanjutkan di belakang perpustakaan untuk mendirikan organisasi pencak silat NU, yang terdiri dari beberapa perguruan. Hasilnya disampaikan kepada KH. Maksum Jauhari Lirboyo. Pertemuan itu menjadi tonggak bagi pertemuan-pertemuan berikutnya hingga Pagar Nusa berdiri sebagai wadah pendekar NU dari berbagai perguruan, bukan sebuah perguruan. Namun pada perkembangannya, Pagar Nusa yang awalnya hanya perkumpulan pendekar NU berubah menjadi sebuah perguruan sendiri, dengan perguruan Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa. (ISNU)

Sumber: Tebuireng.org

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: