Islam Agama Penuh Perdamaian

Senin, 24 September 2018

ISLAMNUSANTARA.COM – Islam merupakan agama yang rahmatan lil‘alamin, itu artinya agama Islam bukan hanya untuk orang Islam tetapi untuk seluruh alam. Agama Islam mengajarkan rasa kasih sayang terhadap sesama dan terhadap semua hal. Oleh kareta itu Islam mengaturnya menjadi tiga bagian, yang pertama mengatur hubungan orang Islam dengan tuhannya, atau yang sering kita dengar dengan istilah Hablum Minallah. Yang kedua mengatur hubungan manusia dengan manusia, atau yang sering kita kenal dengan istilah Hablum Minannas, dan yang ketiga Islam mengatur hubungan antar manusia dengan alam. Itulah Islam yang kaffah, Islam yang sempurna. Tiada hal yang tidak ada aturanya dan pembahasanya dalam Islam. Oleh karena itu Islam itu indah, Islam itu damai.

    Kalau kita pahami Islam dengan cara pandang logika tanpa unsur politik dan kekuasaan bahwa setiap agama itu mengajarkan kasih sayang terhadap sesama, tiada agama yang mengajarkan untuk berbuat kejahatan atau mengajarkan teroris. Begitupun dengan Islam agama selalu mengajarkan kasih sayang terhadap sesama bukan agama yang mengajarkan teroris atau apapun itu yang berkonotasi dengan kejahatan. Islam adalah agama yang paling sempurna dalam konsep dan aturanya untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah kenapa banyak negara Islam yang terkesan jauh tertinggal dari pada negara barat..? jawabanya adalah satu karena umat Islam kurang bisa mengaplikasikan konsep Islam yang sudah sangat sempurna sedangkan negara barat yang bukan Islam malah dengan jelas mengaplikasikan konsep Islam yang sudah sempurna itulah yang membuat agama Islam terkesan tertinggal dari negara barat. Hal ini sesuai dengan global economy journal vol 10 issue 2 tahun 2010 yang menyatakan bahwa enam puluh dua urutan teratas dari negara dunia yang mengaplikasikan konsep Islam malah bukan dari negara Islam melainkan dari negara barat kecuali negara malaysia dan kuwait yang menemapati urutan ke tiga puluh delapan dan empat puluh delapan. Dari sini sudah jelas bahwa negara maju banyak yang mengaplikasikan konsep Islam yang sangat sempurna.

      Dan kalaupun kita pahami Islam dengan cara politik dan kekuasaan Islam adalah agama yang selalu menerapkan keadilan, selalu mengedapankan cara damai dan tiada cara kekerasan dalam berinteraksi. sebagai dengan jelas termaktub dalam bukunya ilmuan Islam yaitu Imam Mawardi yang berjudul Al Ahkam Assultoniyah. Sebagaimana contoh ilmuan Indonesia yang ‘alim dan jenius yaitu Imam Nawawi Al Bantani setelah kepulangannya dari Negeri Hijaz ingin menyebarkan agama Islam kampung halamanya, yaitu Banten. beliau mengajarkan Islam dengan carai damai tapi apa, kaum kompeni merasa terusik dengan cara Imam Nawawi mengajarkan Islam. Cara damai aja terusik. Kemudian utusan dari kompeni meminta Imam Nawawi untuk berdakwah dibawah kekuasaan kompeni. Tetapi beliau menolak permintaan itu. Karena beliau ingin berdakwah dan menyebarkan agama Islam itu secara kaffah tanpa bayang-bayang kekuasaan. Bagaimanapun Islam harus diajarkan secara kaffah tanpa bayang-bayang kekuasaan kompeni itulah pemikiran Imam Nawawi. Alhasil beliau meninggalkan kota Banten dan bertolak menuju Negeri Hijaz. Dengan tinggal disana beliau malah bisa mengajarkan agama Islam secara kaffah dan mengkader ilmuan nusantara untuk menyebarkan Islam dinusantara secara masih dan terstruktur.

     Keberadaan Imam Nawawi di Negeri Hijaz yang mempunyai pengaruh kuatpun membuat para kaum kompeni merasa terusik, oleh karena itu kaum kompeni mengutus seorang orientalis untuk pergi ke Negeri Hijaz dia adalah C. Snouch Hurgronje untuk mengawasi pergerakan Imam Nawawi dan memata-matai ilmuan nusantara di Negeri Hijaz. Untuk memudahkan misinya C. Snouch Hurgronje pura-pura masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul Ghoffar.

       Mungkin C Snouch Hurgronje lah yang membuat citra Islam seakan-akan sebagai negara teroris bukan sebagai negara yang damai. C. Snouch Hurgronje  selalu menggencarkan pemikiran pemikiran yang memojokan Islam. Hal ini termaktub dalam bukunya Nederland En De Islam. C. Snouch Hurgronje menyatakan “opvoeding en onderwijs zijn in staat de moslems van het islamstesel te emanciperen” artinya pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan kaum muslim dari genggaman Islam. Itulah sebabnya para kaum orientalis dan kompeni selalu mengaburkan dan memutar balikan informasi sejarah bangsa indonesia dan juga memalsukan buku-buku para ilmuan muslim sehingga pemahaman orang muslim sesuai dengan pemikiran para kompeni dan pada akhirnya lepas dari genggaman Islam.

       Diceritakan bahwa C Snouch Hurgronje mempunyai kawan dinegeri belanda yang merupakan direktur pengajaran kementrian pengajaran dan kerajinan belanda yaitu Mr. J.H Abendanon. Ia adalah lawan diskusi R.A Kartini melalui korespondensi. Dalam korespondensinya ia bercerita bahwa Islam adalah negara yang memandang rendah kaum wanita, negara yang penuh dengan peperangan dan kekerasan tiada kedamaian dalam islam. Sedangkan eropa adalah sebuah benua yang penuh dengan kedamaian dan penuh dengan keindahan. Pada awalnya R.A Kartini sempat terbawa dengan pemikiran Mr. J.H Abendanon makanya ia sempat tergiur untuk hidup dieropa. Namun lain halnya ketika R.A Kartini mendengarkan ceramah tentang tafsir surat al fatihah yang disampaikan oleh sahabatnya Imam Nawawi Al Bantani yaitu KH Sholeh Darat dari Semarang. akhirnya R.A Kartini mendapat pencerahan tentang Islam dan pada akhirnya lahirlah kata-kata indah dari beliau HABIS GELAP TERBITLAH TERANG yang terinspirasi dari surat Al Baqoroh ayat 257 yang ia pelajari melalui buku tafsir alquran karangan KH Sholeh darat yang berjudul Faidhur Rahman.

Dari beberapa contoh kejadian diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa: (1) Islam adalah agama yang damai tapi para orientalis dan kompenilah yang merekayasa informasi dan berita untuk memojokan islam.. (2) Banyak para orientalis yang mengadu domba umat islam untuk menguasi ekonomi dan politik dunia, (3) Banyak negara barat yang maju karena mengaplikasikan konsep islam, (4) Banyak pengaburan dan rekayasa sejarah yang dibuat oleh para kaum orientalis supaya para generasi mendatang tidak tau bagaimana sejarah negaranya. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan