Islam Agama Penuh Perdamaian

Selasa, 11 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Islam merupakan agama yang penuh dengan perdamaian. Di dalam kitab suci Al-Qur’an sangat jelas terekam pesan-pesan persaudaraan atas nama cinta dan kemanusiaan. Persaudaraan meniscayakan adanya kepedulian, tolong-menolong (at-ta’awun), dan perdamaian. Karena itu, Islam sangat menganjurkan agar umatnya mempererat tali ukhuwah sekaligus juga menebarkan kebaikan kepada umat lain dengan penuh kasih sayang.

Membangun persaudaraan merupakan suatu kewajiban. Persaudaraan dengan siapa pun saja. Karena dengan begitu, kita bisa saling menasehati, tentunya dalam hal kebajikan. Hadis nabi yang menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, adalah ajaran yang mensyaratkan adanya persaudaraan. Sebab, kita tidak mungkin mencintai orang lain jika dalam hati tak ada spirit persaudaraan. Dan persaudaraan dibangun salah satunya melalui cinta dan kasih sayang.

Nilai-nilai inilah yang harus kita teguhkan di tengah realitas perpecahan umat yang sampai saat ini masih terjadi. Kebanyakan di antara manusia lebih suka hidup tercerai-berai daripada rukun dan damai. Antarsatu sama lain saling menaruh curiga, iri dengki, mencela, menghasut, dan sebagainya. Bagaimana mungkin mereka saling menyayangi dan mencintai jika spirit persaudaraan yang ada telah luntur? Bagaimana antarsatu sama lain dapat membangun perdamaian jika iri dengki sudah tertanam kuat pada diri masing-masing manusia? Bagaimana mungkin mereka dapat hidup dengan penuh kebahagiaan jika yang dilakukan ialah saling memfitnah dan menebar kebencian?

Dalam konteks inilah ajaran-ajaran hidup Rasulullah, khususnya yang berkaitan dengan upaya membangun tali persaudaraan, penting kita teladani. Rasulullah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana persaudaraan itu dibangun tanpa melihat perbedaan suku, ras, golongan bahkan perbedaan agama sekalipun. Bagi Rasulullah, semua manusia itu bersaudara. Karena bersaudara, maka kita wajib mencintai dan menolongnya.

Penghargaan Rasulullah kepada orang-orang Nasrani, mislanya, membuktikan bahwa beliau adalah sosok yang betul-betul menginginkan persaudaraan dan perdamaian. Rasulullah sangat mencintai mereka sebagaimana beliau juga mencintai dirinya dan pengikutnya sendiri. Walaupun berbeda keyakinan, Rasulullah tidak membeda-bedakan dan bahkan tidak memprioritaskan di antara mereka untuk disantuni. Hati beliau betul-betul lapang menerima segala perbedaan.

Kita harus banyak mengambil pelajaran dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Sebab, jika kita hidup di dunia ini masih selalu mempersoalkan perbedaan-perbedaan, maka rahmat Tuhan tidak akan tercurahkan. Bukankah perbedaan itu adalah rahmat, dan Tuhan sendiri menginginkan hamba-hamba-Nya hidup dalam kerukunan dan perdamaian?

Hati kita memang harus selalu dilatih untuk arif dalam menerima segala bentuk perbedaan. Sebab konflik sosial atau bahkan perang yang terjadi di mana-mana seringkali dilatarbelakangi oleh kecenderungan masing-masing manusia yang tidak memahami hakikat perbedaan. Sehingga siapa pun yang berbeda dengan diri atau kelompoknya maka harus disingkirkan dan tidak dianggap sebagai saudara.

Rasulullah adalah seorang pemimpin besar yang menjadi rujukan umat manusia. Bahan, dalam buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Michael Hart menempatan Rasulullah di urutan teratas. Kepemimpinan sekaligus kepribadian Rasulullah memang sangat menkajubkan dan menjadi teladan paling sempurna.

Karena kebenaran berpendar di mana-mana, maka tentu saja hati kita harus dilatih untuk menangkap pesan-pesan kebenaran-Nya yang bertebaran di mana saja. Seseorang yang mampu memungut kebenaran di mana-mana, maka sikap-sikap berupa kesantunan, keadilan, kepedulian dan mengayomi kepada siapa pun saja adalah karakter dari kepemimpinannya. Bahkan beliau sanggup menjalin hubungan sosial dengan siapa pun, tak pandang agama, golongan, musuh atau siapa pun. Bagi beliau, bersikap ramah adalah kewajiban setiap manusia yang hidup di dunia.

Perdamaian Kemanusiaan

Ketika umat-umat yang berbeda bisa hidup berdampingan dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka perdamaian atas nama kemanusiaan bisa diwujudkan.  Masing-masing di antara kita akan menyadari sepenuh hati bahwa keberadaan agama hanyalah instrumen untuk menangkap pesan-pesan suci Tuhan.

Sehingga dengan demikian, perbedaan tidak akan menjadi dinding pembatas untuk saling mengasihi dan menyayangi. Bukankah Nabi pernah bersabda, bahwa adanya perbedaan itu sejatinya adalah rahmat? Karena itu, hidup yang didasari semangat cinta dan kasih sayang tentu akan memunculkan jutaan inspirasi untuk bersama-sama membangun komitmen, merumuskan kerja-kerja sosial, dan hal-hal lainnya yang bersifat positif bagi keberlangsungan hidup umat manusia. (ISNU)

Ditulis oleh Ahmad Fathoni Fauzan, pengamat Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: