Islam di Asia Tenggara Sarat Harmoni dan Perdamaian

bab-5-kegemilangan-melaka-640x420

ilustrasi

Kamis, 10 Desember 2015

ISLAMNUSANTARA.COM – Kendati secara geografis kawasan ini terletak di pinggiran dunia Islam, Islam di Asia Tenggara sama sekali bukan tradisi pinggiran dalam sejarah peradaban Islam. Negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar tidak terdapat di Timur Tengah, tetapi di wilayah ini. Ekspresi Islam di Asia Tenggara tampil dengan karakteristik khas yang tidak bisa ditemui di kawasan-kawasan dunia Islam yang lain.

Taufik Abdullah dan Sharon Shiddique dalam Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, menjelaskan daya tarik Islam Asia Tenggara.

Asia Tenggara tidak sekadar tempat bagi agama besar dunia–Islam, Buddha, Kristen, dan Hindu–tetapi juga penyebarannya sedemikian rupa sehingga ikatan-ikatan yang mempersatukan pengikutnya dapat mengaburkan sekaligus menegaskan batas-batas perbedaan politis dan teritorial.

Dalam masalah ini, kasus Islam adalah yang paling menarik, mengingat para pengikutnya terdapat di hampir semua negara Asia Tenggara dalam jumlah yang besar dan di antara beberapa negara menembus batas-batas politik yang menghalanginya.

Pada awalnya, banyak kajian Islam cenderung menafikan keberadaan Islam di kawasan ini. Menurut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nuantara Abad XVII dan XVIII, fenomena tersebut terjadi karena beberapa alasan.

Pertama, jauhnya wilayah ini dari pusat perkembangan Islam di Timur Tengah. Dalam kajian para orientalis lama, posisi geografis Asia Tenggara membuat wilayah ini disebut Islamique peripherique (Islam pinggiran), berlawanan dengan Timur Tengah yang disebut Islamic core (wilayah inti).

Kedua, sumber-sumber lokal, baik peninggalan tertulis maupun lisan, cenderung diabaikan dan kurang dipercaya sebagai sumber sejarah. Para sarjana Barat menaruh skeptisisme terhadap penggunaan sumber- sumber lokal tentang Islam. Ketiga, realitas keragaman sosial budaya yang ditemui Islam. Islam Asia Tenggara sering dianggap tidak murni karena bercampur dengan praktik syirik, takhayul, dan bid\’ah.

Anggapan itu mendapat kritik dari banyak sarjana, baik sarjana Barat maupun Asia Tenggara. Azra menyebut kehadiran kolonialisme di kawasan ini turut bertanggung jawab atas terciptanya pandangan tersebut. Orientalis dan kolonialis menciptakan berbagai distorsi tentang Islam yang dalam kajian para orientalis paradigma itu justru terus diabadikan.

Islamisasi Sejarah awal dan perkembangan Islam di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari hubungan kawasan ini dengan dunia luar, seperti Arab, Persia, India, dan Cina. Asia Tenggara adalah melting pot, tempat pertemuan berbagai kebudayaan.

Jalur Sutra yang melewati kawasan ini membuat arus perniagaan berkembang pesat. Catatan menunjukkan, masyarakat Asia Tenggara telah menjalin hubungan dengan Saudi Arabia, jauh sebelum kedatangan Islam.

Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam, A History of the Propagation of the Muslim Faith memperkirakan Islam telah dibawa oleh pedagang Arab pada awal abad pertama Hijriyah. Ada banyak referensi yang mencatat hubungan dagang antara Timur dan dunia Arab telah berlangsung intensif sejak abad-abad pertama Masehi. Proses penyebaran dilakukan lewat jalur perdagangan, perkawinan, politik, dan sufisme. Kendati demikian, pendapat itu tidak final.

Terdapat perdebatan mengenai kapan dan siapa yang membawa Islam ke kawasan ini. Perdebatan tersebut melibatkan para sarjana dari dalam dan luar negeri, seperti Snouck Hurgronje, Syed Naquib al-Attas, A Hasjmy, Azyumardi Azra, Hamka, Uka Tjandrasasmita, dan sebagainya.

Salah satu teori mengatakan Islam dibawa oleh utusan Syarif Makkah dari Arab pada abad ke-7 M, sementara teori lain menyebut Islam dibawa oleh para pedagang dari India, Gujarat, Persia, atau Cina. Dapat dipahami bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara bersifat gradual dan bisa jadi tidak dilakukan oleh satu aktor tunggal.

Selat Malaka merupakan pintu masuk kapal-kapal dari berbagai negara. Dari Selat Malaka dan pesisir Sumatra, Islam mulai berkembang di Asia Tenggara.

Jalur perdagangan membawa para saudagar Muslim ke Semenanjung Melayu, Johor, Perlak, Cirebon, Gresik, dan Kalimantan Barat.

Pada waktu berikutnya, pedagang masuk ke Indonesia Timur, seperti Maluku, Ternate, dan Tidore. Seperti dicatat Syed M Naquib al-Attas dalam Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu mengatakan, proses masuknya Islam ke Melayu-Nusantara berlangsung damai (penetration pacifique).

Dijelaskan Taufik Abdullah (ed.) dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang dari Arab sampai Cina melalui Selat Malaka juga melewati Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam.

Menurut Selasilah atau Tersilah Brunei, raja pertama Brunei yang memeluk Islam adalah Alang Betatar dengan gelar Sultan Muhammad pada awal abad ke-15. Islam telah ditemukan di kawasan ini sejak abad ke-11. Etnis Muslim Cham yang kemudian tersebar di Vietnam, Kamboja, dan Thailand telah mendapat pengaruh Islam sebelum abad ke-15 M.

Jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra Pasai, Malaka, dan Brunei juga tidak terpisahkan dari Filipina Selatan. Menurut Hikayat Sulu, mubaligh yang pertama kali datang ke wilayah ini adalah Syekh Karim Makhdum. Ia tiba di Kepulauan Sulu dan Jolo pada 1380 M.

Setelah itu, banyak pedagang dan ulama yang mengikuti jejak Syeikh Makhdum. Mereka berdiam di sana dan mengajarkan Islam kepada penduduk setempat.

Filipina juga pernah menjadi bagian dari Kesultanan Brunei pada abad ke-15. Islam di tempat ini semakin kuat berkat kedatangan pedagang Muslim dari Jolo, Mindanao, Malaysia, dan Indonesia.

Gelombang penyebaran Islam semakin mantap pada abad ke-12 M. Menurut Azra, Islamisasi massal terjadi pada abad tersebut ketika para guru sufi datang memperkenalkan Islam kepada masyarakat lokal. Khususnya, sejak abad ke-13, Abbasiyah goncang akibat serangan Mongol.

Banyak guru tasawuf menumpang kapal dagang Muslim dari Timur Tengah. Praktik tasawuf ini diperkuat dengan kelompok-kelompok tarekat, seperti Syattariyah, Qadariyah, Naksyabandiyah, Khalwatiah, dan Kubrawiah.

Kenyataan ini secara umum memengaruhi corak Islam setempat. Islam yang berkembang adalah Islam yang bersifat akomodatif (kalau tidak dikatakan sinkretik).

Secara umum, tasawuf lebih mudah diterima sebab ajaran ini dalam beberapa segi mampu menjembatani latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi ajaran Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal. Meski Islam tahap ini sangat diwarnai aspek tasawuf, itu tidak berarti aspek syariah diabaikan sama sekali.

Hal itu terlihat dari sikap para ulama, seperti Nuruddin ar-Raniri dan ketegasan Wali Songo dengan Syekh Siti Jenar yang menganut wahdatul wujud. Kecenderungan ke arah ortodoksi berangsur-angsur semakin kuat mulai abad ke-17.

Proses Islamisasi yang semakin masif juga tidak terlepas dari peran kesultanan. Proses Islamisasi itu bermula ketika raja setempat masuk Islam kemudian diikuti dominasi peranan kerajaan di tengah komunitas Muslim. Kerajaan tidak hanya berfungsi sebagai institusi politik, tetapi juga pembentukan institusi Muslim yang lain, seperti pendidikan dan peradilan.

Kesultanan juga menjadi patron bagi perkembangan intelektualitas dan kebudayaan Islam. Berdasarkan bukti arkeologis, Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Melayu-Nusantara. Kemudian, muncul Kesultanan Malaka, Aceh, Palembang, Riau, Tumasik, Perlak, Johor, Demak, Cirebon, Banten, Goa Tallo, Ternate Tidore, Banjar, dan Bima. Terdapat pula Kesultanan Sulu, Lanao, dan Maguindanao di Filipina, serta Kesultanan Brunei di Brunei Darussalam.

Kolonialisme Pada abad ke-15, kekuatan kolonial mulai masuk ke wilayah Asia Tenggara. Kedatangan bangsa Eropa memutus mata rantai Islamisasi yang belum final. Portugis di wilayah timur Indonesia, Spanyol di Filipina, Inggris di Malaysia, dan Belanda di Indonesia. Di Asia Tenggara, hanya Thailand satu-satunya negara yang tidak pernah berada di bawah pengaruh kolonialisme.

Bila pada masa kesultanan, Anthony Reid menyebutnya the age of commerce, kolonialisme menghancurkan sendi- sendi perekonomian kaum Muslim. Kolonialisme juga menyebabkan runtuhnya atau melemahnya pengaruh kerajaan Islam.

Di sisi lain, konsolidasi masyarakat Muslim mendapatkan momentum pada masa ini. Islam menjadi kekuatan sosial yang merekatkan masyarakat untuk melawan penjajah. Wacana jihad ini diperkenalkan oleh sejumlah ulama, seperti Abdus Samad al-Palimbani dan Daud bin Abdullah al-Pattani.

Azra menambahkan, pada masa ini, kesadaran para ulama untuk melakukan pendidikan dan kegiatan sosial semakin kuat lantaran peran mereka di bidang politik terpinggirkan oleh kekuatan kolonial. Lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren dan tarekat, mengalami pertumbuhan yang sangat fenomenal pada abad ke-19.

Sistem-sistem pendidikan Islam tradisional ini memiliki peran penting dalam mendukung kekuatan antikolonial.

Pemerintah Belanda menaruh ketakutan yang cukup beralasan terhadap kelompok tarekat. Khususnya, terhadap tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah yang memiliki banyak pengikut di nusantara dan tercatat sering menyuarakan perlawanan. Selain itu, Pemerintah Belanda juga berusaha mengontrol lembaga pendidikan Islam melalui Ordonansi Guru 1905.

Komunitas Muslim Asia Tenggara juga ditopang oleh jaringan ulama yang terhubung langsung dengan otoritas terpenting dunia Islam: Makkah-Madinah. Kota suci ini telah menjadi daya tarik orang-orang Jawi sejak awal. Mereka datang untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim menuntut ilmu. Fenomena itu memunculkan ulama-ulama Jawi, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Abdur Rauf Singkel, Abdus Samad al-Palimbani, dan Muhammad Arsyad al-Banjari.

Hal itu juga menciptakan suatu jaringan keilmuan antara ulama Timur Tengah dan Asia Tenggara. Peranan para Ashhab al-Jawiyyin ini sangat penting dalam perkembangan Islam sejak abad ke-17. Tidak hanya mengantarkan Islam Asia Tenggara ke arah yang lebih skripturalistik, tetapi juga membangkitkan intelektualisme Islam. Pada akhir abad ke-19, kemudahan transportasi pascapembukaan Terusan Suez semakin meningkatkan intensitas pelayaran ke Timur Tengah. Kian banyak orang Islam mengadakan perjalanan ke Makkah dan Madinah.

Memasuki awal abad ke-20, gerakan pembaruan Islam mulai masuk ke Asia Tenggara. Gagasan ini dibawa oleh para jamaah haji yang kembali dari Tanah Suci. Wacana modernisme yang diusung Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha juga hadir lewat terbitan-terbitan, seperti al-Manar. Di Indonesia, gagasan modernisme ini memunculkan organisasi-organisasi pembaruan Islam, seperti Muhammadiyah, al-Irsyad, Sarekat Islam, dan Persis.

Pada saat yang sama, ekspansi kaum modernis menjadi faktor terpenting dalam proses konsolidasi ulama tradisional yang kemudian bergabung dalam Nahdlatul Ulama. Memasuki pertengahan abad ke-20, satu per satu negara di Asia Tenggara mendapat kemerdekaan. Pada fase ini, debat alot antara nasionalisme dan Islam menjadi subjek yang tak dapat diabaikan.

(c38, ed: nashih nashrullah)

Islamisasi Asia Tenggara tak bisa terlepas dari kontak kawasan ini dengan dunia luar melalui perdagangan. Asia Tenggara adalah melting pot, tempat pertemuan berbagai kebudayaan.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: