Islam Kebablasan

15 April 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – “Islam agamaku, nomor satu di dunia. Islam benderaku, berkibar di mana-mana. Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana. Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya. Islam sorbanku. Islam sajadahku. Islam kitabku. Tuhan, Islam kah aku?” (kutipan dari puisi Gus Mus).

Di tengah hawa intoleransi yang sedang menyelimuti masyarakat Indonesia, Kyai Mustofa Bishri yang akrab dipanggil Gus Mus ingin memberikan pesan bahwa semangat keberagaman seharusnya menjadi landasan hidup bermasyarakat.

Budaya menyerap kebudayaan luar menjadi tren di Indonesia. Kita lihat bagaimana agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, berkembang di Indonesia. Ini adalah sebuah pesan bahwa kita harus menjaga keberagaman. Menjaga keberagaman itu harga mati dan bagian dari nilai-nilai kemanusiaan.

Bangsa ini dengan suku-suku yang berbeda telah mengarungi kerukunan berabad-abad, dengan persatuan dan nasionalisme yang tinggi. Namun, saat ini fenomena radikalisme, ekstremisme dan intoleran belakangan kembali muncul di tengah masyarakat, makhluk itu menghancurkan kerukunan dan toleransi serta merobek-robek sendi-sendi persatuan.

Islam yang dipahami kelompok-kelompok garis keras, termasuk kelompok teroris dan intoleran merupakan Islam yang kebablasan. Perlu adanya pembenahan dalam dakwah Islam dan pelurusan akidah-akidah Islam. Saat ini ada dua macam orang yang tidak mengerti Islam, pertama tidak mengerti tapi mau belajar, Kedua mengerti tapi tidak mau belajar dan merasa paling mengerti. Kelompok yang kedua inilah yang membuat hancur dan merusak nilai-nilai kebersamaan, toleransi dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena perbuatan sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam, mengakibatkan Islam tidak lagi dianggap sebagai sebuah agama yang membawa rahmat bagi dunia. “Pandangan masyarakat, terutama masyarakat Barat terhadap Islam saat ini sudah semakin buruk. Islam sudah dianggap menjadi momok menakutkan. Padahal, Islam itu agama yang rahmatan lil-alamin, rahmat bagi alam semesta. Maka “Kita harus kembalikan Islam kepada hakikatnya yang bisa menjadi rahmat bagi sesama”.

Menurut hemat penulis, kaum intoleran harus menjadi manusia terlebih dahulu, agar mengenali dirinya dengan segala sisi-sisi kemanusiaannya sehingga mampu memanusiakan orang lain dan tidak menganggap dirinya sendiri yang paling benar.

Mengapa harus menjadi manusia dulu? Apakah selama ini makhluk-makhluk yang seram, kasar, tak punya toleransi bukan manusia? Tentu saja mereka manusia. Namun, mungkin belum menjadi manusia yang mampu menyatu dengan dirinya sendiri. Mereka belum menjadi manusia yang mampu bersikap toleran, tidak mengkavling-kavlingkan akidah dan iman, menggunakan daya nalar bukan nafsu mengkafirkan, serta daya empati untuk mengendalikan nafsu mereguk kenikmatan kedamaian.

Nusantara memerlukan manusia yang mampu mengayomi seluruh etnis dan suku dalam keberagamaan dan keragaman, mempunyai kearifan, dan kompetensi penalaran yang benar, sehingga dalam mengelola islam nusantara dengan santun dan damai. Suara kenabian hampir dapat dipastikan bermakna demikian. Kumandang suara kenabian itu merupakan “Rahmatan Lil Alamiin” yang menjadi spirit keberlangsungan eksistensi manusia sesungguhnya. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: