Islam Nusantara Benteng Ampuh Hadapi Paham Radikal dan Ekstrimisme

Kamis, 21 April 2016

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin mengatakan, kelompok teroris sebenarnya menyandera Islam dan berusaha mengubah wajah Islam menjadi anarkis serta bernuansa terorisme. Hal ini sangat bertentangan dengan Islam rahmatan lil alamin.

Mustasyar PBNU ini melanjutkan bahwa salahnya kelompok teroris terletak pada keinginan menyulap dan memaksakan manusia menjadi malaikat tanpa dosa dan kesalahan. Bid’ah itu adalah ingin membuat Islam melampaui Islam itu sendiri. (Baca: Islam Nusantara Konsep Cerdas NU Perangi Gerakan Radikal)

“Apapun yang menghalalkan kekerasan dalam memajukan Islam, maka itu wajib ditolak,” tuturnya pada pertemuan para dai yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui mitra kerjanya Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta, Rabu (20/4), di Jakarta.

Dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 250 peserta ini, Sekretaris Utama BNPT RI Mayjend TNI R Gautama Wiranegara memaparkan bahwa yang bertanggung jawab dalam aksi terorisme adalah mereka yang memiliki paham radikal dalam menafsirkan agama. “Sudah 15 tahun kita menangani aksi terorisme, sampai sekarang belum juga selesai,” ujar jendral bintang dua ini.

Peran TNI, tambahnya, tidak cukup untuk mencegah terorisme. Menurutnya, harus ada usaha saling bahu-membahu dalam penggulangan radikalisme dan terorisme. Para dai diharapkan dapat memberikan solusi dan kontribusi dalam penanggulangan terorisme, termasuk menekan isu SARA yang mungkin terjadi di Jakarta.

Bid’ah Wahabi

Para penganut ajaran Wahabi benar-benar menjadi ancaman global. Wahabisme yang memaksakan pandangan bahwa orang Islam harus hidup dengan cara yang persis seperti generasi awal Islam di Arab tanpa boleh melakukan penyesuaian zaman dalam hal apa pun, akhirnya bahkan merubah Islam rahmatan lil alamin menjadi Islam yang kejam bagi siapapun.

Hal ini terjadi karena selain karena zaman yang berubah, kapasitas orang sekarang jauh dari kwalitas generasi awal Islam. Justru yang yang terjadi akibat pemaksaan itu menimbulkan kebiadaban di tengah umat manusia. Al Qaeda, ISIS, Boko Haram, Asy Syabaab, Ahrar al-Sham, Jabhat al-Nusra, semua adalah gerakan radikal ekstrim yang menerapkan ajaran Wahabi yang telah menghancurkan peradaban dan menimbulkan penderitaan bagi manusia.

Tidakan teror dilakukan oleh orang-orang yang tidak perduli pada apapun selain dirinya dan kelompoknya, karena mereka telah secara mental terputus atau sengaja memutus hubungan dengan lingkungan sosial-budaya dan kehidupan yang nyata di lingkungan mereka. Mereka mengalami ketercerabutan dari ikatan batin dengan segala sesuatu yang secara nyata berbagi kehidupan dengan mereka. Hal itu bisa terjadi pada orang-orang yang bermigrasi ke tempat atau lingkungan yang asing, kemudian gagal menyesuaikan diri untuk melebur secara sosial dan mental dengan lingkungan baru tersebut.

Masyarakat dunia-pun menghadapi ancaman keamanan yang luar biasa berbahaya setelah dalam sekurang-kurangnya lima puluh tahun terakhir ini, Saudi Arabia dan Qatar dengan sengaja melancarkan strategi Wahabisasi internasional secara besar-besaran. Bibit-bibit ekstrimisme dan terorisme, laksana HIV, telah disebarkan ke seluruh dunia oleh Saudi Arabia dan Qatar. (Baca: Islam Kebablasan)

Pandangan NU tentang Islam Nusantara sebagai paradigma tandingan yang dapat menjadi solusi. Paradigma Islam Nusantara mendorong umat Islam dimana saja untuk menghargai budaya setempat dimana mereka hidup, bertoleransi dengan kelompok manapun yang berbeda, dan mengamalkan agama dengan cara yang tidak merusak harmoni sosial di lingkungan masing-masing tanpa harus mengkompromikan apalagi meninggalkan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Kita memandang Islam bukan sebagai kekuatan yang hadir untuk menaklukkan dunia, melainkan sebagai inspirasi dan kekuatan kontributif untuk memajukan dan menyempurnakan peradaban. Itu sebabnya Islam Nusantara senantiasa menyerukan agar umat Islam mengedepankan akhlaq mulia, kasih-sayang dan rahmat terhadap sesama.

Apabila pandangan-pandangan tersebut disebar-luaskan dan diadopsi oleh komunitas-komunitas Muslim di berbagai belahan dunia, dengan sendirinya ancaman ekstrimisme dan terorisme dapat ditekan. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: