Islam Nusantara Bukan Barang Baru

Rabu 27 Januari 2016
YOGYAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Islam Nusantara itu bukan barang baru. Pada era 80-an dan 90-an sebenarnya Gus Dur telah membahas soal Islam Nusantara. Islam Nusantara telah menjadi landasan filosofi yang telah memiliki pijakan pada tradisi.
Hal itu dipaparkan Nur Kholik Ridwan dalam diskusi dengan tajuk “Islam Nusantara dan Pribumisasi (Antara Madzhab dan Manhaj)”, yang digelar oleh Komunitas Santri Gus Dur Jum’at (22/1/2016).
“Jauh sebelum itu, dari sisi sejarah, Islam Nusantara pondasinya telah dibangun oleh para misionaris Islam di Indonesia. Dan Islam Nusantara itu sarat akan nilai-nilai. Yakni, nilai-nilai yang dikompromikan dengan tradisi yang berkembang di Indonesia yang berkaitan dengan hubungan-hubungan sosial bukan ritual,” kata Ridwan.
Dikutip dari NU Online, Diskusi ini merupakan agenda kajian bulanan Gusdurian Jogja (KBGJ) yang digelar rutin di Pendopo Hijau Yayasan LKiS, Sorowajan, Yogyakarta.
Menurut Ridwan, yang terpenting dari Islam Nusantara, adalah terkait dengan nilai-nilainya. Diantara nilai yang dikembangkan dan menjadi bagian dari pribumisasi Islam adalah nilai-nilai saling menghormati meski berbeda pandangan.
“Meski berbeda pandangan tapi penghormatan terhadap rasa kemanusiaan jangan sampai hilang. Selain itu, nilai-nilai yang selanjutnya adalah nilai kemandirian. Karena dengan memiliki kemandirian kita dapat berdaulat dalam arti yang sesungguhnya,” katanya kepada sedikitnya lima puluh peserta yang kebanyakan para pemuda.
Selain itu, kegiatan diskusi ini juga diselingi dengan peluncuran majalah Santri Gus Dur edisi pertama dengan tema “Pribumisasi Islam”.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: